Wednesday, April 18, 2012

Capita Selecta M.Natsir

MENUJU KOORDINASI PERGURUAN-PERGURUAN ISLAM
JULI 1938

Cita-cita untuk mengadakan koordinasi atau persamaan rencana pelajaran dalam perguruan-perguran Islam yang bertebaran diseluruh negeri kita, yang didirikan atas kemauan rakyat dan didorong oleh kemauan rakyat itu, memang suatu cita-cita yang bukan baru lagi.

Dari salah seorang teman di Sumatera Barat pernah kita mendengar, kira-kira dua tahun yang lalu, bahwa sudah mulai dianjurkan disana menciptakan maksud tersebut. Mudah-mudahan sekarang sudah berhasillah hendaknya, sungguhpun belum terdengar benar kabar tentang hasilnya cita-cita yang mulia itu. Tuan Dr.  Satiman, promotor dari pendirian Sekolah Tinggi Islam di Solo juga sudah memberi sedikit anjuran dalam salah satu artikelnya, dimana beliau telah memakai perkataan: “coordinair”. Yakni supaya rencana pelajaran perguruan-perguruan Islam dinegeri kita ini dapat disusun menurut garis-garis yang tentu, agar dapat menjadi dasar yang baik untuk sekolah tinggi yang sedang beliau usahakan sekarang itu. Tuan Z. Usman, mudarris Tsanawiyah di Talu, Seumatera Barat, telah memberi  pemandangan panjang tentang perluannya perbaikan pelajaran dalam perguruan-perguruan kita itu dalam Panji Islam beberapa nomor yang lalu. Dan baru-baru ini kita mendapat kabar bahwa di Palembang telah didirikan satu badan untuk menyusun rencana pelajaran sekolah-sekolah agama yang ada di Palembang. Syukurlah!

Maka sudah patut kita menyelidiki masalah ini lebih lanjut untuk melakukan langkah-langkah yang perlu dalam jurusan ini. Sebab soal ini bukan lagi soal salah satu atau dua daerah, melainkan mengenai kepentingan seluruh kaum Muslimin, diseluruh kepulauan Indonesia. Tetapi belumlah dimaksud dengan artikel ini satu rencana yang lengkap dengan seluk-beluknya, melainkan sekedar membentangkan garis besar yang perlu kita perhatikan sebagai dasar menciptakan rencana lengkap kelaknya, sambil menyelidiki dua tiga hal yang mungkin menjadi alangan, yang harus sama-sama kita hindarkan.


Persamaan dasar dan tujuan
Koordinasi dalam pelajaran dan didikan dengan arti yang luas, hanya dapat berlaku, bilamana ada persamaan dasar dan persamaan tujuan dari perguruan-perguruan yang hendak dilingkungi oleh koordinasi itu. Sudahkan ada persamaan dasar dan tujuan itu dalam sekolah-sekolah kita?

Tak syak lagi, sudah lama ada!

Sekiranya orang bertanya kepada pemimpin-pemimpin sekolah agama kita, dari Sabang sampai ke Endah (Ende ?), dari Balikpapan sampai ke Cilacap, dari kota-kota yang besar sampai ke dusun-dusun “apakah dasar dan cita-cita dari pendidikan yang tuan berikan?, maka sudah tentu akan mendapat jawaban, pendek ataupun panjang, dapat disimpulkan dengan: “Dasar didikan kami ialah Tauhid, yang tersimpul dalam dua kalimah syahadat, Tauhid, yang menjadi pokok dari kemerdekaan dan kekuatan ruhani, dasar dari kemajuan dan kecerdasan manusia. Tujuan didikan kami ialah mendidik anak-anak kami, agar sanggup memenuhi syarat-syarat penghidupan manusia sebagai yang tersimpul dalam kalam Allah: “Wabtaghi fima ata-kallahud-daral-achirata, wa la tansa nashi-baka minad-dun-ya”…, supaya anak-anak kami itu dapat memenuhi kewajiban-kewajiban yang perlu pencapai tingkat “hamba Allah”, yakni setinggi-tinggi derajat yang menjadi tujuan hidup bagi tiap-tiap manusia menurut keyakinan Muslimin, sebagaimana yang terlukis dalam firman Allah: “wama chalaqtul-jinna wal ins illa laya’buduni”. Begitulah jawaban yang akan kita dengar lebih kurang, disegenap perguruan-perguruan kita yang berdasar Islam.

