Friday, July 20, 2012

Catatan Perjalanan ke Dieng,Jawa Tengah



Perjalanan Landy ke Dieng

Keputusan yang mendadak, perjalanan panjang yang tiba-tiba. Kedai Kopi Cantigi,Cibodas, Jawa Barat selalu menjadi 0 KM keberangkatan. Telah menempuh  sejauh 1050 km ke Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, dengan perbedaan ketinggian yang ekstrim untuk sebuah perjalanan normal.

Merupakan kebiasaan saya menyiapkan Land Rover supaya siap dijalankan. Adalah hobby saya mereka-reka sebuah tujuan untuk diekplore. Menetapkan tujuan, menentukan rute dan menyimpannya di laptop. Begitu ada kesempatan, Landy siap dijalankan, rute dipindahkan ke GPS sehingga tidak membuang-buang waktu lagi.


Pada tanggal 29/30 Juni dan 1 Juli 2012, di Dieng, dilaksanakan perhelatan tahunan, Dieng Festival Culture III, yaitu pemotongan rambut gembel bagi anak-anak Dieng, rambut gimbal istilah umum.
Kami berangkat jauh-jauh hari agar lebih awal mengikuti rangkaian ritual, terutama pra pelaksana pemotongan rambut.

Rute yang dilalui yaitu Cibodas, Tasikmalaya dan Banjarnegara. Selepas dari perbatasan  Jawa Barat dan Jawa Tengah, siang hari, Landy yang dikemudikan oleh Ikham, menunjukkan gejala tidak beres. Awalnya tercium bau olie terbakar. Tak lama kemudian timbul asap dari dek. Landy dipinggirkan di perkebunan karet. Alvin ke kolong membuka baut pembuangan olie. Begitu olie turun, ternyata hanya tersisa satu gelas. Saya tidak percaya jika olie hanya tersisa segelas. Saya longok ke kolong, rupanya Alvin salah membuka tutup pembuangan olie. Yang ia buka ada adalah olie gearbox. “Kekeliruan yang dibenarkan,” komentar saya.

Akhirnya, sekalian saja mengganti olie mesin. Memang sudah terniat untuk mengganti olie, tapi nanti di Banjarnegera atau di Purwokerto. Dengan ojek, Alvin mencari olie ke kota terdekat. Olie ditambahkan, Landy kembali melaju lancar.

Tiba di Banjarnegara sekitar jam 19.00. Setelah mengisi bensin, kami putuskan bermalam. Kami bermalam di sebuah hotel kecil. Keesokan harinya, pagi, kami melanjutkan perjalanan. Jalan yang dilalui, bukan ke Wonosobo, melainkan melalui Batur. Kami singgah di lokasi rafting Sungai Serayu.

Perjalanan berikutnya berangsur-angsur mendaki dan berkelok-kelok. Melalui hutan pinus, perkampungan, dan pertanian. Pertanian dominan kebun salak, setalah itu pertanian sayur dan kentang.

Pendakian yang tajam membuat Landy yang sarat dengan muatan, plus sepeda, tidak bisa melaju dengan kecepatan ideal. Pada masa-masa inilah kilometer tempuh tidak menjadi perhatian lagi, yang diamati adalah setiap elevasi yang dicapai.

Perjalanan dari Banjarnegara dimulai dari ketinggian 250 mdpl menuju ketinggian 2060 mdpl Dieng dengan jarak hanya sekitar 60 km.

Tibalah Landy di Pasar Batur. Berbelok ke kanan, berhenti setengah jam. Cari jajanan, membeli gorengan tempe dan tahu.
Perjalanan dilanjutkan ke Dieng. Sisa perjalanan 12 km, tapi terdapat 3 tantangan pendakian di depan. Di pendakian kedua, dengan tikungan tajam, Landy kehilangan power. Ikam memundurkan Landy untuk mengambil ancang-ancang, namun selepas perbelokan, mesin Landy mati. Landy diganjal dengan balok dan batu agar tidak merosot. Penyakitnya sudah pasti, saringan bensin tersumbat. Saringan dibersihkan, mesin hidup kembali. Sampailah kami di Dieng sekitar jam 16.00. Berputar-putar dulu, kemudian makan siang di sebuah Warung Padang.

