Saturday, August 20, 2011

Capita Selecta M Natsir Bab 6

 JEJAK ISLAM DALAM KEBUDAYAAN
1937

Tidak  orisinil?
          “Cobalah kita kenangkan sebentar!”, kata Prof. Sattar Chairi, seorang Guru-Besar di Berlin, - “jika dalam pergaulan hidup kita sekarang ini tidak ada kertas, timbangan, kompas, gula, baju dalam, ilmu kimia, disitu barulah dapat kita merasakan apa benarkah yang telah kita terima dari Islam.!”
Ucapan itu amat ringkas, tapi jitu!
Ada lagi terdengar suara lain: “Betul, ada banyak hasil-hasil yang diberikan Islam dalam kebudayaan kepada kita, tapi kauym Muslimin itu bukanlah memberikan yang muchtara’, yang orisinil, hanya meneruskan yang telah ada!”
Mendengar ucapan ini kita teringat kepada suatu lelucon pendek oleh penulis Mark Twain, kira-kira begini”.


Pada suatu hari Minggu, Twain mendengarkan suatu chotbah yang amat menarik dari seorang pendeta yang masyhur bercakapannya berchotbah. Sesudah selesai upacara tersebut, Twain diperkenalkan orang kepada pendeta itu. Twain tak lupa memuji chotbah yang penting itu. “Akan tetapi”, katanya, “apa yang tuan ucapkan tadi tak satupun yang orisinil. Di rumah saya ada satu kitab yang dalamnya dapat dibaca semua perkataan yang tuan chotbahkan itu”.
Agak naik darah pendeta kita, lantaran tuduhan Twain ytang demikian. Diterangkannya dengan sungguh-sungguh tapi sengit juga, bahwa chotbahnya itu adalah buah fikirannya sendiri dan baharu semalam ia tulis. Dan mustahil akan dapat dibaca dimanapun juga.
Dijawab oleh Twain: “Baiklah saja kirimkan saja kitab itu besok kepada tuan, supaya tuan persaksikan sendiri!” Keesokan harinya pendeta kita menerima dengan perantaraan pos satu kitab kamus, dictionary!
Begitulah gerangan agaknya bandingan tuduhan orang terhadap masalah orisinil atau tidaknya usaha pujangga-pujangga Muslimin dalam abad-keemasan itu. Kita juga tidak hendak mengatakan bahwa Islam itu adalah sumber dari semua ilmu!”, sebab nanti akan ada orang yang akan tersenyum-simpul mendengarnya. Memang antara pujangga-pujangga Muslimin yang banyak itu ada yang ibarat matahari, yang mancarkan cahaya sendiri yang gemerlapan dan ada pula yang laksana bulan yang memancarkan sinarnya salinan dari sinar matahari. Akan tetapi kita sekali-kali tidak dapat “terima-baik”, bila orang berkata bahwa pujangga-pujangga dalam seperti Ibnu Sina, dan lain-lain itu hanyalah sebagai “kuda-penarik yang dipasang dimuka keretanya ahli-ahli kebudayaan Yunani seperti Aristoteles dan lain-lainnya, sebagai pernah diucapkan demikian oleh salah seorang penulis Barat. Sebab ini bertentangan dengan kenyataan yang dapat dibuktikan!
Kita harus jangan lupa, bahwa sekuat kita mau “membangkitkan batang terendam”, sekuat itu pula pihak yang sebelah menekankannya supaya terus terbenam dan terpendam selama-lamanya, tak timbul-timbul lagi. Tetapi alhamdulillah "ndang-undang alam” terus berjalan, pada suatu masa tiap-tiap yang hak itu walaupun bagaimana menutupnya, tetap akan terpampang dan ternyata juga.

