Tuesday, June 21, 2016

Kepuluaan Seribu...



Menjelajahi KEPULAUAN SERIBU

Kepulauan Seribu, makin hari makin bersinar saja. Sejak Pemda DKI mengembangkan Kepulauan Seribu, daerah banyak pulau ini semakin enak untuk dikunjungi. Infrastruktur penting, seperti dermaga, aliran listrik, ketersediaan air bersih, pedestrian, telah memadai.

Pada akhir pekan, Sabtu pagi, jalur pelayaran ke pulau-pulau utama ramai sekali. Kapal-kapal penumpang dipenuhi oleh wisatawan. Minggu siang, kapal-kapal berpenumpang 100 orang lebih tersebut, kembali mengangkut wisatawan ke Jakarta.

Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Bidarari, Pulau Ondrust, Pulau Kelor, Pulau Untung Jawa, dan Pulau Pramuka, tujuan utama wisatawan. Di setiap pulau wisata dan pulau berpenduduk, dibuatkan dermaga yang cantik dan futuristik.

Ambil saja contoh, Pulau Kelor, dimana ada bekas benteng. Pulau kecil itu dibuatkan dermaga lengkap dengan kanopy berwarna putih. Di tas pulau, ada pos penjaga dan toilet. Ada pula gazebo untuk duduk memandang ke Pulau Bidadari, Pulau Ondrust dan Pulau Cipir. Penunjung bisa mendekati reruntuhan benteng dengan udah. Pulau yang terang benderang, pulau yang bersih, pulau yang segar dipandang mata.

Tentang Kepulauan Seribu

Kabupaten Kepulauan Seribu terdiri dari 110 pulau dan pulau berpenduduk 11 buah dengan luas daratan 8.76 km2 dan luas lautan 6.997,50 km2. Secara administrative terbagi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Kecamatan Kepulaun Seribu Utara, terdiri dari tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Kelapa dan Kelurahan Pulau Harapan. Kecamatan Kepulauan Seribu Utara meliputi 79 pulau. Dari 79 pulau tersebut, 6 pulau yang berpenduduk, yaitu Pulau Panggang, PulauPramuka , Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau Harapan dan Pulau Sebira. Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, terdiri dari tiga kecamatan, yaitu Keluarahan Pulau Tidung, Kelurahan Pulau Pari dan Kelurahan Pulau UntungJawa . Kecematan Kepulauan Seribu Selatan meliputi 31. Dari 31 pulau tersebut, 5 pulau yang berpenduduk yaitu Pulau Payung, Pulau Tidung, Pulau Lancang, Pulau Pari dan Pulau Untung Jawa. (data BPS Kabupaten Kepulauan Seribu, 2014)

Masyarakat Kepulauan Seribu ditandai sebagai masyarakat yang ramah, tegur sapa dan melayani tamu sebagai fitur mereka. Kehidupan yang keras dimana musim sangat mempengaruhi kehidupan mereka, diterima dengan apa adanya. Bulan Desember sampai Februari, bahkan sampai bulan April, merupakan masa-masa sulit bagi masyarakat Kepulauan Seribu karena musim barat, dimana angin kencang dan gelombang tinggi. Mereka tidak bisa beraktivitas, baik menangkap ikan, perdagangan dan aktivitas lainnya. Wisatawan pun tidak ada yang datang. Musim timur pun berpengaruh kehidupan mereka. Alam membuat masyarakat mensiasati kehidupan. Musim barat, berarti masa paceklik, setiap keluarga mempersiapkan diri seperti menyimpan sembako dan bahan bakar. Uniknya, mereka membuat ikan asin untuk kebutuhan lauk pauk selama musim barat. Bila tidak punya uang, toko kelontong memerikan piutang. Hutang dibayar ketika musim barat berlalu. Kearifan alam dan kearifan sosial menjadi khas masyarakat Kepulauan Seribu.

Meski bermukim di kepulauan, tidak semua masyarakat berprofesi sebagai nelayan. Pekerjaan sebagai nelayan, bagai "perjudian" hidup. Biaya yang dikeluarkan melaut, terkadang tidak menutupi. Minimal nelayan mendapatkan ikan 20 kg setiap hari melaut. Mendapatkan ikan 10 kg saja sangat sulit saat ini, terutama masyarakat yang berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Warga banyak yang beralih pekerjaan, misalnya bekerja sebagai buruh serabutan di Jakarta, Tanggerang, buruh gerobak, dan berharap-harap dari kunjungan wisatawan. Sektor wisata harapan baru bagi masyarakat Kepulauan Seribu bagian selatan.

Masyarakat Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, 80 persen menggantungkan hidup sebagai nelayan. Dibandingkankan dengan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, hasil tangkapan di utara relatif lebih baik.

Hasil tangkapan ikan dijual di pulau sendiri, untuk kebutuhan domistik. Jika hasil tangkapan banyak, mereka menjualnya ke Muara Angke atau ke Tanjung Pasir. Hanya saja, nelayan dan masyarakat Kepulauan Seribu, belum mengolah ikan secara maksimal, misalnya mengolahnya menjadi ikan asin, terutama di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan.

