Monday, November 26, 2012

Bersepeda di Papua...!



BERSEPEDA DI LEMBAH BALIEM
“Sejak 37 tahun lalu saya berniat bersepeda di Wamena, tapi Anda sudah kesana. Selamat Bung Rizal,” komentar Don Hasman, fotografer kondang Indonesia.
Don Hasman telah menjelajahi kawasan Lembah Baliem, dan bahkan mengayuh sepeda sampai ke Kalimanjaro, Afrika. Tapi, keinginannya bersepeda di Lembah Baliem, di Daratan Tinggi Jayawijaya belum kesampaian. Dia antusias memberi semangat untuk saya.
Belum pernah saya bermain sepeda segugup ini, baik sendiri maupun beramai-ramai. Ketika saya merangkit sepeda, setelah diturunkan dari pesawat, saya bagai hendak naik ke panggung. Mungkin karena lokasinya berada jauh, dan disuatu kawasan yang paling ekskotis di Indonesia, yaitu di Lembah Baliem, Jayawijaya, Papua dan mungkin karena saya obsesive. Dan saya akan ke Wosilimo, menghadiri acara Festival Lembah Baliem - yang berada 20 km dari Wamena.
Matahari condong dari belakang saya ketika sepeda mulai di gowes dari Jalan Trikora, Wamena. Udara dingin pegunungan Papua itu, cukup terasa, apalagi menyongsong udara ketika bersepeda.
Pagi-pagi keluar dari kota Wamena jalan raya sibuk sekali. Kendaraan angkutan umum, sepeda motor, para pelajar berjalan kaki dan bersepeda, serta masyarakat meramaikan jalan raya. Terasa sekali kesibukan pagi. Sepanjang jalan menjelang waktu masuk sekolah, para pelajar Sekolah Dasar sebagian besar tanpa alas kaki, bergegas-gegas menuju sekolahnya. “Selama pagi adik-adik,” sapa saya.
“Selamat pagi. Dah,dah…,” balas mereka.