Persamaan masyarakat
Kalau ada satu pekerjaan yang amat bersangkut-paut, berjalin berkelindan (berhubungan) dengan masyarakat hidup, adalah pekerjaan dalam perguruan dan pendidikan salah satu dari padanya, yang terutama. Sia-sialah perguruan apabila putus perhubungan antara sifat didikan yang diberi dengan kehendak dan keperluan masyarakat yang akan menyambut murid-murid yang telah dapat didikan itu kelaknya.

Beberapa puluh tahun yang lalu, negeri kita masih terpisah-pisah, hampir tak ada hubungan antara satu daerah dengan daerah yang lain, masih boleh kita katakan, bahwa pergaulan hidup kita terbagi atas beberapa macam masyarakat yang berlain sifat dan kehendaknya. Akan tetapi sekarang, dimasa Indonesia sudah memakai beberapa macam hasil kemajuan tehnik, dimana perhubungan darat, laut dan udara, usdah mendekatkan sangat daerah-daerah yang bertebaran tadinya itu, dimasa Indonesia seluruhnya sudah masuk dalam genggaman perhubungan dunia, maka sesungguhnya tidaklah mungkin lagi kita terus mempertahankan sifat bernafsi-nafsi menurut moto, yang salah pasang: “Lana a maluma wa lakum a malukum” dengan menutup mata kepada apa yang terjadi disekeliling kita, dengan tidak hendak memperhatikan apakah yang harus iubah, ditambah dan diperbaiki dalam pendidikan anak-anak kita yang bakal masuk kedalam masyarakat yang demikian sifatnya itu.

Masyarakat kita telah mempunyai garis-garis besar tertentu dalam kehendak dan keperluannya kepada pendidikan kandidat-kandidat anggota masyarakat itu, sebab itu perguruan-peruguruan kita harus pula mempunyai garis dan rencana yang tertentu pula dalam ragam ilmu dan tehnik pelajarannya.

Persamaan agama ilmu dan tehnik pelajaran  inilah yang belum ada. Akibatnya sudah sama-sama dirasai! Berapa banyak murid-murid sekolah kita yang terlantar pelajarannya, bila mereka terpaksa pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Terkadang-kadang tak tentu kelas mana yang akan dimasuki, lantaran beberapa vak amat ketinggalan dan pada beberapa vak yang lain sudah terlampau lanjut. Disana panjang, disini senteng (pendek). Keadaan yang semacam ini banyak sedikitnya mengurangkan kepercayaan ibu-bapa murid kepada umumnya pelajaran dalam perguruan-perguruan agama ita itu. Patutlah kita berkeluh-kesah karena kekurangan penghargaan orang atas usaha kita itu?

Bukan kita tidak memberi pelajaran yang baik, akan tetapi kurang memberi jaminan dan ketenteraman hati terhadap kepada ibu-bapa murid, lantaran kekurangan kita menjaga perhubungan yang rapat diantara pelajaran satu sekolah dengan sekolah yang lain.

Dipandang dari pihak dasar dan tujuan, sudah nyata persatuan kita. Ditilik dari perhubungan masyarakat dan pendidikan, sudah terang persamaan kita. Dilihat dari tehnik dan susunan pelajaran, disana kita berpecah-belah. Apakah gerangan yang mungkin menjadi alangan untuk mengadakan persatuan usaha dalam rukun yang ketiga ini? Kelihatannya alangan yang berupa ranjau-ranjau besar tidaklah ada. Barangkali, kalau ada, hanya dua-tiga “duri” yang berkecil-kecil, yang tentu dapat disingkirkan dengan kemauan bersama.

Sifat terkhusus
Salah satu dari yang menjadi alangan ialah, kekuatiran, kalau-kalau persamaan itu akan merusakkan sifat yang terkhusus atau arah (richting) yang sudah dicita-citakan atau ditetapkan oleh pendiri dan pemimpin, bagi sekolahnya masing-masing. Kekuatiran ini memang telah ma’qul. Sebab sekolah-sekolah itu galibnya didirikan oleh mereka yang mempunyai inisiatif. Bukan oleh orang yang “pak-turut”, berhuru-huru, bersekolah orang bersekolah kita, melainkan oleh orang yang hidup semangat. Sudah tentu inisiatif mereka itu mengandung satu-dua maksud yang terkhusus  bagi pekerjaan yang mereka usahakan.