Meski sebagai warga DKI, masyarakat Kepulauan Seribu tidak semuanya berurusan ke Jakarta. Lima pulau yang berpenduduk di Kecematan Kepulauan Seribu Selatan yaitu Pulau Payung, Pulau Tidung, Pulau Lancang, Pulau Pari dan Pulau Untung Jawa, berbelanja kebutuhan sehari-hari ke Tanjung Pasir, Tanggerang. Sedangkan enam pulau yang berpenduduk, yaitu Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau Harapan dan Pulau Sebira berbelanja kebutuhan sehari-hari ke Muara Angke.

layanan Kapal

1.Kapal Reguler dari Pelabuhan Muara Angke
Melayani kapal ke Pulau Untung Jawa dan Pulau Pramuka. Jadwal keberangkatan setiap hari jam 07.00.

Malayani semua Pulau. Berangkat jam 07.00
3.Tanjung Pasir, Tanggerang
Melayani kapal penumpang ke Pulau Untung Jawa dan Pulau Pramuka. Berangkat jam 07.00 setiap hari.

1.Dermaga Muara Kamal
2.Dermaga Marina Ancol
3.Dermaga Muara Angke

1.  Demi keamanan, hindari kunjungan pada bulan Desember sampai dengan bulan Maret. Pada masa-masa itu, angin kencang dan disertai hujan.
2. Awasi rute perjalanan dengan GPS. Jika tidak memiliki GPS unit, GPS pada handphone bisa digunakan dengan peta tersedia pada Google Earth, Bing dan Herr. Hal gunanya untuk mencegah rute kapal keluar jalur. Kompas pada handphone dapat digunakan untuk petunjuk arah azimuth. Jika sinyal handphone hilang, rute perjalanan patut dicurigai sebagi keluar dari jalur.
3.  Harga makanan cukup mahal, karena biaya transportasi.
4.  Tidak semua akomodasi tersedia air tawar
5.  ATM hanya bank DKI. (Rizal Bustami)




 Foto-foto tentang Kepulauan Seribu lihat rubrik foto-foto Kepulauan Seribu .


Friday, June 17, 2016

Pemukiman di Taman Nasional Kerinci Seblat...


Ranah Pametik, Kisah “7 Harimau Kerinci”

Pemukiman yang makmur di tengah Taman Nasional Kerinci Seblat, dengan sepeda saya kesana...

Berawal dari bincang-bincang ringan dengan Pak Randa, dimana saya tinggal selama berada di Sungai Penuh. Pak Randa, tinggal di dekat wisata Air Panas Semuruk, 11 km dari pusat kota Sungai Penuh, di ruas jalan Sungai Penuh - Kayu Aro. Berbicaralah Pak Randa, bahwa 7 orang warga Semuruk, pada tahun 1965, meninggalkan kampungnya, mencari lahan pertanian dan pemukiman baru. Nah, pemukiman tersebut, yang dikenal dengan nama Ranah Pametik, sekarang berada di tengah-tengah kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Kawasan Ranah Pametik itu kemudian dikembangkan menjadi tiga desa. Naluri jurnalis saya dan kepekaan akan lingkungan sosial, tersentak seketika, mengingat ada 3 desa berada di tengah kawasan yang dilindungi oleh Undang Undang Negara. Sudah barang tentu, ini menjadi persoalan antara pemukim dengan otoritas kawasan taman nasional. Semangat heroik 7 pemuka masyarakat Semuruk membuka lahan baru – yang berada di tengah-tengah hutan itu, menjadi cerita yang langka dan menarik. Ke 7 pioner tersebut, ditandai dengan lahan persawahan. Hanya 7 orang saja yang memiliki sawah di sana. Karena alasan-alasan itu, maka saya minta kepada Pak Randa untuk mengantarkan saya ke Ranah Pametik. Maka Pak Randa, keesokan harinya, menitipkan saya untuk ikut ke Ranah Pametik itu. Ranah Pametik, lebih kurang 40 km dari kota Sungai Penuh.


Legenda 7 orang perintis Ranah Pamatik dari Semurup
Ranah Pemetik berada di zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat. Di kawasan Ranah Pematik, Kabupaten Kerinci, berkembang menjadi 3 desa, yaitu Desa Pasir Jaya, Desa Lubuk Tabun dan Desa Sungai Kuning.

Pada tahun 60-an, muncullah pemikiran dari sesepuh Semurup, Kerinci, bahwa puluhan tahun ke depan, lahan pertanian dan pemukiman makin menyempit seiring dengan pertumbuhan manusia. Maka tercetuslah untuk mencari lahan baru. Setelah melalui perundingan-perundingan, maka tahun 1965, berangkatlah 13 orang menempuh hutan belantara, yang dilepas secara adat, diantar sempai batas hutan. Akhirnya, pada hari ke 4, ke 13 orang tersebut menemukan suatu lembah datar dengan sumber air melimpah. Setelah membuat patok, hari ke tujuh, 13 orang tersebut kembali ke Semurup.

Lebih kurang tiga bulan kemudian, 7 orang pioner kembali ke lokasi yang sudah ditandai. Ke tujuh orang tersebut membawa peralatan pertanian dan bahan pokok untuk satu bulan bekerja. Sedangkan 6 orang lainnya, tidak tertarik kembali ke Ranah Pametik karena dianggap terlalu jauh, dan berada di tengah hutan lebat.

