Monday, November 10, 2008

Talempong Batu

ALAT MUSIK TERBUAT DARI BATU

Berabad-abad suatu zaman berlalu, namun masih ada saja hasil kebudayaan manusia ditemukan untuk disaksikan, dipelajari dan sekaligus untuk dikagumi manusia sekarang. Adalah talempong (gending) batu, yang terdapat di Payakumbuh, Sumatera Barat, karya besar nenek moyang tak ternilai harganya.

Kabupaten 50 Kota dengan ibukotanya Payakumbuh, Propinsi Sumatera Barat selama ini hanya dikenal sebagai kota gelamai (dodol). Ternyata juga menyimpan misteri kehidupan masa lalu berupa peninggalan purbakala pada zaman megalithikum yaitu berupa gending yang terbuat dari batu-batu gunung. Masyarakat setempat menamakannya dengan Talempong Batu. Inilah persembahan terakhir para leluhur untuk seni musik tradisional, dan menjadi dasar perkembangan musik pukul tradisional Minangkabau.

Batu ajaib tersebut berada di Desa Talang, Kecamatan Suliki-Gunung, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Barang langka yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat itu berukuran rata-rata 125 x 20 cm dengan ketebalan 25-30 cm berjumlah enam buah. Diletakkan di atas kolong tanah berbantalkan bambu. Apabila dipukul dengan batu kecil yang sudah tersedia, bagaikan bunyi gending atau talempong yang terbuat dari kuningan sekarang ini. Talempong batu yang terletak di pojok halaman Balai Adat itu mempunyai solmisasi nada de - re - mi - fa - sol - la dengan nada dasar 'C'. Tapi, tunggu dulu. Talempong batu itu tidak akan mengeluarkan nada – nada bila dipukul begitu saja. Baru batu itu ‘bernyanyi’ sebagaimana layaknya bunyi gending setelah diasapi dengan kemenyan yang disimpan oleh penjaga (kuncen) situs atau oleh pemuka masyarakat setempat.

Anehnya, pada tahun 1971 pemuka masyarakat bersama beberapa dosen ASKI-Padang Panjang, Sumatera Barat, pernah mengganti bantalan batu yang terbuat dari bambu dengan bantalan kayu yang diukir, namun batu-batu talempong itu tidak berbunyi. Setelah bantalannya dikembalikan sebagaimana semula barulah talempong batu bernunyi. Bantalan kayu tersebut

diganti kembali oleh si Saleh, seorang tokoh masyarakat saat itu.

Kisah Talempong Batu

Desa Talang Anau berada di atas sebuah bukit. Sederetan dengan Bukit Barisan ke arah matahari terbenam dari kota Payakumbuh. Penduduknya hidup dari pertanian sawah, ladang kopi dan coklat di sela-sela batu gunung. Dengan ongkos Rp 2.500 per orang, masyarakat Talang Anau pergi ke kota Payakumbuh pada hari-hari tertentu untuk menjual hasil tani mereka. Desa Talang Anau berjarak 30 km dari kota Payakumbuh dapat ditempuh selama dua jam perjalanan dari kota Bukittinggi. Dalam perjalanan kesana, terlebih dahulu menjumpai tugu peringatan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)-1948 di Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Suliki-Gunung Emas. Kemudian, melewati Desa Pandan Gadang tempat kelahiran Bapak Republik Indonesia dan Pahlawan Nasional pada zaman pergerakan, Tan Malaka.

Penduduknya penuh kedamaian, harmonis dan ramah. Berdasarkan penuturan tetua kampung, pada umumnya mereka berasal dari negeri Kamang Mudiak, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam sekarang. Nenek moyang mereka pindah ke sana berikut membawa gelar kebesaran penghulunya (Datuak).

Menurut Kepala Desa Talang Anau, Ali Nasrul Imam Batuah (45) dan tokoh adat setempat A. Dt. Parpatiah Nan Sabatang (65), serta N. Dt. Adua (65), sebetulnya jumlah batu talempong tersebut sebanyak tujuh buah, namun yang bisa ditemukan sebanyak enam buah. Dan apabila talempong batu yang berjumlah enam buah itu dibunyikan, maka menurut pendengaran penduduk yang bersawah dan berladang di pinggir rimba, batu yang tertinggal di bukit, berbunyi pula. Bila kemudian dicari atau didekati, batu yang satu itu tidak bisa ditemukan masyarakat.

Satu hal lagi yang dipercayai oleh masyarakat setempat, bahwa talempong batu tersebut, akan menjaga keselamatan mereka dari mara bahaya. Batu telompong akan memberitahukan penduduk bila akan terjadi sesuatu di kampung mereka dengan mengeluarkan suara yang menggelegar, gelegarnya sampai menggoyangkan rumah tempat batu itu tersimpan.

Dan apabila ada penduduk yang sakit, mereka tidak perlu membawa si sakit ke dokter, sekalipun kepada seorang dukun. Cukuplah keluarga si sakit membawa satu buah telor itik dan satu hesta kain putih bersih ke talempong batu. Sesampai di sana telor itik tadi dipecahkan ke salah satu talempong batu dan kain putih tadi ditinggalkan saja di atas batu tersebut. Sekembalinya ke rumah maka si sakit sudah memperlihatkan tanda-tanda kesembuhannya.