Makin jauh meninggalkan kota, keadaan semakin sepi. Sesekali berpapasan dengan sepeda motor dan kendaraan umum. Tidak ada aktivitas yang signifan. Sesekali bertemu dengan warga lokal.
“Selamat pagi bapak. Selamat pagi Mama !,” sapa saya.
“Selamat pagi, selamat pagi !,” jawab mereka hangat.
Masyarakat Papua memang hangat. Mereka antusias terhadap orang lain.
Jalan raya menuju Wosilimo, beraspal halus dan landai. Jalan ini membelah Lembah Baliem sampai ke Distrik Kabuga.  Inilah daratan tinggi terluas di Indonesia yang dapat dilalui oleh kendaran bermotor. Di kiri dan di kanan, berbaris pegunungan. Di Distrik Karulu, khusus Akima misalnya, terdapat daratan yang amat luas dan berawa. Mungkinkah ini dulu danau purba ?  
Mengayuh sepeda disepanjang jalan ini tentu mendapatkan pengalaman tersendiri karena tidak ditemukan di kawasan manapun di Indonesia. Daratan yang luas dan lapang, tebing-tebing batu, dan rumah – rumah tradisionil Papua, yaitu honey.
Pada rute ini, dapat dikunjungi mumi Jiwika dan danau air garam pada jarak tempuh sekitar 15 km. Wisata goa di Kontilola, Sikepalki dan Lokale. Juga dapat mengunjungi Mumi di Akima dan kediaman Obahorok almarhum, di Desa Pamuba. Kawasan wisata ini berada di Distrik Karulu. Sayangnya, otoritas wisata, tidak menyediakan petunjuk jalan menuju kawasan-kawasan wisata tersebut. Meski saya sudah mendatangi Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Jayawijaya di Wamena, tidak menyiapkan peta detil wisata di kawasan Lembah Baliem.
Tidak sebagaimana di Pulau Jawa atau Pulau Sumatera, di jalan utama Kabupaten Jayawijaya ini tidak ditemui perkampungan dalam arti sebuah kumonal. Yang dijumpai hanya beberapa rumah berdekatan. Juga tidak akan ditemui warung, sekalipun hanya untuk membeli air minum. Namun demikian, jalan-jalan pedesaan sebagian besar sudah beraspal dan dialiri listrik. Lalu dimanakah masyarakat pedalaman bermukim ? Mereka bermukim dalam kelompok-kelompok kecil di celah-celah perbukitan.
Tiba-tiba saja muncul seorang anak muda dari jalan setapak dengan sepeda ketika saya mengencangkan sumbu roda sepeda di dekat kantor Polsek Kurulu. Deminus Mabel, namanya. Dia hendak ke Wosilimo, menghadiri acara Festival Lembah Baliem, yang lebih populer disebut acara “perang-perangan.”  Bersama dia, saya menggowes ke Wosi, nama lain untuk Wosilimo.
“Berapa kilomoter lagi Wosi,” tanya saya.
“Tidak tahu Bapak. Nanti dibalik bukit itu,” terang Deminus, alah wualam.
Tak lama kami menggowes, dua buah truck terbuka behenti ditepi jalan. Truck tersebut sudah diisi oleh warga yang hendak ke Wosi untuk berpartisipasi dalam acara “perang-perangan”.  Mereka sudah siap dengan pakaian perangnya dan senjata di tangan. Pakaian perang mereka adalah koteka, ikat kepala dan tubuh yang dirias dengan tepung dicampur getah. Senjata mereka terdiri dari panah dan tombak. Seseorang mengatur para “pasukan” perang tersebut, karena masih menunggu yang lainnya datang. Ternyata, mereka ini satu kampung dengan Deminus.
Jalan mulai buruk, karena sedang dalam perbaikan. Sepeda Deminus beberapa kali melaju tak terkendali. Rupanya sepedanya tidak memiliki rem. Saya periksa remnya, ternyata sling rem dan tuas rem tidak lengkap. Karena memburu waktu, saya tidak mau membuang-buang waktu memperbaiki rem sepedanya.
Tibalah kami disuatu kawasan terbuka yang luas. Tampak ada keramaian disini. Beberapa kendaraan kecil dan besar diparkir. Ada umbul-umbul dan hiasan-hiasan. Sebuah lapangan rata berumput, lebih kurang tiga kali ukuran lapangan sepak bola, terdapat podium dan tribun penonton. Tribun tersebut panjang dan kiranya mampu menampung seribu penonton. Inilah Wosilimo.
Daratan yang luas. Satu sisi di belakang tribun terdapat jajaran perbukitan bagai benteng. Disisi lain, di kejauhan hanya kelihatan ujung-ujung perbukitan. Lapangan tersebut berada di persimpangan jalan. Ke barat ke Distrik Kabuga, sedangkan ke utara jalan melingkar ke arah jalan utama. Tidak ada apa-apa di lingkungan lapangan ini. Tidak ada rumah dan tidak ada warung.
“Ini lapangan milik adat,” terang Bapak Jon, sesepuh adat Wosilimo.
Wosilimo kurang dikenal dan bukan distinasi map wisata di Wamena. Di Wosi, dimana pehelatan akbar Lembah Baliem diadakan,  memang tidak punya apa-apa untuk dikunjungi. Lalu mengapa perhelatan rakyat Lembah Baliem diadakan disana ? Tapi inilah lapangan terluas yang ada dan berada di kawasan terbuka. Selain itu, Wosilimo terhubungkan dengan jalan raya yang baik.