Kembali ke Ranah Pametik, ke 7 orang tersebut membagi lahan persawahan dan membuat batas kampung. Mereka mendirikan rumah sederhana satu per satu, sampai ke tujuh orang tersebut memiliki rumah sendiri. Rencana awalnya satu bulan, memanjang menjadi tiga bulan. Ke tujuh orang tersebut berpikiran, mereka persiapkan dulu semua, baru mereka pulang ke Semurup untuk menjemput keluarga mereka. Secara bergantian, mereka menjemput keluarga mereka.

“Saya lahir di Ranah Pamatik, di hutan,” ungkap Ibu Randa, istri Pak Randa.
Satu dari 7 orang tersebut, bernama Yanman, masih hidup. Saya tidak dapat menemui orang tua itu, karena dia sedang melakukan umroh di tanah suci.

Selepas dari Sungai Penuh, jalan beraspal naik tajam.  Kemudian jalan menurun tajam, dan naik turun perbukitan. Pemukiman pertama yang dilewati adalah Desa Pungut Mudik. Di Desa Pungut Mudik ini, dimana berkahirnya pelayanan listrik PLN. Sampai batas hutan produksi, jalan masih beraspal. Selanjutnya jalan tanah yang naik – turun perbukitan.

“Kita harus buru-buru, supaya punya teman dijalan. Kalo kita sendiri, tidak ada menolong kita,” kata Pak Irwan (50), dimana saya menumpang mobil pick upnya ke Ranah Pametik.

“Segawat itukah Bang,” tanya saya.

“Tidak. Mudah-mudah tidak hujan. Kalo hujan, jalan tidak bisa dilalui. Kita harus bantu-bantu supaya mobil bila lolos dari jalan berlumpur,” jelas Pak Irwan, yang mengendarai mobil pick up.

Pak Irwan, merupakna putra sulung Dari Pak Yanman. Ketika Ayahnda Pak Irwan merintis kampung di Ranah Pametik, ketika itu ia berusia 4 tahun.

Apa dikawatirkan Pak Irwan benar adanya. Di satu penanjakan, banyak mobil pick up berbaris. Jalan tanah yang berlubang dalam menanti.  Setiap mobil dipasangi rantai pada ban belakang. Mobil pertama yang lolos, membantu menarik mobil dibelakang, sampai semua mobil lolos.


Ranah yang cantik
Tidak salah ke tujuh orang tersebut memilih kawasan ini sebagai pemukiman dan pertanian, meski jauh dari kota. Sebidang kawasan di daratan yang rata, dikelilingi oleh perbukitan serta dilimpahi air yang jernih. Kata warga setempat, sungai yang mengalir ke Ranah Pametik berasal dari Danau Gunung Tujuh. Di kawasan tersebut juga terdapat air terjun yang  belum tersentuh, hanya 1 jam perjalanan dari desa.

Kerja keras para pioner, dan pengikut dibelakangnya, Ranah Pametik berkembang menjadi pertanian yang subur. Hasil buminya adalah padi, kayu manis, kentang, kopi, dan tembakau. Sedangkan padi dan beras, mereka konsumsi sendiri. Padi yang mereka tanam, padi kuno, yang dibawa oleh 7 orang perintis tadi. Padi tersebut bernama Pagi Payo Ranah Pamatik. Masyarakat tidak memperjual belikan beras yang mereka tanam.

Beras Payo Ranah Pametik berusia tanam 1 tahun. Batangnya besar-besar, tingginya sampai 1 meter. Beras Payo Ranah Pamatik berserat halus, sehingga renyah dikunyah. Pernah jenis padi lain, yang berusia pendek ditanam di Ranah Pametik, namun hasilnya tidak baik. Karena itu, warga Ranah Pametik mempertahankan padinya.

“Kami tidak pernah kekurangan makanan disini. Karena itu, kami mempertahankan padi asli disini, yang ditanam oleh leluhur. Begitu cara kami menghormati leluhur,” seorang warga mengungkapkan di warung Ibu Wawan.

Berbincang-bincang tentag Ranah Pametik, bagai mendengarkan legenda. Warga dengan kebanggaan tinggi, antusias bercerita tentang sejarah kawasan ini. Tradisi mereka pegang kokoh. Gotong royong dan menjadi etika kepatutan di junjung tinggi.

Salah satu tradisi yang mereka pegang teguh yaitu, gotong royong menanami sawah dan bersama-sama mendirikan rumah, yang disebut batagak rumah.

Seseorang yang akan mendirikan, akan memberitahukan warga dengan cara mendatangi setiap warga. Warga diundang dengan mempersembahkan hantaran daun siri. Pada hari yang ditentukan, warga berhenti beraktivitas, datang untuk mendirikan rumah. Bukan hanya kaum pria yang datang, kaum wanita juga hadir. Sementara kaum pria ke hutan mencari kayu, membuat papan, balok, kaso, kaum ibu memasak makanan dan minuman. Dalam satu hari, rumah sudah berdiri dan bisa ditempati.

“Warung saya ini contohnya, satu hari saja sudah bisa tempati,” terang Pak Wawan, yang dulu bertani kelapa sawit di daerah lain, memilih bermukim di Ranah Pametik sejak 5 tahun lalu.

Saya salah seorang mendapat undangan untuk melihat batagak rumah. Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan.  