Tidak jarang pula tempat talempong batu itu didatangi oleh orang-orang melakukan persemedian guna mendapatkan wangsit beroleh berbagai ilmu kebatinan. Setelah melalui beberapa ujian, seperti didatangi ular-ular besar, harimau, kalajengking sampai ke wanita-wanita cantik bagaikan dewa-dewi (penggoda), barulah si pertapa menerima titisan ilmu batin sebagaimana yang mereka niatkan.

Menurut kisahnya batu-batu itu ditemukan oleh salah seorang penduduk tidak berapa lama setelah kedua orangtuanya meninggal. Pada suatu malam, yaitu pada petang Kamis-malam Jumat, Syamsuddin yang kemudian bergelar Tuangku Nan Hilang, bermimpi mendengarkan suara gaib yang memintanya mengambil beberapa batu yang berada di atas bukit di belakang kampung itu dan mengumpulkannya. Syamsudin tidak langsung menjalankan perintah mimpi itu, sampai ia berkali-kali bermimpi. Pada mimpi ketujuh, baru ia melaksanaknnya. Dengan ilmu batin yang dimilikinya, Syamsuddin menemukan batu-batu itu secara terpisah-pisah di atas bukit.

Masyarakat setempat sangat kental dengan legenda masa lalu. Dipercai oleh mereka, batu-batu tersebut dikumpulkan oleh Tuangku Nan Hilang tidak dengan mengangkatnya, atau memikulnya, melainkan dengan cara menghalaunya dari atas Bukit Padang Aro-Batu Baranjau bagaikan seorang pengembala menghalau kawanan ternak ke suatu padang rumput. Sampai akhirnya, batu-batu tersebut tersusun sebagaimana sekarang ini. Menurut A. Dt. Parpatiah Nan Sabatang, kejadian itu berlangsung pada masa hidup Dang Tuanku (tokoh legendaris Minangkabau, sahabat Cindur Mato), putra dari Bundo Kanduang (Dara Jingga).

Merujuk kepada keterangan di atas, maka menurut Drs. Mid Jamal dalam bukunya Manyigi Tambo Alam Minangkabau (1985), pemerintahan Dang Tuanku di Minangkabau diperkirakan pada tahun 1347-1375 M, karena menurutnya Dang Tuanku itu adalah Aditya Warman, putra Minangkabau berdarah Majapahit.

Talempong Batu dan Zaman Megalithikum

Anggapan masyarakat yang berdasarkan legenda, mitos dan dibumbui oleh unsur mistik itu merupakan sisa-sisa peninggalan dari kehidupan nenek moyang yang animisme-dinamisme yang perlu diluruskan melalui sejarah kepurbakalaan berdasarkan hasil penelitian para ilmuwan terkait.

Megalithikum merupakan kelanjutan dari zaman neolithikum yang mengalami perkembangan pada zaman logam setelah lebih kurang 500 SM. Menurut para ahli kepurbakalaan, kebudayaan Megalithikum di Indonesia ditempatkan ke golongan kebudayaan Dongson (Yunan Selatan) yang banyak tersebar di pulau Sumatera. Sehingga benda-benda budaya zaman itu dinamakan Sumatralithikum.

Apabila kita kaitkan dengan zaman megalithikum, talempong batu tersebut tidak lain adalah semacam alat bunyi-bunyian yang dimainkan oleh beberapa orang suruhan datu guna menghantarkan alam metafisik seorang datu, atau semacam alat untuk memanggil roh leluhur yang berada di puncak bukit tersebut sewaktu seorang datu sedang berhajat, seperti meminta hujan, menolak penyakit, atau memohon kesuburan tanaman mereka, memanjatkan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang sekaligus sebagai pemelihara alam jagat raya.

Peranan Syamsuddin Tuangku Nan Hilang tidak lain adalah sebatas pewaris yang bertanggung jawab terhadap benda-benda sakral para leluhurnya di zaman purbakala dahulu. Dan barangkali juga, dia adalah datu atau kepala suku generasi terakhir yang menerima Islam sebagai faham atau kepercayaannya yang baru. Ia bertukar nama dengan nama yang identik dengan ke-Islamannya itu.

Pemberian gelar Tuangku Nan Hilang oleh masyarakat setempat, karena dia rahib begitu saja ditengah-tengah masyarakatnya. Kapan dia meninggal dunia dan di mana kuburannya, tidak ada yang mengetahuinya.

Selain talempong batu, di halaman Balai Adat Negeri Talang Anau tersebut juga terdapat satu buah dolmen (meja batu) yang diapit kiri-kanan oleh batu tengger yang mirip sebuah carano atau cerana tempat sirih pinang dalam adat Minangkabau, namun batu cerana tersebut tidak berlobang sebagaimana cerana yang umum kita lihat. Beberapa menhir yang berukuran tinggi rata-rata satu meter bertebaran pula di halaman Balai Adat itu. Satu buah diantaranya terdapat tulisan berupa angka-angka dalam tulisan huruf Arab dan satu buah lagi terdapat empat garis melingkar pada menhir itu dan dengan nyata terlihat menhir itu mempunyai lima tingkatan.

Peninggalan “kebudayaan batu” yang terdapat di Payakumbuh tersebut merupakan cacatan sejarah penting bagi perjalanan manusia Indonesia. Sayangnya, sampai saat ini belum seorang peniliti serius yang mengorek misteri batu-batu tersebut. Bagi masyakat batu adalah batu, sebuah benda mati. Akan menjadi penting bagi arkeolog karena batu-batu tersebut merupakan bukti sejarah. Trides,Bukittinggi

No comments:

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023