Ibnu Haitham
Dalam masa kemajuan tehnik fotografi sudah seperti sekarang ini, nama Ibnu Haitham sudah mulai disebut-sebut dalam perpustakaan ilmu di Barat. Sebab memang sudah terbukti bahwa yang mendapat dasar-dasarnya perkakas potret itu (camera obscura) yang dikenal oleh semua orang modern dalam abad ke 20 ini, adalah pujangga Islam Ibnu Haitham dalam abad yang ke II. Jadi jauh terlebih dahulu dari Leonardo da Vinci dan pujangga-pujangga Barat yang lain.[1]
Ibnu Haitham yang terkenal pada lisan Barat dengan sebutan “Al-Hazen” itu adalah seorang alim yang amat berjasa dalam ilmu yang dinamakan ilmu “mar-iyat”, atau optische wetenschap, yakni ilmu yang berhubungan dengan penembusan dan perjalanan sinar (cahaya). Diwaktu ada gerhana matahari dibuatnyalah sebuah lubang yang kecil pada daun jendela. Setelah daun jendela itu ditutupkan, maka kelihanlah pada dinding yang bertentangan dengan lubang kecil itu bangunan matahari yang kecil, yang disebabkan oleh sinar yang masuk kedalam kamar itu. Bangun matahari itu kelihatan bukan bunder sebagaimana biasa, tetapi seperti bulan-sabit tujuh hari, karena gerhana itu.
Akhirnya Ibnu Haitham sampai kepada kaedah camera obscura, yaitu kira-kira 200 tahun sebelum ahli-ahli Barat seperti Levy Ben Gerson, don Fafnuce, Leonardo da Vinci dll.
Kritik Ibnu Haitam terhadap ahli-ahli purbakala sepertuEuelydes dan Ptolemeus tentang penembusan dan perjalanan sinar itu telah menimbulkan satu :revolusi” dalam ilmu tersebut pada masanya itu. Euchlydes dan Ptolemeus berpendapat bahwa sebabnya maka kita menampak barang-barang yang berkeliling kita adalah lantaran mata kita mengirimkan sina kepada barang-barang itu. Ibnu Haitham nemutar  teori itu dan menerangkan bahwa  bukanlah oleh karena ada sinar yang dikirimkan oleh mata kepada barang-barang yang kelihatan itu, tetapi sebaliknya, yaitu matalah yang menerima sinar dari barang-barang itu yang lantas melalui bahagian mata yang dapat dilalui cahaya (transparant) yakni lensa-mata.
Pengaruh Ibnu Haitham dalam ilmu-sinar itu di Barat berkesan dalam karangan Leonardo da Vinci dan tak kurang pula dalam tulisan pujangga Barat yang masyhur Johan Kepler, Roger Bacon dan lain-lain ahli ilmu ini dalam Abad Pertengahan. Mereka mendasarkan teori dan tulisan-tulisan mereka kepada teori Ibnu Haitham yang telah disalin kedalam bahasa Latin dan disiarkan dengan nama “Opticae Thesaurus”.

