Thursday, October 04, 2012

Flipina Menekan Jumlah Penduduk...


Upaya Flipina Menekan Kelahiran

Yahoo! News – 03/10/2012
 Oleh Karen Lema | Reuters

Manila (Reuters)
Presiden Filipina Benigno Aquino sedang berseteru dengan institusi gereja Katolik yang sangat kuat di negara itu demi memberi akses bebas terhadap cara-cara membatasi pertumbuhan jumlah anak.

Negara yang sangat dominan penganut Katoliknya memiliki pertumbuhan jumlah populasi penduduk tercepat di Asia bersamaan dengan tingkat kemiskinan yang kronis. Saat negara-negara tetangganya sudah bergerak menuju kesejahteraan, pertumbuhan Filipina tersendat.

Ahli ekonomi mengatakan bahwa tingginya pertumbuhan populasi menjadi faktor utama lambatnya kesejahteraan negara membaik, namun institusi gereja tak setuju. Menurut mereka, pertumbuhan populasi bukanlah penyebab kemiskinan dan orang-orang membutuhkan pekerjaan, bukan kontrasepsi.

Aquino, yang juga seorang penganut Katolik seperti halnya 80 persen populasi negara itu, sudah memberikan dukungan pada rancangan undang-undang kesehatan reproduksi yang, jika disahkan oleh dua Kongres, menjamin akses alat kontrasepsi gratis dan mempromosikan pendidikan seks.

Keduanya akan menguntungkan seseorang seperti Liza Cabiya-an, jika saja dia mendapat kesempatan tersebut.


Cabiya-an, 39, punya 14 anak. Yang tertua berusia 22, dan yang paling muda hanya berusia 11 bulan. Rumah mereka adalah sebuah pondok di permukiman kumuh Manila.

"Susah jika Anda punya anak sebanyak ini," kata Cabiya-an, senyum malu-malunya menunjukkan giginya yang buruk. "Saya harus menghitung mereka sebelum tidur agar yakin tidak ada yang hilang."

Dulu Cabiya-an sempat mendapat akses kontrasepsi, namun walikota Manila Jose Atienza, seorang penganut Katolik yang taat, menyapu habis alat kontrasepsi dari puskesmas di seluruh kota pada 2000.

Semenjak itu, upaya Cabiya-an untuk membatasi jumlah anggota keluarganya jadi tersendat-sendat, terhambat oleh pemasukannya yang kecil. Kadang-kadang dia menggunakan pil, dan lebih dari sekali melakukan aborsi ilegal.

Dengan pemasukan 7600 pesos sebulan (Rp 1,7 juta) dari mencuci dan gaji suaminya sebagai buruh harian, Cabiya-an hanya bisa mengirim lima anak ke sekolah. Sisanya, terancam terus bergabung dengan seperempat dari 95 juta penduduk negara itu di bawah garis kemiskinan.

Kontrasepsi biasanya tersedia di Filipina meski jarang dipakai. Di Filipina, 45-50 persen wanita di usia subur, atau pasangan mereka, menggunakan metode kontrasepsi setiap saat. Di Indonesia, angka ini mencapai 56 persen, dan Thailand 80 persen.

Pertumbuhan populasi pun mencerminkan angka itu. Populasi Filipina naik 1,9 persen setiap tahun, sementara Indonesia 1,2 persen, dan Thailand 0,9 persen. Populasi Cina hanya tumbuh 0,6 persen setiap tahunnya. Jika Anda meningkatkan akses kontrasepsi buat perempuan...Anda bisa membalikkan tren kelahiran," kata Josefina Natividad, direktur Institut Populasi di Universitas Filipina.

Meski tersedia di banyak tempat, biaya kontrasepsi tak terjangkau buat kebanyakan orang. Namun hal ini akan berubah jika undang-undang kesehatan reproduksi disahkan.

Pemerintahan Aquino menjanjikan pertumbuhan inklusif dan melihat perlambatan pertumbuhan penduduk adalah kunci mencapai itu.