Lingkungan alam Ranah Pametik relatif terjaga dengan baik. Meski ada penjarahan hutan pembukaan hutan, dapat ditangani dengan cepat oleh pihak Taman Nasional. Namun, warga asli Ranah Pametik, menjaga dengan baik lingkungan sekitar. Bagi mereka, lahan pertanian ayang ada sudah cukup untuk menghidupi keluarga mereka, sehingga tidak perlu membuka hutan. Mereka sadar betul, bahwa kawasan dimana mereka tinggal adalah hutan yang dilindungi. “Jika kami perlu kayu, itu hanya untuk membangun rumah, untuk fasilitas umum. Kayu yang kami tebang, kami pilih mana yang aman,” tutur warga.

Dibeberapa tempat, di  kawasan taman nasional, khususnya di zona produksi, sudah beralih fungsi lahan. Saat ini marak ditanami kopi arabica.

Hasil bumi yang melimpah
Buah kerja keras “Tujuh Harimau Kerinci” itu, Ranah Pametik menjadi pemasok hasil bumi penting di Kerinci.  Di mulai dari Desa Sungai Kuning sampai Desa Pungut Mudik, atau lebih kurang 30 km ruas jalan Sungai Penuh – Ranah Pametik, hasil bumi setiap hari yang dibawa ke Sungai Penuh, sebanyak 50 trip kendaraan bermuatan 1 ton. Jadi, dalam sehari, hasil bumi yang dibawa ke Sungai Penuh mencapai 50 ton.

Ketiga desa di Ranah Pametik tidak memiliki akses jalan aspal, tidak memiliki jaringan listri PLN, tidak ada jaringan komunikasi, baik kabel maupun seluler, dan tidak ada  siaran televisi. Sumber penerangan warga, berupa kincir listrik. Setiap kincir listrik, menghasilkan 2000 sampai 3000 watt. Harga satu unit kincir listrik, mencapai Rp. 10.000.000.
Sekolah yang ada, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Ada Puskesmas, tetapi tidak ada tenaga medis.

Warga Ranah Pemetik sangat berharap jalan aspal. Ketika hujan, kendaraan tidak ada yang datang, dan tidak ada pula yang keluar membawa hasil bumi.

“Jika musim hujan, mobil tidak bisa  bawa hasil tani. Selain itu pemilik mobil meminta ongkos tinggi,” jelas Ibu Wawan dimana saya bermalam di warungnya.

Saya rupanya pengunjung satu-satunya yang datang tanpa kepentingan. Kedatangan saya semata hanya untuk melihat langsung peninggalan si “7 Harimau Kerinci” itu. Namun demikian, setiap warga yang temui, mengeluhkan akses jalan dan tidak tersedianya aliran listrik PLN dan tidak terjangkau oleh saluran komunikasi.

Ke Ranah Pametik dari Sungai Penuh, tidak ada transportasi reguler untuk penumpang. Untuk menuju Ranah Pamaetik, menumpang dengan mobil bak. Penumpang tidak dipungut bayaran, namun cukup diberi pengganti bahan bakar secukupnya. Untuk ke Ranah Pematik, menunggu kendaraan di Simpang Tutung antara jam 07.00 sampai jam 11.00.

Saya menjelaskan – sebatas pengetahuan saya, bahwa tidak memungkinkan untuk membangun jalan aspal, dan menyediakan listrik PLN karena Ranah Pametik memasuki kawasan taman nasional. Meski Ranah Pemetik sudah terbentuk dalam pemerintahan desa, dan memiliki hak infrastruktur, namun terbentur kepada Undang Undang yang melindungi kawasan taman nasional. Hanya seizin taman nasional, dalam ini Kementrian Kehutanan, infrastruktur bisa dibuka.

Konon, ketiga desa di Ranah Pametik sudah diakui oleh TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat), artinya, TNKS sudah mengeluarkan ketiga desa tersebut dari kawasan taman nasional. Disebut-sebut oleh warga, bahwa ada surat perjanjian dengan pihak TNKS. Saya berburu data kesalah satu  keluarga Pak Randa, catatan dan surat perjanjian warga Ranah Pametik dengan pihak TNKS sudah raib, karena berkas-berkas tersebut dibuang-dianggap sampah.

Kembali ke Sungai Penuh, saya menggowes sepeda. Berangkat dari Warung Ibu Wawan di Ranah Pametik, sampai di Semuruk jam 19.00. (Rizal Bustami)

 



 


 





Wednesday, April 06, 2016

Heboh Pesisir Jakarta Bagi I


FENOMENA PESISIR JAKARTA, DARI MARUNDA SAMPAI KE KAMAL


Disain Dr.Herri Muin

Ada Kampung Laut di Kamal, ada Kampung “Tak Bertuan” di Angke, Masjid Kuno Luar Batang, sampai Marunda yang Terisolir....
Jakarta adalah  kota yang sudah di “lapuk”. Dari selatan diterjang air bah, dari utara ditumpahi air laut. Warga Jakarta yang “semau gue”, menambah berat kota ini.

Siapun yang menjadi gubernur DKI, Jakarta harus ditata lingkungan alam dan lingkungan sosialnya. Dan, gubernur tersebut harus mempunyai nyali untuk itu. Ahok, Basuki Tjahaja Purnama, rupanya menjadi “ekskutor” dalam banyak hal dalam pembenahan DKI Jakarta. Ahok, bernyali besar untuk itu.