Kami mendatangi rumah Mbah Nariono di Dieng Kulon. Kami dapati Mbah Nariono sedang berjemur matahari sore di depan rumahnya. Ia lebih kurus dan lemah. Tangan kanannya kaku, kedua kakinya bengkak. Kami menyalaminya, dan sepertinya dia lupa kepada kami. Begitu disebutkan kami dulu datang dengan sepeda, Si Mbah langsung ingat dua nama, “Ya,ya… Mas Rizal, Mas Don (Don Hasman).”

Selagi matahari masih ada, saya buru-buru mandi untuk membersihkan diri dari kubang debu. Untuk menyentuh air di Dieng memerlukan “keberanian” karena dinginnya.

“Dua hari lalu turun salju. Kasihan petani, tenaman rusak,” cetus Mbak Nariono.

Keesokan harinya (29/6), rumah Mbah Nariono mulai menggeliat. Tamu-tamu setempat silih berganti, rupanya untuk mempersiapkan acara napak tilas kunjungan ke 19 lokasi pertapaan atau ziarah.  Karena lokasinya berpencar-pencar, saya menawarkan diri untuk mengantarkan para sesepuh adat Dieng. Mbah Nariono setuju.

Tanggal 30 Juni pagi ziarah dimulai komplek candi, yang terdiri dari  Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Punta Dewa, dan Candi Sembadra. Acara dilanjutkan ke dua buah sumur, atau sendang, yaitu Sendang Rahayu dan Sendang Merokoco - yang berada dalam komplek candi. Jalan menuju sindang, dikoridor dan dipayungi dengan kain putih. Dikedua sendang tersebut, dilakukan lagi ritual.

Napak tilas diteruskan ke Telaga Warna. Di Telaga Warna terdapat empat tempat pertapaan, yang disebut Komplek Pertapaan Mandalasari.  Urut-urutan dimulai dari Batu Tulis, Goa Semar, Goa Sumur dan Goa Jaran.

Perjalanan dilanjutkan ke Kawah Sikidang, sekitar 2 km jaraknya.   Di bibir kawah Mbah Narino dan sesepuh adat duduk bersila, membacakan mantra, melarungkan sesaji.

Selesai di Kawah, dilanjutkan ke Candi Bima dan Candi Gatot Kaca. Usai disini,  dilanjutkan ke Sendang Buana. Karena hari telah terlalu sore, prosesi dilanjutkan keesokan harinya, pagi sekali,  ke Candi Setiaki, Sendang Pepek, Candi Dirowati, dan Sendang Bale Kambang.     
 Tanggal 1 Juni merupakan puncak acara. Lima bocah dipotong rambut gembelnya. Kelima anak tersebut duduk dibangku Sekolah Dasar. Pagi sekali, mereka sudah berada di rumah Mbah Nariono bersama orangtua mereka. Mereka dimandikan dan dicuci rambutnya. Kepala mereka diikat dengan kain putih. Setelah prosesi awal selesai, mereka dinaikkan ke delman, lalu diarak berkeliling Dieng. Di tangga candi, satu-persatu kelima anak tersebut dipotong rambutnya secara simbolis.

“Wah, kita bertemu lagi. Salut untuk Bang Rizal, benar-benar volentir,” kata dr.Ahmad, seorang dokter yang praktek di Banjarnegera dan pemerhati Dieng di pelataran parkir. Dr. Ahmad kemudian memperkenalkan saya kepada pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara.

Saatnya untuk persiapan perjalanan berikutnya. Saya memeriksa Landy, buka kap mesin, ke kolong. Kuras minyak rem dan cairan kopling. Bersihkan saringan bahan bakar, cek pengapian dan periksa kelistrikan. Semuanya kembali berjalan dengan baik.

Sebagaimana yang telah kami jadwalkan, tanggal 2 Juli untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Rute semula adalah Dieng – Banyuputih (Alas Roban). Tapi, oleh Dwi, anak muda Dieng yang kuliah di Semarang, memberitahukan bahwa jalan menuju Banyu Putih terputus karena jembatan rusak. Setelah berkonsultasi, kami putuskan menempuh jalan ke Batang melalui Batur.

Pagi hari, kami dipanggil oleh Mbah Nariono ke ruangannya. “Apa yang mau ditanyakan, Mas Rizal,” ujar Si Mbah, yang kami lanjutkan dengan wawancara.

Kami pamit kepada Mbah dan Ibu, dan mendoakan keselamatan serta minta kami kembali lagi.
 Menuju Batur, kami menyimpang dari jalan utama. Jalan beraspal halus, melalui kawasan wisata lainnya dan kemudian bertemu lagi dengan jalan utama Batur-Dieng.