Sungguhpun ma’qul, hal ini sebenarnya tak usah sekali-kali menjadi halangan untuk ikhtiar mempersatukan usaha dalam hal yang lain, yang sekira-kiranya mungkin dipersamakan. Semua ini akan ternyata, bilamana semua ini telah dipelajari dan diperbincangkan. Sekiranya barang yang hendak dipertahankan itu memang baik sifatnya, tentu tak akan usah dikuatirkan paksaan dari manapun, yang akan bisa menghapuskannya. Malah tidak mustahil, bahwa barang yang baik itu, dapat diperlebar dan disiarkan lebih luas oleh teman sekerja ditempat lain untuk kesempurnaan didikan semuanya anak-anak kita Muslimin, sabab: bukanlah dasar sama, tujuan satu?

Koordinasi bukan Normalisasi
Jangan kita lupakan, bahwa koordinasi itu bukan satu banjir besar yang akan menghancurkan dan mengikis semua yang ada, dan mendirikan satu barang yang baru sama sekali. Koordinasi dalam kalangan didikan itu tidaklah bisa disamakan dengan normalilasi dalam kalangan tehnik dan industri. Lantaran yang menjadi bahan dalam kalangan didikan bukanlah kayu, atau semen atau salah satu logam yang hendak ditetapkan sama rata berapa panjang, lebar dan tebalnya. Melainkan manusia yang hidup, yang mempunyai, disamping beberapa sifat-sifat yang umum, beberapa sifat dan tabiat yang terkhusus pula. Sifat dan tabiat yang tak dapat, dan memang tak boleh dibentuk dan dicetak seperti tanah liat yang dijadikan belanga.

Sekali lagi kita tidak hendak memungkiri akan adanya “sifat terkhusus” yang dicita-citakan oleh tiap pendiri dan pemimpin sekolah. Dan kalau sudah diselikiki lebih lanjut, akan ternyatalah bahwa disamping “sifat terkhusus”  itu masih luas lapangan pekerjaan yang bisa dan harus kita atur bersama mengingat kepentingan anak-anak kita yang kita didik, supaya jangan banyak tenaga yang hilang percuma.

Kalau kita menolah kekanan dan kekiri, akan kelihatanlah di negeri orang lain, seperti di Negeri Belanda umpamanya, bahwa sebahagian besar dari perguruan mereka dipegang oleh partikelir. Dari pelajaran rendah, menengah dan sampai kepada universitetnya. Didirikan oleh bermacam-macam golongan: Katolik, Protestan dengan bermacam-macam mazhabnya pula: Doopsgezinden, Adventisten, Pinskstergemeent, Calvinisten dan lain-lainnya. Masing-masing mempunyai “sifat terkhusus” akan tetapi pandai dan mungkin mereka mempersatukan isi dan rencana pelajaran. Pandai dan mungkin mereka mengadakan pada saat-saatnya yang tertentu satu “Algemeen Onderwiys Congres” dengan tidak memandang mazhab agama dan partai politik.

Kita percaya, bahwa dalam kalangan kita Musliminpun tak akan mustahil diciptakan yang demikian itu dengan tenaga bersama. Lantaran kita yakin, bahwa dalam kalangan kita kaum Muslimin masih banyak pula orang-orang yang cukup “pandai memberi”, “suka menerima”, sebagai salah satu syarat manusia bergaul dan bermasyarakat.

Masalah Chilafiyah
Perbedaan paham tentang dua-tiga masalah chilafiyah barangkali masih ada, dan barangkali belum akan kunjung habis. Kita dari golongan perguruan Islam seringkali tak mungkin menutup mata sama sekali terhadap pada peristiwa ini, lantaran sifat dan lapangan pekerjaan kita sehari-hari tidak mengizinkan kita bersikap tidak acuh terhadap soal ini. Sebaliknya jangan kita lupakan bahwa hampir 100% dari masalah-masalah yang kita berbeda paham dalamnya, adalah dalam sebahagian urusan-urusan ibadat. Dan yang berhubung dengan ibadat itupun hanya dalam dua atau tiga bab dari fiqhnya, tidak tentang pokok-pokoknya. Dan fiqh adalah baru sebahagian dari ajaran Islam yang begitu luas dan dalam. Kenapakah lantaran perbedaan paham ditentang dua atau tiga masalah itu, kita akan lari dari menjatuhkan fikiran dan usaha dalam memberi pelajaran dan didikan kepada anak-anak kita tentang ‘akaid, akhlak, mu’amalah, dan lain-lain ajaran dan hikmah Islam, serta bermacam-macam pokok kecerdasan yang bersifat keduniaan lagi?