Adalah fakta bahwa dibeberapa tempat daratannya sudah berada di bawah permukaan laut. Supaya Jakarta tidak tergenangi oleh air laut, maka akan dibangun tanggul di sepanjang pantai Jakarta dari Kamal Muara sampai dengan Marunda. Chairul Tanjung, yang ketika itu (2014) mejabat sebagai Menko Perekonomian, meresmikan dimulainya pembangunan tanggul penahan banjir di Rumah Pompa Pluit.

Pekerjaan berikut DKI untuk mengembangkan kota ini yaitu apa yang disebut-sebut sebagai Great Sea Wall atau Giant Sea Wall atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Tentu saja perubahan besar akan ada di bagian utara DKI, dan itu soal menunggu waktu saja. Sementara itu, di pesisir Jakarta, berdiam koloni-koloni masyarakat yang sudah berurat dan berakar. Warga masyarakat yang terdampak langsung oleh pembangunan tanggul tersebut dalah Kamal Muara, Muara Angke, Pluit, Luar Batang, Kali Baru, Cilincing dan Marunda. Sebagaimanakah “perwajahan” koloni-koloni masyarakat di pesisir Jakarta itu?

“Tanah timbul”, menjadi istilah yang – barangkali hanya  populer oleh kalangan masyarakat pesisir. “Tanah timbul”, adalah lahan padat yang dibuat dengan sengaja oleh seseorang, atau sekelompok orang di lahan berair, baik itu di laut, danau, rawa, sungai atau situ.  Suatu kawasan basah, ditimbun dengan berbagai material padat oleh masyarakat. Apa yang disebut “tanah timbul” tersebut, itulah apa yang kita kenal secara generik sebagai reklamasi.

Di “tanah timbul” itu, kemudian seseorang atau sekelompok  orang mendirikan bangunan rumah tinggal. Biasanya, dimulai oleh satu orang, yang kemudian diikuti oleh orang lain, yang lama-kelamaan menjadi koloni dan berubah menjadi perkampungan. Pada kawasan “tanah timbul” – yang sudah menjadi perkampungan itu, diklaim atau diakui oleh individu yang berada disana sebagai miliknya. Fakta inilah yang terjadi di sepanjang pesisir Jakarta, mulai dari Kamal Muara sampai ke Marunda.

Kawasan-kawasan yang diakui oleh masyarakat sebagai “tanah timbul” tersebut, berada di Keluarahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, di Keluarahan Kali Baru, dan Keluarahan Cilincing, Kecamatan Cilincing.

Rintisan “tandah timbul” terjadi rantang waktu tahun 1970-an sampai tahun 90-an. Ketika DKI mengalami perkembangan yang pesat sebagai kota bisnis, kota industri, kota jasa, kota perdagangan, perumahan, kebutuhan lahan menjadi mendesak. “Tanah timbul”, menjadi subjek yang diinginkan untuk dikuasai.

Berada di kawasan yang tidak memiliki status kepemilikan, masyarakat di “tanah timbul” hidup dalam ketidak pastian, sewaktu-waktu mereka bisa terusir dari tanah yang ia bangun sendiri. Klaim sejarah, asal usul tanah, hanya menjadi pengakuan lisan, yang tidak memiliki kekuatan hukum. Akhirnya, mereka menerima kenyataan pahit, kehilangan tempat tinggal, dan hilang pula mata pencaharian.

Itulah yang terjadi di DKI selama ini. Apakah penguasaan “tanah timbul” tersebut akan terjadi lagi, karena masih terdapat dibeberapa kawasan “tanah timbul” di DKI?
Untuk memahami dan mengerti sosial budaya masyakarat pesisir Jakarta, tidak ada suatu refrensi apapun yang ada, ditinjau dari khasanah sosiologi, sejarah atau budaya. Jakarta yang dinamis dan majemuk, masyarakat menjalankan hidup dengan siasat, azaz manfaat dan dengan kegigihan.
Memahami masyarakat pesisir DKI, dilakukan dengan cara mengidentifikasi secara cermat setiap koloni atau perkampungan.

Laporan yang saya buat ini, saya dua bagian. Bagian pertama berupa diskripsi dan analisa yang dilengkapi dengan peta kawasan. Bagian kedua, adalah foto-foto kawasan yang saya potret antara tahun 2015 sampai dengan 2016.

“KAMPUNG LAUT”, Muara Kamal, Kecamatan Penjaringan

Kawasan Kamal Muara



Kegelisahan warga di RW 04, Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, semakin meninggi. Betapa tidak, karena laut yang sedang diuruk menjadi pulau oleh pengembang property swasta semakin mendekati pemukimannya. Warga dicemaskan soal kelangsungan hidupnya, sudahlah mata pencahariannya tercerabut sebagai peternak kerang hijau, ancaman angkat kaki dari rumah yang mereka tempati menghantui mereka pula.



