Thursday, June 20, 2019

Serial Kawasan Wisata Flores, Nusa Tenggara Timur. Bagian II



Labuan Bajo, oh Labuan Bajo….
Berdebu, Tumpukan Sampah, Lalu lintas yang kacau…

Labuan Bajo dulunya berupa kampung nelayan, yang didiami oleh masyarakat Bajo dari Sulawesi. Kawasan kemudian berkembang secara alami, sebagai pijakan berikutnya bagi wisatawan yang hendak mengunjungi hewan komodo di Pulau Rinca, dan pulau lainnya. Nelayan Bajo, adalah pemberi jasa transportasi laut awalnya, sebelum investor datang dengan kepal cepat dan kapal pesiar. Warga asli keturuan Bajo tersebut masih bermukim di Labuan Bajo, di sepanjang pusat wisata.

Kawasan pantai Labuan Bajo berlahan datar sempit. Selebihnya, perbukitan yang mana kemudian berkembang sebagai kawasan perkantoran dan pemukiman.

Kabupaten Mangarai Barat merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai berdasarkan Undang Undang No. 8 Tahun 2003. Wilayahnya meliputi daratan Pulau Flores bagian Barat dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, diantaranya adalah Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Seraya Besar, Pulau Seraya Kecil, Pulau Bidadari dan Pulau Longos. Luas wilayah Kabupaten Manggarai Barat adalah 9.450 km² yang terdiri dari wilayah daratan seluas 2.947,50 km² dan wilayah lautan 7.052,97 km².

Labuan Bajo merupakan gerbang wisata bukan saja untuk melihat Komodo, tetapi juga melihat kawasan ekskotis lainnya di Pulau Flores. Biasanya, setelah mendatangi Komodo, wisatawan asing, akan melanjutkan perjalanan ke kawasan lainnya di Flores, seperti ke Kampung Adat Wae Rebo, ke Ruteng, Bajawa, dan ke kelimutu.
Kota yang tekenal ini, sayangnya tidak menggambarkan sebagai etalase atau outlet wisata. Kota ini hanya fokus dan terlena menjual komodo. Tamu tidak akan mendapatkan informasi pandang mata di pusat-pusat wisatawa, seperti di pelabuhan, bandara, di titik kumpul wisatawan. Sedangkan di Bandara Komodo, informasi yang menonjol hanya kunjungan ke Komodo.

Kota ini terabaikan. Kotor dan berdebu. Tumpukan sampah membuat kesan yang tidak baik bagi pengunjung.
Di koridor wisata, tepatnya di Jalan Yos Sudarso, lalu lintas kendaraan pribadi, kendaraan wisata dan angkutan ekspedisi menjadi satu. Jalan Yos Sudarso, disandingkan dengan Bali, seperti Jalan Raya Kuta, Jalan Siminyak dan Jalan Legian – dimana terpusat kegiatan tourisme.

Disepanjang jalan ini, pusatnya bisnis pariwisata, hotel, café, rumah makan, jasa wisata, pelayanan daving, perbankan, mini market, dan sebagainya. Betapa kacaunya jalan ini, ketika dilewati oleh truck-truck pengangkut barang, sehingga menggangu aktivitas dan kesantaian turis.

Sebaiknnya pemerintah daerah menyediakan jalan sendiri untuk transportasi besar. Keadaan macam itu, membuat enggan turis melakukan kegiatan di uar hotel.

Jarak antar kota :
Labuan Bajo – Waerebo          : 112 km
Labuan Bajo – Ruteng             : 126 km


























No comments:

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023