Sunday, June 26, 2011

Capita Selecta M.Natsir Bab.3

Bab.3
IBNU SINA
(980-1037 M)

Bila Al-Farabi telah meninggalkan pusaka yang tak ternilai dalam ilmu falsafah dan musik, maka Abu ‘Ali Husein bin’ Abdullah bin Sina tidak kurang pula meninggalkan jasa yang amat besar dalam ilmu tabib dan falsafah.

Ibnu Sina dilahirkan dalambulan Safar tahun 370 H. atau bulan Agustus tahun 980 M, di negeri Ifsina, yaitu negeri kecil dekat Charmitan. Diwaktu berumur 10 tahun, Ibnu Sina sudah hafal Al-qur’an dan mengetahui sebahagian besar dari ilmu-ilmu Islam dan ilmu nahwu.

Kepintarannya sebagai anak yang berumur 10 a II tahun itu menajubkan orang. Dirumah bapanya ada seorang alim bernama Abdullah Natila. Dari alim itulah Ibnu Sina mendapat pelajaran yang pertama.

Tidak berapa lama, pada si guru, tak ada lagi yang akan diajarkan kepada murid yang tajam otak itu. Si murid tak puas dengan itu saja, tapi terus belajar sendiri memperdalami ilmu-ilmu keduniaan, terutama ilmu alam (fisika), mantik (logika) dan metafisika. Kemudian ia belajar ilmu tabib pada seorang guru Kristen bermasyhur sebagai tabib sampai kemana-mana, lelbih masyhur dari gurunya ‘Isa bin Jahya sendiri. Ibnu Sina sekarang sudah kehabisan guru pula, dari manakah ilmu akan dipetiknya lagi?

Kebetulan waktu itu Amir dari Buchara yang bernama Nuh bin Mansur dalam sakit keras, tak seorang juapun tabib yang dapat mengobatinya. Dipanggil orang Ibnu Sina yang masih berumur 17 tahun itu.
Kebetulan sembuhlah amir diobatnya, suatu hal yang sangat mengagumkan tabib-tabib lain pada waktu itu.

Maka sebagai salah satu hadiah untuk tabib muda dan tangkas ini, Amir Nuh bin Mansur membukakan pintu kutubchanah (bibliotek)nya yang luas dan lengkap itu untuknya dan diizinkannya menelaah semau-maunya. Disinilah Ibnu Sina melepaskan dahaganya siang dan malam, yakni dahaga kepada ilmu pengetahuan yang sekarang telah terbuka pintunya kepadanya itu.
Kutubchanah Amir tersebut, didampingi oleh hati yang keras dan otak yang tajam inilah, pada lahirnya yang menjadi universitet dan profesor-profesor, yang menjadikan Abu Ali Husein jadi seorang alim besar, yang diakui oleh seluruh dunia ilmu pengetahuan.

Otodidak
Ibnu sina ialah salah satu contoh dari otodidak Muslim yang sanggup meluaskan dan memperdalam pengetahuannya dengan kekuatan hati dan otak sendiri dan tak merasa butuh akan diploma; ia mementingkan amal lebih dari pada pujian ijazah, meninggikan hakikat lebih dari kemolekan bungkus.

Sayang! Sumber tempat melepaskan dahaganya sekonyong-konyong kering: bibliotek Amir Nuh ini, habis dimakan api. Mereka yang iri hati kepada pemuda yang tajam otak ini membuat fitnah, bahwa dialah yang membakarnya, supaya orang lain jangan dapat mempelajari kitab-kitab yang ada dalam bibliotek itu, takut kalau-kalau orang akan dapat sepintar dia pula…! Demikian fitnah yang berlaku…!
Tetapi Ibnu Sina bekerja terus dengan rajin dan keras hati, walaupun kerap kali diseret gelombang kesana kemari demikian itu.

Kitabnya yang terpenting ialah satu ensiklopedi bernama; Kitabusy-Syifa’, terdiri dari 19 jilid besar dan sekarang masih tinggal satu naskah lengkap dibibliotek Oxford University. Atas usaha Raymond Aartsbischop di Toledo (1130-1150 M), karangan-karangan Ibnu Sina diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan sesudah itu dicetak beberapa kali dan tersiar di Eropah Barat.

Iman dan Falsafah
Untuk menerangkan falsafah Ibnu sina dengan lengkap tentu berkehendak akan ruangan yang lebih luas dari pada satu artikel yang bersifat muchtasar seperti ini. Berlainan dengan filosof-filosof yang telah rusak kepercayaannya terhadap Tuhan, oleh karena bermacam-macam pendapat mereka dalam falsafah, - maka iman dan filosof Ibnu Sina sedikitpun tidak bergoncang karena falsafahnya itu.

Masalah sering, apabila ia bertemu dengan satu masalah yang sulit, sangat susah dipikirkan, ia terus pergi berwudu’ dan pergi ke mesjid, sembahyang dan berdo’a, mudah-mudahan Allah memberinya hidayat. Sesudah itu ia terus menelaah dan berfikir kembali, karena itu tetap insaf akan kelemahannya sebagai manusia, dan berkeperluan akan petunjuk dan hidayah dari allah subhanahu wa ta’ala.
“Innama jachsyallahu min ‘ibadihil-‘ ulama… “,bahwa yang sebenar-benarnya takut kepada Allah itu, ialah hamba-hambaNya yang mempunyai ilmu.” (Q.s. Al-Fathir:28).

“Aristoteles mungkin tidak akan dikenal”
Ibnu Sina, seorang geni yang muchtara (orisinil), satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman, dilangit kebudyaan.

Betapa besar jasanya dalam memperkenalkan kebudayaan Yunani di Eropah Barat, cukuplah kiranya kalau kita dengar perkataan Roger Bacon, seorang filosof eropah Barat di Abad Pertengahan:
“Sebahagian besar dari falsafah Aristoteles sedikitpun tak dapat memeberi pengaruh di Barat, karena kitab-kitabnya tersembunyi entah dimana. Dan sekiranya ada, sangat sukar sekali dapatnya, dan sangat susah dipaham dan tidak digemari orang, atau karena peperangan-peperangan yang bermarajalela disebelah Timur-, sampai kepada saatnya Ibnu sina dan Ibn. Rusyd dan (juga pujangga Islam) yang lain-lain membangkitkan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas.”
Demikianlah bunyinya penghargaan dan pengakuan jujur dari seorang filosof Barat seperti Roger Bacon itu.

Setelah Ibnu Sina merasa, saatnya sudah hampir akan meninggalkan dunia yang fana ini, maka dihabiskannyalah umurnya yang masih tinggal, dengan beribadat kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata-mata.

Dalam umur 57 tahun, berpulanglah Ibnu Sina dalam bulan Ramadan tahun 428 H. bersamaan dengan bulan Juli 1037 M. meninggalkan pusaka yang sedang menantikan ahli-ahli waris yang lebih dekat, yakni: Pemuda-pemuda Islam yang menaruh himmah, dan bercita-cita tinggi!
                                                                                                                   Dari Pedoman Masyarakat.





No comments:

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023