Ruh Intiqad (Critische Zin).
Dalam pada itu jangan pula kita lupakan bahwa sebenarnya kepiutangan bumi dunia-kebudayaan terhadap Islam itu bukanlah terutama sekali terletak pada hasil  atau buah dari pekerjaan pujangga-pujangga Muslimin dalam abad-keemasan itu, akan tetapi terletaknya adalah dalam ruh-intiqad, kekuatan-menyisat dan menyelidiki kebenaran  yang ditanamkan oleh Agama Islam dalam dada tiap-tiap putera Islam itu.
Ruh-intiqad  inilah yang mendidik mereka, supaya mempergunakan akal dan menyelidik dengan seksama, serta menjauhkan mereka dari taklid-membuta-tuli dalam semua perkara. Ruh itu adalah terbit dari ajaran Quran: “Dan janganlah engkau turut saja apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan atasnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu, semuanya akan ditanya tentang itu!” (Q.s. Bani Israil: 36).
Untuk menggambarkan bagaimana hasil dan didikan Qur’an yang amat halus dan tinggi ini, marilah kita dengarkan ujar seorang pujangga Islam dizaman itu, yakni seorang ahli kimia yang bernama Abu Musa Jabir Ibnu Hayan: “Pendirian-pendirian yang berdasarkan “kata si anu”, artinya perkataan yang tidak disertakan bukti penyelidikan, tidak berharga dalam ilmu kimia. Satu kaedah dalam ilmu kimia ini dengan tidak ada kejcualinya, ialah bahwa dalil yang tidak berdasarkan Ibukti I yang nyata, harganya tidak lebih dari satu omongan yang boleh jadi-benar dan boleh-jadi keliru. Hanya bila seseorang membawakan keterangan dengan bukti yang nyata, penguatkan pendiriannya, barulah boleh kita berkata: pendirian tuan dapatlah kami terima!”
Dan untuk mengukur betapa tinggi nilainya pendirian yang macam ini, perlu pula kita iengat bahwa pada zaman itu, malah 2 a 3 abad sesudahnya masa Jabir Ibnu Hayan ini, benua eropah yang sekarang memegang kendali kebudayaan dunia itu, masih penuh diselimuti oleh segala macam tachyul dan taklid-buta.
“Anatomi dan ilmu psychologi peninggalan purbakala telah hancur. Cara menaksir suatu penyakit dipulangkan kepada semacam hitungan dan terka-terkaan dengan ibu jari yang tidak keruan. Dari ilmu botani hanya tinggal rangkanya saja. Mutu ilmu kedokteran tidak lebih dari sekumpulan baca-bacaan yang disertai oleh segala macam perbuatan sihir”. Demikian gambaran seorang muarrich Barat dalam menguraikan merosotnya ilmu di Barat diwaktu itu.
Adapun tentang pendirian,  serta mencari dan Imenentukan ijtihad, adalah telah jadi darah daging dalam kalangan Islam. Perhatikanlah, betapa teliti, hemat serta cermatnya kaum Muslimin mengumpul, memilih dan menyaring hadits-hadits yang bakal jadi dasar untuk fatwa dan pendirian dalam Hukum-Agama. Diperiksa isi perkataannya, diteliti sanad   dan achlak akhlak seseorang rawi. Agama manakaha, falsafah mazhab apakah dan kebudayaan aliran manakah yang telah mendidik pengikutnya kepada ruh intiqad yang sampai demikian tinggi tingkatnya?
Dalam hal ini, sudah pada tempatnya bilamana kita kaum Muslimin menjawab dengan kontan dan tegas: “Tak lain yang mendidik kami sampai demikian, adalah Agama kami yakni Agama Fitrah, Agama yang cocok dan selaras dengan fitrah kejadian manusia”
Adapun pendapat ini, pendapat itu dan lain-lain dalam berbagai ilmu pengetahuan, adalah bunga dan buah yang diterbitkan oleh ruh intiqad itu. Maka bunga  yang indah dan buah yang lezat itu akan dirasai kembali oleh umat ini, bilamana pokok itu telah hidup-tumbuh dengan sehat dan subur kembali dalam dada kaum Muslimin.
Sebaliknyapun benar juga. Setelah kaum Muslimin kehilangan pokok yang tak ternilai harganya itu, harkat mereka dilangit kebudayaan makin lama makin turunlah. Keberanian yang tadinya hidup berkobar-kobar bertukarlah dengan perasaan-kecil, rasa-kurang-harga (minderwaardigheidscomplex). Ruh yang segar dan gembira menghadapi hidup tadinya, menjadilah ruh yang tunduk-ringkuk, penyembah kubur dan tempat-tempat keramat, menjadi budak jimat dan air-jampi. Tangan yang tadinya begitu giat menyelidik, memeriksa alam supaya memberi manfaat kepada umat manusia lantas terkulai tak ada himmah, selain dari menghitung uraian tasbih penebus bidadari didalam sorga…!
Maka mengingat ini, tiap-tiap usaha dari kaum kita sekarang yang berusaha untuk menghidupkan ruh-intiqad itu kembali dan menghapuskan ílibasul-chauf” dengan segala ikhtiar dari kalangan kita umat Islam, tidak dapat kita pandang sebagai suatu usaha tetek-bengek dan enteng saja, tapi harus mendapat penghargaan dan bantuan yang sewajarnya. Usaha kaum kita membersihkan hukum-hukum Agama dari segala macam bid’ah dan churafat serta usaha membongkar pokok-pokok bid’ah dan churafat itu, yang bersandar pada ruh suka-bertaklid-buta, dan mengganti ruh-pasif ini dengan ruh-intiqad, adalah usaha yang selayaknya kita hormati dan tunjang bersama-sama dengan sekuat tenaga kita.
Memang kurang adil, bilamana usaha kaum kita dalam lapangan yang satu ini, hanya dipandang dengan agak mengejek dan dicap dengan úrusan furu’iyah”, serta kita anggap sepi saja sama sekali. Kita jangan lupa mereka yang memperbincangkan pelbagai macam masalah itu, yang satu tempoh nampaknya mungkin dianggap sebagai perkara kecil saja, tetapi pada hakikatnya mereka adalah pembongkar pokok asal kesesatan-kesesatan yang membawa kita jadi jauh dari rahmat dan ‘inayat Allah s.w.a. Perbandingan hubungan antara churafat  dan taklid, adalah sama eratnya dengan hubungan antara hasil-kebudayaan yang gilang-gumilang dengan ruh-intiqad.
Jalan untuk membongkar ruh taklid ini satu-satunya, ialah memperlihatkan dengan tidak sembunyi-sembunyi dan terus-terang, kekeliruan-kekeliruan churafat dan bid’ah itu. Memperlihatkannya ini berkehendak kepada munazharah dan mujadalah yang bukan kecil, menuntut tenaga, kecakapan, keuletan serta kebijaksanaan yang amat besar.
Kita semua telah sama-sama melihat bagaimana akibatnya kebudayaan yang terlepas dari pimpinan dan jiwa tauhid yang suci-bersih, serta Achlak dan Ibadah dan sehat. Semua ini, ada hubungannya antara satu dengan yang lain, hubungan yang bergantung dan bersangkut-paut.
Ini adalah ajaran tarich yang amat nyata bagi kita semua.

Dari Panji Islam.

 


[1] “Ueber die Erfindung der Camera Obscura”, oleh E. Wiedeman dalam Verhandlungen der Deutschen Physikalischen Gesellschaft.

No comments:

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023