Sejarah Pengungsi Vietnam di Pulau Galang
Bekas camp Pengungsi Vietnam yang berada di Pulau Galang,
pengunjung bisa melihat bagaimana kehidupan para pengungsi
pada tahun 70-an. Seperti apa adanya dan terawat dengan baik,
bahkan pemakaman yang luas.
Pada tahun 75-an, terjadi pengungsian besar-besaran rakyat Vietnam ketika pemerintahan komunis berkuasa penuh setelah Amerika Serikat angkat kaki dari Vietnam. Para pengungsi tersebut melarikan diri dengan perahu kayu ke selatan, kemudian mereka disebut “manusia perahu”. Mereka mendarat di pulau mana saja di luar negaranya, untuk mencari keselamatan. Ada yang mendarat di pulau-pulau Thailand, Malaysia, dan Fliphina. Di Indonesia mereka mendarat di Pulau Natuna, Pulau Terempa, Pulau Anambas, dan pulau lainnya. Negara-negara penampung kemudian membangun fasilitas pengungsi.
Tahun 1979 (1975), Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNHCR PBB mendirikan fasilitas penampungan pengungsi dari Vietnam, Laos dan Kamboja untuk menampung sekitar 250.000 orang. Para pengungsi dikumpulkan dari pulau Pulau Natuna, Pulau Terempa, Pulau Anambas, dimana mereka terdampar. Mayoritas pengungsi berasal dari Vietnam.
Camp pengungsi tersebut dilengkapi dengan sarana pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, pemakaman dan tempat tinggal. Para pengungsi diawasi secara ketat oleh kepolisian Indonesia.
Pada tahun 1996, camp pengungsi Galang ditutup karena pengungsi diterima oleh negera lain seperti Amerika Serikat, Australia dan Canada. Dan, ada pula yang dikembalikan ke negara asal, karena tidak ada negara yang bersedia menampung mereka.
Pemerintah Indonesia tidak pula menghapus sejarah, tetap mempertahankan dan memelihara kawasan ex pengungsi tersebut, tidak seperti negara penampung pengungsi lainnya. Camp pengungsi di Thailand dan di Malaysia sudah tidak ada. Malaysia ingin kembali membangun ex camp pengungsi untuk tujuan wisata, tetapi mereka tidak memiliki pengetahuan untuk membangunnya. Mereka datang ke Pulau Galang untuk mencari contoh. Di ex camp pengungsi masih berdiri tempat ibadah, Rumah Sakit PMI, tempat tinggal, bahkan pemakaman. Dokumentasi foto masa-masa keberadaan pengungsi bisa disaksikan di meseum pengungsi Pulau Galang.
Pemerintah Indonesia tidak mengizinkan ex pengungsi mengambil bahkan keremasi kerangka jenazah. Pemakaman pengungsi Vietnam yang luas dirawat dengan baik.
Bagi ex pengungsi, Pulau Galang tetap dikenang. Meski sudah nyaman hidup di negara penampung, mereka tetap membawa “Galang” dalam kehidupan mereka. Misalnya, mereka menamakan “Galang” untuk nama toko, rumah makan dan bisnis lainnya. Kenangan terhadap Pulau Galang begitu berbekas, banyak dari mereka kembali ke ex camp pengungsi untuk mengenang masa lalu mereka yang buruk. Kedatangan ke makam, merupakan kunjungan yang sangat emosional. Disinilah mereka mendapatkan kesan bahwa mereka yang masih hidup dan yang sudah dimakamkan dihargai oleh pemerintah Indonesia. Mereka ingin membawa kerangka orangtua mereka, atau mengkremasikan, namun pemerintah Indonesia tidak mengizinkan.
Camp pengungsi Pulau Galang merupakan penanganan pengungsi terbaik yang pernah ada. Menjadi kenangan yang tak terlupakan oleh ex pengungsi secara turun temurun.
Pulau Galang tahun 70-an, tidaklah seperti Pulau Galang saat ini. Pulau Galang pada masa itu, salah satu dari gugusan dari Pulau Batam sampai ke Pulan Galang, hanya bisa diakses dengan kapal-kapal berukuran kecil. Tersuruk, dan tidak mudah diakses. Dan, tidak ada jalan darat untuk kendaraan bermotor. Tahun awal 90-an saja, ketika saya berkunjung ke Pulau Rempang, saya mencapainya melalui Tanjungpinang dengan perahu.
Pulau Batam, Pulau Toton, Pulau Nipah, Pulau Setoko, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru merupakan gugusun pulau apa yang kita kenal sekarang sebagai Barelang (Batam, Rempang, Galang). Barelang sendiri indentik dengan jembatan yang menghubungkan ke tujuh pulau di Provinsi Riau Kepulauan itu.
Jembatan Barelang dibangun tahun 1992 hingga 1998 atas prakarsa B.J. Habibie untuk menghubungkan tujuh pulau tersebut.
Jembatan Tengku Fisabilillah atau Jembatan Barelang I, menghubungkan Batam dan Pulau Tonton sepanjang 642 meter. Jembatan yang ikonik ini merupakan jembatan terpanjang dari keenam jembatan lainnya.
Jembatan Nara Singa atau Jembatan Barelan II, dengan panjang total 420 meter menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah.
Jembatan Raja Ali Haji atau Jembatan Barelang III, sebuah jembatan dengan panjang 270 meter menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setoko.
Jembatan Sultan Zainal Abidin atau Jembatan Barelang IV, dengan panjang 365 meter menghubungkan Pulau Setoko dengan Pulau Rempang.
Jembatan Tuanku Tambusai atau Jembatan Barelang V, jembatan lengkung yang panjangnya 385 meter, menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang.
Jembatan Raja Kecik atau Jembatan Barelang VI, merupakan jembatan terpendek dengan panjang total 180 meter, menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru.
Ide BJ Habiebie membuat jembatan pada tahun 1992 untuk mengembangkan ekonomi di pulau-pulau tersebut, terbukti saat ini. Ketujuh pulau tersebut berkembang menjadi kawasan perdagangan, industri, pariwisata dan kelembagaan negara. Dengan jalan raya besar dan aspal yang bagus, disetiap pulau bermunculan hotel, cottage dan spot wisata.
Barangkali sesuatu yang tidak terduga dahulunya, Trans Barelang sudah menjadi distinasi wisata mancanegara. Singapore, Malaysia, sebut saja dua negara itu, banyak menikmati rute Trans Barelang, baik itu dengan bersepeda, atau tour group.Trans Barelang merupakan track bersepada favorit bagi orang Singapore dan Malaysia, Jembatan Barelang merupakan daya tarik tersendiri.
No comments:
Post a Comment