Reklamasi oleh pengembang swasta. Citra Google Earth April 2016

Bagian administrasi Kelurahan Kamal Muara yang berbatasan dengan laut, ada dua Rukun Warga, yaitu RW 01 dan RW 04. RW 04 merupakan pemekaran dari RW 01. RW 04 berada di pesisir pantai.
Warga di RW 01, terdiri dari etnis Banten, Betawi dan Bugis. Sedangkan RW 04, 90 persen adalah etnis Bugis.

Di kedua RW tersebut, tidak ada lagi lahan yang tersisa untuk dibangun rumah. Di RW 04, pendatang baru, atau keluarga baru, membangun rumah diatas permukaan laut.
Masyarakat di kedua RW tersebut, 90 persen beraktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Artinya, mereka secara ekonomis hanya berada di kawasan Kamal Muara. Mata pencaharian mereka adalah sebagai nelayan kerang hijau, perdagangan kecil, jasa transportasi dan jasa wisata.

Diantara RW 01 dan RW 04, RW 04-lah yang terkena dampak langsung oleh pembangunan tanggul laut dan ekses dari pembuatan pulau oleh pihak swasta. RW 04 lokasinya berada di tepi pantai,  terdiri dari 9 RT, dengan jumlah rumah 700 unit dan jumlah KK 780. Status hunian, Sertifikat Hak Guna Bangunan. Namun demikian, 90 persen warga membayar PBB. Pengurus RW 01 dan tokoh masyarakat merasa aman-aman saja. Pengurus RW 01 mengatakan, bahwa lahan yang ditempati oleh warganya sudah hak milik dan pemukiman mereka tidak berhubungan dengan garis pantai.

“KAMPUNG X, Muara Angke, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan 




Kata lusuh sangat tepat diberikan ke kawasan Muara Angke. Dalam sejarah modern Jakarta, Kali Angke sudah menanggung beban yang amat berat. Di muaranya, kapal-kapal penangkap ikan bersedsak-desakkan dan di sepadannya sesak pula dengan gubuk. Akibatnya, sungai menyempit dan terjadi pendangkalan. Kapal dan gubuk-gubuk, menjadi penghambat lajunya air dan tempat berlabuhnya sampah. Sementara itu, Kali Angke merupakan bagian dari Marga Satwa Muara Angke, dimana satunya-satunya kawasan konservasi di DKI daratan.


Kampung "X"


Meski Kali Angke penuh dengan kapal penangkap ikan, mereka buaknlah warga setempat, melainkan berasal dari Indramyu, Tegal, Cirebon, Pekalongan dan dari daerah lainnya. Mereka hanya singgah di Kali Angke, setelah melaut, mereka. menurunkan ikan, lalu mengisi perbekalangan kembali laki ke laut. Sedangkan warung-warung yang berada di bantaran sungai, bukan penduduk tetap disana. Para penghuni, dibagi per kelompok, setiap kelompok berinduk ke RW setempat.

Warung yang ada disana, berperan pula sebagai “pemodal” bagi kapal ikan. Warung memberikan pinjaman  uang, dan memberi hutang untuk bahan bakan bensin, beras, lauk pauk. Hutan dibayar selepas melaut.

Jadi, dikawasan Angke, khusunya Kali Angke, tidak ada  nelayan DKI.

Muara Angke menanggung beban yang amat berat disebabkan multi aktivitas siang dan malam, sebagai pusat bongkar ikan, pelelangan ikan, penyimpanan ikan, pengolahan ikan, dan pemukiman.
Pertumbuhan yang pesat di luar kawasan Muara Angke, yang berkambang manjadi kawasan elitis, sementara Muara Angke masih bertahan dengan kesemerautan dan kekumuhan.

Ada empat aktivitas utama di Muara Angke, yaitu perdagangan ikan segar, pengolahan ikan asin, pengolahan kerang hijau, sebagai tambatan kapal, dan jasa transportasi serta jasa tenaga.
Aktivitas yang secara langsung melibatkan masyarakat pemukim disana, yaitu pengolahan ikan asin dan pengolahan kerang hijau. Pegolahan ikan asin dan pengolahan kerang hijau, melibatkan banyak tenaga kerja.

Pengolahan ikan asing memerlukan lahan terbuka yang luas untuk penjemuran. Usaha pengolahan ikan asin tersebut, 90 persen dikelola olah masyarakat yang berasal dari Indramayu.
Pengolahan kerang hijau, yang juga dikerjakan masyarakat Indramayu, merupakan kegiatan ekonomi sehari-hari warga.

Secara administratif kependudukan, di kawasan Muara Angke terbagi dalam 2 RW, yaitu RW 01 dan RW 11. Dilihat dari luasan pemukiman dan jumlah warga yang menetap, RW di kawasan Angke melebihi dua RW, namun tidak mendapat pengakuan Pemda DKI.

Perkampungan "X", kita namakan saja demikian, karena perkampungan besar tersebut tidak memiliki RW sendiri dan juga tidak memiliki nama kampung. Perkampungan "X" tersebut, secara administratif, bukan bagian dari RW 01 maupun RW 11. Untuk keperluan administratif, Kampung "X", menginduk kepada RW01 atau ke RW11.

Kampung "X", terdiri dari 3 blok, yaitu Blok Empang, Blok Kampung Nelayan, dan Blok Enceng. Blok tersebut dibagi lagi dalam 11 kelompok. Pembagian Kelompok, setingkat RT (Rukun Tetangga). Kesebelas Kelompok dikepalai oleh seorang Kepala Kampung. Kepala Kampung tersebut, setara dengan Ketua Rukun Warga (RW).