Kita dari golongan perguruan Islam, yang seharusnya cakap dan pandai mendudukkan sesuatu pada tempatnya dan tahu pula memperbedakan cabang dengan carang, kenapakah kita gentar akan adanya pertukaran huddyah dan mubahatsah dalam kalangan kita kaum Muslimin, -yang mana pada hakikatnya adalah satu tanda dari kehidupan ruhani pula-, sehingga antara kita, satu sama lain dibiarkan menjadi putus perhubungan sama sekali. Walaupun bagaimana, anak-anak kita yang sedang kita pimpin, tak pantas dan tak boleh mendapat kerugian lantaran sentimen keengganan kita, karena diatas kita menjatuhkan tenaga itulah terletak nasib kaum Muslimin dihari depan!

Kita ada keyakinan bahwa bermacam-macam “dari” sebagai yang kita sebutkan diatas, moga-moga sekarang tidak akan menjadi alangan lagi untuk mencapai cita-cita yang sama-sama kita hadapi ini. Pekerjaan kita yang berat ini menghendaki kurban jasmani dan ruhani, termasuk kurban perasaan, yang dari sehari-kesehari lebih besar dari yang sudah-sudah. Kita wajib bersedia memberinya setiap waktu, kalau betul kita tidak rela sama-sama karam ditengah, ditertawakan oleh orang lain, oleh golongan asing yang cakap berlayar terus dalam kapal mereka yang tangkas dan laju, lantaran mereka pandai mencukupkan rukun, bijak pula menyusun tenaga. Tak pernah satu kemenangan yang besar dapat tercapai kalau tidak dengan kurban yang setimpal besarnya dengan kemenangan itu. Dan kesempurnaan didikan anak-anak kita yang bakal timbul adalah satu kemenangan yang agung, tapi yang wajib kita mengeluarkan sebesar-besar kurban untuk pencapainya!

Kita dari kalangan perguruan Islam yang sudah dikenal orang sebagai satu golongan yang tidak asing lagi dari pengertian berkurban, berkurban harta, tenaga, umur, kepentingan diri dan lain-lainnya, tentu sesaatpun tak kan enggan pula, bilamana pekerjaan dan cita-cita kita itu pada satu ketika meminta supaya kita kuat dan berani mengurbankan “perasaan hati”, yang pada hakikatnya berkecil-kecil, akan tetapi sampai sekarng amat menghalangi tiap-tiap langkah yang dianjurkan kejurusan persatuan usaha dalam kalangan perguruan-perguruan kita itu.

Deduktif dan Induktif, Kelas-Jambatan (Brugklasse)
Bilamana sudah ada badan yang akan menjadi pusat permusyawaratan, maka ada dua-tiga pula cara untuk memenuhi usaha koordinasi itu. Dari atas, yang barangkali boleh dinamakan “deduktif”, atau dari bawah, “induktif.”

Cara yang pertama, umpamanya: Perguruan tinggi menawarkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh kandidat studen yang akan diterima. Berdasar kepada tawaran itu. Perguruan Menengah mengatur rencana pelajarannya yang sepadan dengan itu. Sesudah itu terus pula menawarkan kepada Perguruan Rendah, syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kandidat-kandidat murid Sekolah Menengah nantinya. Dengan begitu rencana pelajaran segenap lapisan dapat tersesusun.

Cara yang kedua: Pemimpin-pemimpin Perguruan Rendah memulai  merancangkan satu rencana pelajaran yang sedapat-dapatnya diturut oleh kalangan Sekolah-sekolah Rendah. Rancangan itu diperbincangkan dengan wakil-wakil Perguruan Menengah, dan setelahnya musyawarat itu menghasilkan satu buah yang tertntu, maka dapatlah Perguruan Menengah mendasarkan rencana pelajarannya atas rencana pelajaran Perguruan Rendah itu pula. Dan seterusnya menjadi kewajiban pula bagi Perguruan Menengah menyediakan kesempatan bagi murid-murid yang hendak menyambung pelajaran ke Sekolah tinggi.

