Sunday, September 13, 2026

Ex Camp Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Kepri

                       Sejarah Pengungsi Vietnam  di Pulau Galang

Bekas camp Pengungsi Vietnam yang berada di Pulau Galang, 
pengunjung bisa melihat bagaimana kehidupan para pengungsi 
pada tahun 70-an. Seperti apa adanya dan terawat dengan baik, 
bahkan pemakaman  yang luas.

Pada  tahun 75-an, terjadi pengungsian besar-besaran rakyat Vietnam ketika pemerintahan komunis berkuasa penuh setelah Amerika  Serikat angkat kaki dari Vietnam. Para pengungsi tersebut melarikan diri dengan perahu kayu ke selatan, kemudian mereka disebut “manusia perahu”.  Mereka mendarat di pulau  mana saja di luar negaranya, untuk mencari keselamatan. Ada yang mendarat di pulau-pulau Thailand, Malaysia, dan Fliphina. Di Indonesia mereka mendarat di  Pulau  Natuna, Pulau Terempa, Pulau Anambas, dan pulau lainnya. Negara-negara penampung kemudian membangun  fasilitas pengungsi.

Tahun 1979 (1975), Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNHCR PBB mendirikan  fasilitas penampungan pengungsi  dari Vietnam, Laos dan Kamboja untuk menampung sekitar  250.000 orang. Para pengungsi dikumpulkan dari pulau Pulau Natuna, Pulau Terempa, Pulau Anambas, dimana mereka terdampar. Mayoritas pengungsi berasal dari  Vietnam.
Camp pengungsi tersebut dilengkapi  dengan sarana pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, pemakaman dan tempat tinggal. Para pengungsi diawasi secara  ketat oleh kepolisian Indonesia.

Pada tahun 1996, camp pengungsi Galang ditutup karena  pengungsi diterima oleh negera lain seperti Amerika Serikat, Australia dan Canada. Dan, ada pula yang dikembalikan ke negara asal, karena tidak ada  negara yang bersedia menampung mereka.

Pemerintah Indonesia tidak pula menghapus  sejarah, tetap mempertahankan  dan memelihara kawasan ex pengungsi tersebut, tidak seperti negara penampung  pengungsi lainnya.  Camp pengungsi di Thailand dan di Malaysia sudah tidak ada. Malaysia ingin kembali membangun ex camp pengungsi untuk tujuan wisata, tetapi mereka tidak memiliki pengetahuan untuk membangunnya. Mereka datang ke Pulau Galang untuk mencari contoh. Di ex camp pengungsi masih berdiri tempat ibadah, Rumah Sakit PMI, tempat tinggal, bahkan pemakaman. Dokumentasi foto masa-masa keberadaan pengungsi bisa disaksikan di meseum pengungsi Pulau Galang.

Pemerintah Indonesia tidak mengizinkan ex pengungsi  mengambil bahkan keremasi  kerangka jenazah.  Pemakaman pengungsi Vietnam yang luas dirawat dengan baik.

Bagi ex  pengungsi, Pulau Galang tetap dikenang. Meski sudah nyaman hidup di negara penampung, mereka tetap membawa “Galang” dalam kehidupan mereka.  Misalnya, mereka menamakan “Galang” untuk nama toko, rumah makan dan bisnis lainnya. Kenangan terhadap Pulau  Galang begitu berbekas, banyak dari mereka kembali ke ex camp pengungsi untuk mengenang masa lalu mereka yang buruk. Kedatangan ke makam, merupakan kunjungan yang sangat emosional. Disinilah mereka mendapatkan kesan bahwa mereka  yang masih hidup dan yang sudah dimakamkan dihargai  oleh pemerintah Indonesia. Mereka ingin membawa kerangka orangtua mereka,  atau mengkremasikan, namun  pemerintah Indonesia tidak mengizinkan.  

Camp pengungsi Pulau Galang merupakan penanganan pengungsi  terbaik yang pernah ada. Menjadi kenangan yang tak terlupakan oleh ex pengungsi  secara turun temurun.  

Pulau Galang tahun 70-an, tidaklah seperti Pulau Galang saat ini. Pulau Galang pada masa itu, salah satu dari gugusan dari  Pulau Batam sampai ke Pulan  Galang, hanya bisa  diakses   dengan kapal-kapal berukuran kecil. Tersuruk, dan tidak  mudah diakses.  Dan, tidak ada jalan darat untuk kendaraan bermotor. Tahun awal 90-an saja, ketika saya berkunjung ke Pulau Rempang, saya mencapainya melalui  Tanjungpinang  dengan perahu. 

Pulau Batam, Pulau Toton, Pulau Nipah, Pulau  Setoko, Pulau   Rempang, Pulau  Galang, dan Pulau Galang Baru merupakan gugusun pulau apa yang kita kenal sekarang sebagai Barelang (Batam, Rempang,  Galang). Barelang sendiri indentik dengan jembatan yang menghubungkan ke tujuh pulau di Provinsi Riau Kepulauan itu.


Jembatan Barelang dibangun tahun 1992 hingga 1998 atas prakarsa B.J. Habibie untuk menghubungkan tujuh pulau tersebut.


Jembatan Tengku Fisabilillah atau Jembatan Barelang I, menghubungkan Batam dan Pulau Tonton sepanjang 642 meter. Jembatan yang ikonik ini   merupakan jembatan terpanjang dari keenam jembatan lainnya. 


Jembatan Nara Singa atau Jembatan Barelan II,  dengan panjang total 420 meter menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah.

Jembatan Raja Ali Haji  atau  Jembatan Barelang III, sebuah jembatan  dengan panjang  270 meter  menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setoko.

Jembatan Sultan Zainal Abidin atau Jembatan Barelang IV,  dengan panjang  365 meter  menghubungkan Pulau Setoko dengan Pulau Rempang.

Jembatan Tuanku Tambusai atau Jembatan Barelang V, jembatan lengkung yang panjangnya 385 meter, menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang. 

Jembatan Raja Kecik atau Jembatan Barelang VI, merupakan  jembatan terpendek dengan panjang total 180 meter, menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru.

Ide BJ Habiebie membuat  jembatan pada tahun 1992  untuk mengembangkan  ekonomi di pulau-pulau tersebut, terbukti saat ini. Ketujuh pulau tersebut berkembang menjadi kawasan perdagangan, industri, pariwisata dan kelembagaan negara. Dengan jalan raya besar dan aspal yang bagus, disetiap pulau bermunculan hotel,  cottage  dan  spot wisata.
   

Barangkali sesuatu yang tidak terduga dahulunya, Trans  Barelang sudah menjadi distinasi wisata mancanegara. Singapore, Malaysia, sebut saja dua negara  itu, banyak menikmati rute Trans  Barelang, baik itu dengan bersepeda, atau tour group.Trans  Barelang merupakan track bersepada favorit bagi orang Singapore  dan Malaysia, Jembatan Barelang merupakan daya tarik tersendiri.       
                   




Ex Camp Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Kepri

                       Sejarah Pengungsi Vietnam  di Pulau Galang Bekas camp Pengungsi Vietnam yang berada di Pulau Galang,  pengunjung ...