Kampung "X" dihuni oleh sekitar 1300 KK. Jumlah rumah dan KK selalu berkembang, karena sewaktu-waktu ada pendatang baru yang bermukim atau warga setempat membentuk keluarga baru dan rumah hunian baru.

Mata pencaharian warga Kampung "X" adalah pengolah kerang hijau, yang dikerjakan oleh kaum wanita. Kaum pria bekerja sebagai pengumpul kerang hijau dan nelayan pancing.
Kampung "X", yang berada di bibir pantai, akan mendapatkan akibat langsung dari pembangunan tanggul laut.

Selain Kampung "X" dimana warganya dianggap sebagai "pemukim liar", terdapat pula di bantaran Kali Angke. Menurut Ketua RW 01, keberadaan pemukiman liar di sepanjang Kali Angke, tidak  sulit jika harus dikosongkan. RW 01 yang bersentuhan langsung dengan pemukim liar, selama ini membina dan mengawasi lingkungan sosial setempat.

Tambatan perahu dan pemukiman liar di Kali Angke menghambat aliran sungai dan sebagai pemyumbat sampah.

Kedua RW diatas, yaitu RW 01 dan RW 11, warganya berstatus menetap dan setiap individu tercatat sebagai penduduk DKI. Kedua RW tersebut, tidak secara langsung bersentuhan dengan aktivitas perdagangan ikan di Muara Angke.

Orang yang mejabat sebagai Kepala Kampung tersebut, adalah Arpani, berusia 70 tahun. Orang pertama, tahun 1976 yang menancapkan sebatang bambu untuk mendirikan pondok di bagian barat Muara Angke. Arpani, adalah "sang pelindung", Abah Arpani adalah "good father" bagi warga yang bermukim di kawasan tersebut.

LUAR BATANG, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, sebagai Situs Batavia

Kawasan Luar Batang, Palabuhan Sunda Kelapa, Meseum Bahari

Di Luar Batang, kawasan Pasar Ikan, terdapat situs sejarah yaitu Menara Pasar Ikan, Meseum Bahari, Pasar Lama Luar Batang, dan situs religi Masjid Luar Batang.

Warga yang bermukim di Luara Batang, berbagai etnis.

Kegiatan ekonomi masyakat setempat, perdagangan dan jasa ojek perahu.
Di kawasan situs sejarah, dikepung oleh pemukiman dan pasar. Pasar tua Luar Batang, sudah tidak berfungsi. Kios-kios yang terdapat di Pasar Luar Batang, berubah fungsi sebagai tempat tinggal.

Posisi Masjid Luar Batang

Sisi pantai Luar Batang sudah diturap, namun demikian, warga yang bermukim disekitar pasar, was-was pada suatu waktu mereka tergusur. Issu bahwa akan dibangun turap besar, sudah diketahui warga.

Kawasan Luar Batang, bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Jakarta, sebagai bandar besar Nusantara.




KALI BARU, Kecamatan Cilincing, Sentra Ikan Asin dan Kayu


Kawasan Kali Baru

Kali Baru merupakan salah satu pelabuhan tertua di Jakarta, selain Pelabuhan Sunda Kelapa. Sampai saat ini, pelabuhan kecil di Kali Baru masih beraktivitas, meski fungsinya sudah berkurang. Secara tradisionil, Kali Baru sebagai pelabuhan kayu.

Kelurahan Kali Baru, merupakan kawasan terluas dan terdapat di pesisir Jakarta. Tiga etnis, yaitu Bugis, Madura, Sumatera Selatan, bermukim turun-temurun di Kali Baru. Tiga etnis perantau yang saling bersaing menguasa kawasan, sampai akhirnya ketiga etnis tersebut hidup damai dan saling berdampingan.

Diantara pemukiman warga, tumbuh dua pusat bisnis, yaitu perdagangan kayu dan ikan asin. Ikan asin dominan oleh keuturuna Bugis, sedangkan kayu dikuasai oleh etnis Sumatera Selatan.
Pada akhirnya, Kali Baru dibebaskan oleh Pelindo, karena lahan tersebut milik Palindo untuk perluasan pelabuhan. Pelabuhan baru Palindo saat ini sedang dalam pembangunan.

Warga menerima penggantian nilai bangunan dengan harga yang layak. Suatu cara penyelesaian Pelindo yang dipuji oleh masyarakat yang terkena penggusuran.

Di Kelurahan Kali Baru yang terkena penggusuran, meliputi 3 RW, yaitu RW 08, RW 09 dan RW 10.
Meski mendapat penggantian yang layak, bagi pedagang kayu dan pedagang ikan asin, mempertanyakan mereka pindah kemana. Perundingan-perundingan masih berlangsung, untuk mencari lokasi yang tepat. Untuk ikan asin, diusulkan beberapa pasar terdekat.

CILINCING, Kecamatan Cilincing, yang Kerap dilanda Pasang

Kawsan Clincing

Muara Cilincing, persisnya di aliran Cakung Drain, atau Sungai Landak, memiliki peran ekonomi yang penting bagi warga setempat karena dari sinilah kebutuhan sehari-hari masyarakat pesisir utara Bekasi dipasok. Kebutuhan pokok, kebutuhan erumah tangga, bahan bakar, diangkut dengan perahu bermotor ke kawasan pemukman di Bekasi Utara.