Maka salah satu dari cara yang dapat mengatasi tiap-tiap “sifat yang terkhusus” yang ada dari salah satu Sekolah Menengah, - sekiranya ada-, ialah: Perguruan tinggi Islam menetapkan beberapa syarat untuk masuk didalamnya. Berdasar kepada tawaran ini dan kepada rencana Perguruan Menengah yang sudah ada, Perguruan Menengah mengadakan satu atau lebih, akan satu kelas yang spesial untuk melengkapkan vak-vak yang perlu, yang ditawarkan oleh Sekolah Tinggi itu untuk murid-murid yang perlu, yang ditawarkan oleh Sekolah Tinggi itu untuk murid-murid yang tamat dari Sekolah Menengah. Rencana pelajaran dari Kelas Jambatan ini ditentukan dengan permusyawaratan antara Perguruan Menengah dan Perguruan tinggi. Malah sebaiknya, kalau Kelas Jambatan itu berada dalam pimpinan dan pengawasan Perguruan Tinggi tentang pelajarannya. Tiap-tiap tahun Perguruan tinggi mengirimkan ujian kepada Sekolah-sekolah Menengah yang mempunyai Kelas jambatan itu, untuk ujian masuk Sekolah tinggi. Tidak usah tiap-tiap Sekolah Menengah mengadakan Kelas Jambatannya. Cukup dengan ditunjukkan satu Sekolah Menengah yang mempunyai kesempatan dan kemungkinan yang lebih luas, untuk satu daerah pelajaran. Kesanakah berkumpul murid-murid lepasan dari Sekolah-sekolah Menengah Islam didaerah itu yang hendak meneruskan pelajarannya di Sekolah tinggi kelak. Dengan jalan begini ada harapan Sekolah tinggi Islam akan bisa menerima murid-murid yang lebih homogeen, sama tingkat pengetahuannya, untuk diterimanya jadi studennya.

Dengan begini “sifat terkhusus” dari Sekolah-sekolah Menengah Islam kita itu tetap terjamin, sedang persatuan usaha dan koordinasi pelajaran untuk masuk ke Sekolah tinggi Islam dapat pula dicapai.

Disini bertambah nyata kepada kita bahwa sesungguhnya kesempurnaan Pengajaran Menengah kita itu, bukanlah kepentingan Perguruan Menengah itu belaka, akan tetapi adalah salah satu kepentingan Perguruan Tinggi yang tak dapat diabaikan, malah boleh kita katakan suatu syarat yang utama untuk berdirinya. Cara yang kita kemukakan diatas ini bukanlah satu buah khayal yang tak mungkin jadi, dan bukan pula satu cara yang orisinil, akan tetapi satu cara yang telah bertahun-tahun berjalan dalam kalangan perguruan orang lain. Umpamanya Universitet Oxford tiap-tiap tahun tetap mengadakah perhubungan langsung dengan berpuluh sekolah partikelir yang bertebaran diseluruh negeri dengan mengirimkan “examenopgave”-nya kepada sekolah-sekolah itu dengan perantaraan Duta atau Konsul yang ada dinegeri itu. Menurut keterangan yang kita dapat, dari Bandung umpamanya, tak kurang dari 4 atau 5 orang murid saban tahun dapat dikirim dari satu Sekolah Menengah partikelir dengan jalan begitu, ke Universitet tersebut. Kalau sudah diatur dengan cara organisai pula, tentulah hal yang demikian bukan satu barang yang mustahil mengadakannya dalam kalangan ita.

Diferensiasi
Apabila sudah mulai berjalan, sudah tentu dalam prakteknya tak berlaku semudah apa yang kita lukiskan diatas itu semuanya. Tentu akan bertemu dengan bermacam-macam masalah lain, yang tak kurang sulitnya. Akan bertemu umpamanya disamping masalah koordinasi ini, masalah diferensiasi, yakni masalah pembahagian pekerjaan dalam perguruan, kearah vak masing-masing yang tertentu. Tak syak lagi, bahwa semua pekerjaan ini akan lebih sempurna bila dapat disertai oleh pengawasan dari Perguruan Tinggi Islam yang cita-cita itu, dalam pekerjaan mana Perguruan Tinggi Islam itu bisa memancarkan pengaruhnya keseluruh perguruan-perguruan itu, suatu hal yang sama-sama kita harapkan.