"Presiden, meski dengan risiko mengasingkan gereja, menyatakan bahwa undang-undang ini adalah prioritas," kata Menteri Anggaran Florencio Abad. "Pesan ini sangat jelas."

"Negara Dilumpuhkan"
Tapi ini adalah pesan yang tak disukai gereja.

Menurut mereka, kontrasepsi buatan tak bermoral, dan undang-undang ini akan merintis jalan untuk melegalkan aborsi.  Undang-undang ini tidak melegalkan aborsi, namun meningkatkan perawatan buat perempuan yang menderita komplikasi setelah menjalani aborsi ilegal.

Menurut gereja, orang lebih baik menggunakan keluarga berencana alami.

Mereka berpendapat bahwa kemiskinan adalah sebab, bukan dampak, dari angka kelahiran tinggi. Anak-anak dilahirkan ke rumah tangga tanpa memiliki makanan cukup karena pemerintah gagal menghabisi korupsi dan menyediakan pekerjaan, kata uskup.

"Kepercayaan kami sangat kuat bahwa kontrasepsi tidak akan menjadi jawaban," kata Pastur Melvin Castro, sekretaris eksekutif dari Konferensi Uskup Katolik di Komisi Keluarga dan Kehidupan Episkopal di Filipina.

"Mereka miskin bukan karena mereka tak memiliki kontrasepsi namun karena tak punya pekerjaan. Beri mereka pekerjaan dan ini akan menjadi alat penjarakan kelahiran yang paling efektif buat mereka."

Para ahli ekonomi berpendapat bahwa oposisi gereja yang terus-menerus menjadi faktor penting yang memengaruhi kebijakan penduduk. "Negara...dibuat lumpuh dari upaya menyelesaikan masalah ini karena posisi keras dari hierarki Katolik," kata kelompok 30 ekonom dari Universitas Filipina lewat laporan penelitian mereka.

Meski terjadi perdebatan antara gereja dan lawan politik yang tak setuju menggunakan anggaran negara demi membiayai kontrasepsi, sebuah polling tahun lalu menunjukkan 70 persen masyarakat mendukung undang-undang ini. Pendukungnya ingin undang-undang tersebut disahkan pada masa kerja kongres ini yang berakhir Juni.

Menurut para ekonom, jika Filipina ingin mengambil keuntungan dari 'dividen demografik', saat tenaga kerja yang muda dan jumlah besar menghasilkan tabungan dan investasi untuk mendorong ekonomi negara, maka menurunkan tingkat kelahiran harus dilakukan.

Usia rata-rata di Filipina adalah 22,2, dibandingkan dengan 25 di Malaysia, India 25,1, dan Indonesia 27,8. Tak seperti negara lain yang menua seperti Jepang, yang orang-orang lanjut usianya membebani angkatan pekerja, di Filipina anak-anaklah yang menyerap sumber daya yang harusnya bisa dialihkan ke tabungan dan investasi.

Untuk setiap 100 orang bekerja di Filipina, mereka harus menanggung 58 orang lainnya, menurut data Bank Dunia. Bandingkan dengan 40 di Indonesia dan 29 di Thailand.

"Jendela demografik ini hanya akan terbuka jika tingkat kelahiran turun dengan cara yang memungkinkan populasi anak muda tumbuh lebih lambat daripada pertumbuhan usia pekerja," kata Arsenio Balisacan, menteri perencanaan sosial ekonomi.

Aquino mungkin tak terlihat seperti pendukung kontrasepsi gratis. Mendiang ibunya, Corazon Aquino, menjadi tokoh utama revolusi people power atas dukungan gereja, dan menumbangkan diktator tua Ferdinand Marcos pada 1986.

Marcos juga menjadikan pengendalian penduduk sebagai prioritas pada 1960an dan memasukkan keluarga berencana pada konstitusi 1973. Namun Corazon Aquino, mengingat jasa gereja dalam gerakan demokrasi, menghapus klausa tersebut saat piagam ditulis ulang pada 1987.

(Penyuntingan oleh Robert Birsel)
Foto-foto : Reuters

No comments:

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023