Cilincing, dikenal dengan program rumah deretnya, yang dipopulerkan oleh Jokowi, ketika masih mejabat sebagai Gubernur DKI.

“Jika takut dilamun ombak, janganlah berumah di tepi pantai,” begitu pepatah lama mengingatkan.
Pepatah kuno itu menjadi kenyataan di pesisir Cilincing. Saban tahun, pemukim disana dua musim didera olah angin dan ombak, yaitu musim barat dan musim timur. Ombak tinggi disertai angin, membuat pantai terkikis. Untuk menahan terkikisnya pantai, maka warna membuat penahan gelombang yang terbuat dari bambu.

Namun kemudian, Pemda DKI membangun tembok penahan gelombang. Penahan gelombang yang dibangun Pemda DKI itu, ternyata tidak memadai, maka akan dibangun lagi dengan ukuran yang lebih besar dan lebih tinggi.

Tokoh masyarakat Cilincing, mendukung rencana pemerintah untuk membuat turap disepanjang pantai dan membersihkan Cakung Drain dari kapal serta pemukiman liar. Bahkan, warga menginginkan secepatnya membangun tanggul.

Warga Cilincing, khususnya RT012/RW04, merasakan manfaat tanggul yang sudah ada, terutama ketika musim angin. Namun demikain warga keberatan tanggul yang ada sekarang ini, dibangun memasuki pemukiman.

Lahan yang ditempati warga sekarang ini, apa yang disebut sebagai "tanah timbul". Di RT 012, ditempati 350 KK dengan 330 rumah. Sebagian besar rumah warga sudah direhab, yang disebut sebagai rumah reret.


MARUNDA, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing


Kawasan Marunda


Marunda mewarisi budaya Betawi, yang bercirikan masyarakat pesisir. Dari sinilah legenda Betawi bermula, dengan tokoh legendaris Betawi Si Pitung di Marunda. Sebagai masyarakat asli Betawi, Marunda diwarisi sebuah masjid tua, yaitu masjid Al-Alam.  Masjid yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya itu, terletak di Marunda Besar, RT 09/RW 01 yang dibangun pada tahun 1527 oleh Fatahillah bersama para prajuritnya.


Ada tiga kampung di Marunda, yaitu Marunda Pulo, Marunda Besar dan Marunda Kongsi. Marunda Pulo dan Marunda Besar, murni dihuni oleh warga Betawi. Sedangkan di Marunda Kongsi, sudah bercampur baur dengan para pendatang.

Marunda yang berada di pesisir, ditandai pula sebagai kawasan tambak. Dulu, warga bekerja sebagai nelayan di laut, tapi kini, warga Marunda tidak ada lagi berprofesi sebagai nelayan. Bekerja di laut, tidak dilakukan lagi sejak harga bahan bakar mahal. Sebagai nelayan tambak, tidak pula, karena lahan tambak sudah berpindah tangan.

Masyarakat Marunda berpenghasilan bekerja di pabrik dan bekerja sebagai sopir dan jasa angkutan lainnya.
Pantai Marunda Pulo dan Marunda Besar sudah dibuatkan turap. Turap yang membentengi Marunda Besar dan dengan rumah susun yang dulunya ditempati oleh warung-warung makan, kini sudah dibongkar.

Ironis, Jakarta yang kaya, masyarakat Marunda bagai tinggal di dusun. Sampai saat ini, belium adfa jalan untuk kendaraan roda empat yang menyentuh Kampung Marunda. Ke Marundo Pulo, dimana keberadaan situs Si Pitung, baru dibangun jembatan. Selanjutnya, mencapai kampung dan situs hanya bisa dilalui dengan sepeda motor. Marunda Besar lebih terislosir lagi, karena dikepung oleh tambak. Sedangkan Marunda Kongsi, lebih beruntung karena adanya Rusunnawa Marunda.

Saya merasa kawatir pada kahirnya nanti Marunda, sebagai puak Betawi pesisir, akan tinggal namanya saja. Kawasan Marunda yang sudah dikepung oleh kawasan insdustri, pegudangan dan palabuhan, akan beralih tangan kepada pihak pengembang karena warga Marunda tergoda menjual milik tanahnya.

Kawasan Rumah Pompa Pluit


Penutup
Setelah mencermati dengan setiap langkah di pelosok-pelosok pesisir DKI, warga berdomisili di lingkungan yang buruk. Buruk sanitasi, buruk lingkungan, dan buruk perekonomian. Buruknya lingkungan tempat tinggal oleh pencemaan limbah ikan asin, limbah sampah dan buruknya kwalitas udara berdampak besar kepada kesehatan manusia. Demi generasi masa depan, koloni-koloni masyarakat pesisir sudah saatnya dibenahi secara total dengan tidak merugikan masyarakat yang sudah bermukim bertahun-tahun. "Angkat, dan tempatkan kembali". Pembangunan turap, akan menghambat terjadinya "tanah timbul" kembali dan mencegah banjir dari laut. (Rizal Bustami)

Foto-foto lengkap lihat di Rubrik Gallery Foto