Batur merupakan sebuah Kecamatan, dimana Dieng termasuk di dalamnya. Pasar Batur selalu ramai. Perekonomian berjalan baik, ditandai dengan adanya deretan ruko-ruko, ATM, transportasi dan pendukung ekonomi lainnya.
 Selepas Batur, terdapat persimpangan tiga. Lurus ke Wanayasa, kiri ke Batang. Jalan mendaki, berada di punggungan. Disinilah puncak tertinggi di kawasan ini, yaitu setara dengan ketinggian Dieng. “Sudah saatnya Abang gowes sepeda,” kata Ikam.

Sepeda diturunkan dari Si Buluk. Pada saat itu, lewat sebuah truck, seseorang berteria-teriak dari atas truck. Kami tandai dia adalah Mbah Tohir, salah seorang pemangku adat yang menjalankan ritual pada acara pemotongan rambut.

Saya menggowes sepeda, Landy mengikuti. Di sebuah desa, saya dapati Mbah Tohir berhenti di pinggir jalan. Dia bersama cucunya. Rupanya dia sedang menunggu kendaraan tumpangan kembali ke rumahnya di Bandar. Mbah Tohir dan cucunya turut bersama Landy.

Jalan besar, ada bagian-bagian yang dibeton dan juga berbatu. Selepas perkampungan, memasuki hutan. Saya surprise di Jawa Tengah menemukan hutan tropis yang rapat, seperti berada di hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Saya sangat menikmati bermain sepeda di jalur ini. Lalu, bertemu dengan perkebunan teh.
Jalan mulai beraspal halus, dan berbelok-belok. Rumah-rumah warga bagus, semua rumah beton. Saya berhenti sejenak untuk memperhatikan lingkungan pedesaan tersebut. Ini sebuah indicator perekonomian rakyat berjalan baik. Setelah ditelusuri, terjawab sudah bahwa masyarakat berpenghasilan dari cengkeh.

Jalan ini lengang oleh kendaraan. Bisa dihitung kendaraan roda empat yang melintas. Sepeda motor pun hanya sesekali. Sampailah di persimpangan Kecamatan Bandar. Disini Mbah Tohir turun, kami melanjutkan perjalanan ke Pekalongan.

Di kota, sepeda kembali dinaikkan ke Landy karena jalanan sangat ramai oleh kendaraan.

Setelah melewati kota Pekalongan, kami menuju Tegal. Sampai di Alun Alun Brebes pada saat azan magrib. Kami makan sate itik-yang pedasnya minta ampun. Kami melepaskan lelah. Tujuan berikutnya adalah rumah Alvin. Dari rumah Alvin, perjalanan dilanjutkan  ke Bumiayu, rumah Ikam. Sampai di Bumiayu tengah malam.
Di Bumiayu, dirudingkan rute kembali. Ikam menyarankan melalui Salem. Jalan menuju Salem lebih kecil dan sepi, melalui beberapa punggungan pada “tulang” Pulau Jawa bagian tengah.  Di rute ini melalui hutan pinus yang luas. Bagi saya, inilah hutan pinus yang terluas yang pernah dilalui.

Kami dapati sebuah kendaraan truck berhenti di jalan. Di depannya kendaraan niaga bak terbuka penuh muatan macet. Kami bantu kendaraan tersebut jalan kembali dengan menariknya dengan Landy.

Matahari sudah berkurang keterangannya. Hutan pinus mulai gelap. Di hadapan jalan berbelok-belok menurun tajam, sampai akhirnya bertemu dengan Jalan Raya Majenang. Bahan bakar kembali diisi, perjalanan diteruskan melalui Banjar, Ciamis, Garud, Jalan Lingkar Nangrek. Persinggahan terakhir adalah di Cimahi, di Kedai Sehat Bangsal 13 milik Budi.

Saya perhatikan Ikam sudah kelelahan. Di Pom bensin Citatah kami berhenti, tidur sejenak. Kami sampai di Cibodas pada 07.00.

Perjalanan ini kami tempuh sejauh 1050 km, tanpa kendala yang berarti. “Kita kan team,” selalu saya cetuskan dalam perjalanan. “Ya Bang, Team Shaun the Sheep,” balas Alvin. Kami tertawa-tawa ! (Rizal Bustami)
  




Peta lain, lihat Label : Maps




























   
















 .































































No comments:

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023