Akan tetapi, andai kata yang demikian itu tak kejadian, disitulah tempatnya Perguruan-perguruan Menengah dan Perguruan-perguruan Rendah kita menyelesaikan urusan mereka bersama-sama. Sebab dalam lapangan pendidikan kita, adanya Perguruan Tinggi Islam itu, sesungguhnya satu langkah baru, yang walaupun harus disambut dengan gembira dan syukur, akan tetapi sekali-kali bukan menjadi satu tujuan yang terpenting sendirinya bagi usaha pendidikan kita, bukan satu hal tempat menggantungkan nasibnya pendidikan anak-anak kita umumnya, yang sudah diselenggarakan sampai sekarang. Perguruan diselenggarakan bukan untuk sekolah rendah autaupun tinggi, melainkan sekolah  didirikan untuk masyarakat hidup! Perguruan Rendah dan Menengah yang teratur rapi dan cakap berbimbingan tangan antara satu dengan yang lain, entah mana yang akan lebih besar manfaatnya untuk kecerdasan bangsa kita, dibandingkan dengan bertambahnya satu-dua Sekolah Tinggi yang putus perhubungannya dengan pendidikan yang diusahakan rakyat. Apalagi bila usaha ini tetap berpecah belah, bersimpang siur.

Disamping penghargaan yang tak akan kunjung kurang, dan pengharapan yang tak akan kunjung putus terhadap kepada pendirian Sekolah Tinggi Islam dinegeri kita ini, kita dari Perguruan Islam Rendah dan Menengah jangan lupa, bahwa Perguruan Rendah dan Menengah sendiripun mempunyai hak berdiri serta mempunyai kewajiban dan tujuan yang tertentu pula.

“Permusi!
Sekali lagi, bukan dimaksud oleh rencana ini satu rancangan koordinasi yang lengkap seluk-beluknya.
Walaupun bagaimana, sesuatunya tak akan dapat berlangsung, semuanya akan tinggal khayal dan cita-cita belaka, bilamana belum ada satu badan, yang bersedia mengyunkan langkah pertama. Dan untuk inilah kita berseru kepada teman sekerja kita dalam kalangan Perguruan Islam umumnya, supaya sama-sama bersedia memajukan diri untuk mengumpulkan tenaga sedikit seorang, pencapai cita-cita ini. Kita berseru kepada pemimpin-pemimpin kita dalam kalangan perguruan Islam yang dijelang oleh seruan ini, yang berilmu lebih tinggi dan berpengalaman lebih luas, supaya sudi pula menyediakan diri berdiri didepan, memberi pimpinan dalam hal ini.

Kepada Pengemudi redaksi dan Administrasi Panji Islam, kita harapkan sudilah mengirimkan satu naskah P.I.yang memuat seruan ini kepada pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin kita dalam perguruan Islam, karena pada tempatnya kita menghadapkan seruan ini kepada beliau-beliau.

Mudah-mudahan mendapat perhatian yang sepadan pula dengan soal yang penting, yang sama-sama kita hadapi. Dari ribuan pembaca P.I. tentu ada ratusan yang duduk dalam perguruan-perguruan Islam. Dari teman sekerja yang ratusan inilh kita harapkan supaya sudi sama-samaa menyambung suara dan memperbincangkannya, dan menyatkan persetujuannya menyokong pendirian badanyang kita cita-citakan itu, umpamanya dengan mengirimkan namanya tanda persetujuan kepadaa Redaksi majalah ini dan sedapat-dapatnya dengan sedikit anjuran, dimanakah kira-kiranya baiknya didirikan untuk memulai langkah-langkah yang perlu.

Kita percaya Pemimpin P.I. akan bersedia menjadi salah satu badan perantaraan dalam urusan ini, agar mudah-mudahan lekas dapat diciptakan satu: “Perikatan Perguruan-perguruan Muslimin Indonesia”, atau dengan singkat “Permusi”. Mudah-mudahan seruan ini tidak akan sia-sia.

Dari Panji Islam


No comments:

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023