Kelompok demi kelompok pengisi acara memasuki lapangan. Kelompok pengisi acara tersebut berasal dari setiap distrik atau kecamatan. Setiap distrik menampilkan kelompok perang, penari dan pemain musik. Para pemain “perang-perang”, memasuki lapangan dalam irama perang, bernyanyi dan berteriak-teriak pembangkit semangat.
Penonton pun berbondong-bondong memasuki arena. Banyak pula bangsa asing yang hadir, dan selain para fotografer dari berbagai daerah. Semuanya menempati tribun yang disediakan.
Di lapangan terdapat dua buah tiang tinggi yang terbuat dari jalinan kayu. Diujung tiang tersebut, terdapat sangkar. Tiang tersebut bernama kayoh.
Silas Walela, sesepuh adat Wosilimo, menerangkan, bahwa kayoh berfungsi sebagai menara pengintai musuh. Silas pulalah yang mengatur siasat “perang-perangan” pada acara tersebut.
“Kayoh ini dulu, benar-benar digunakan untuk perang. Sekarang hanya untuk acara perang-perangan saja,” terang Silas yang saat itu berperan sebagai Panglima Perang salah satu kampung - yang dalam skanario terlibat dalam peperangan dengan kampung lain.
Acara perang-perangan menjadi acara utama dalam rangkaian pertunjukan. Disamping “perang-perangan”, diperagakan pula cara memasak tradisionil Papua, yaitu bakar batu, tarian-tarian, musik, pacu babi, dan permainan anak-anak.
Masyarakat sangat antusias menyaksikan acara tahunan ini. Tribun yang besar tersebut tak mampu menampung seluruh penonton. Penonton yang tidak kebagian tempat duduk, berdiri di pinggir lapangan yang dipagari dengan tali plastik.
Pedagang dadakan pun ramai. Untuk makanan siap saji, pedagang datang dari Wamena. Warga setempat turut pula berjualan, seperti makanan kecil, rokok, minuman, buah pinang dan buah jeruk.
Para wisatawan membekali dirinya dengan makanan dan minuman. Mereka datang dengan dengan kendaraan sewaan, baik itu mobil atau sepeda motor. Wisatawan lokal datang dengan kendaraan umum, menumpang truck, sepeda motor dan berjalan kaki.
Deminus setia menunggui sepeda saya - yang saya senderkan di tribun, sementara saya sibuk memotret. Dia berasal dari Kampung Obiah, Distrik Kurulu. Sepertinya dia buta huruf, dan tidak tahu berapa usianya, tapi dia memiliki HP.
Sekitar jam 16.00, saya meninggalkan arena bersama Deminus. Saya harus kembali ke Wamena. Ditengah keramain, kami mendorong sepeda di lapangan yang becek. Belum jauh kami meninggalkan Wosilimo, sepeda saya bermasalah. Ban dalam pecah, sedangkan ban dalam cadangan sudah saya gunakan pula. Ternyata velg sepeda saya bermasalah, sehingga melukai ban dalam.
Sepeda saya dorong-dorong, sembari menunggu tumpangan kendaraan ke Wamena. Setelah beberapakali meminta tumpangan, akhirnya sebuah truck berhenti, kami dipersilahkan naik.
Deminus turun di dekat Polsek Kurulu. Kami berpisah dengan salam khas Lembah Baliem, yaitu kaonak, dengan menjepitkan dua jari dan ditarik mengeluarkan bunyi. Saya berikan kepadanya satu set rem cadangan dan satu kunci sepeda sebagai kenangan-kenangan.
Wosilimo bukan satu-satunya rute sepeda yang menarik untuk dikunjungi. Ke arah timur Wamena, tepatnya ke Wikima, akan ditemukan alam eksotis lainnya.
Saya tidak mengalami kendala dan gangguan bermain sepeda di kawasan Lembah Baliem. Yang penting adalah perencanaan perjalanan yang matang, sepeda selalu dalam keadaan siap pakai, dan kepastian tiket pesawat kembali ke Jayapura. Sebab, mendapatkan tiket dari Wamena ke Jayapua lebih sulit dibandingkan dari Bandara Sentani (Jayapura) ke Wamena. Harga tiket ke Jayapura – Wamena Rp. 700.000, dilayani oleh Trigana Air, Susi Air, dan Cessna. Tempatilah hotel yang murah-murah saja, dengan tarif  termurah  Rp. 300.000, sebab pengeluaran di Wamena sangat tinggi. Sebagai contoh, sebotol minuman mineral ukuran 1500 ml, harganya Rp. 20.000. Makan di warung Padang, Rp. 25.000 untuk satu porsi. 

Transportasi umum tersedia untuk pedesaan. Angkutan dalam kota dilayani becak dengan tarif Rp. 5000 sampai Rp. 10.000.
Bank dan ATM dilayani oleh BRI dan Bank Mandiri.  (Rizal Bustami)

 
Lihat Sepeda Wamena di peta yang lebih besar































5 comments:

Beny said...

adakah saran yang bisa bapak berikan untuk membawa sepeda di bagasi pesawat menuju wamena, terimakasih sebelumnya

Beny said...

Apa saran bapak dalam menyiapkan sepeda (mengemas) sepeda sehingga mudah dibawa ke bagasi pesawat menuju wamena..terimakasih

Melihat Indonesia said...

Bung Beny, saya sudah berkali-kali membawa sepeda terbang, dengan maskapai berbeda. Mengemas sepeda untuk penerbangan: Kedua ban dilepas, angin dikurangi. Kedua pedal dilepas. Sadel diturunkan. Kedua band mengapit batang sepeda, diikat pada vleg. Stang sejajar dengan batang/fram. Sling/tali rem pada cakram dilepas, sebaikanya rem dilepas. Sochk dibngukus. Gear dibungkus dengan kain. Setelah itu, lilit/bunghkus seluruh sepeda dengan pelastik. Kemudian direkatkan dengan lakband. Di Bandara Soekarno-Hatta, tersedia jasa pembungkusan bagasi. Sampai ditujuan, plastik pembungkus jangan dibuang, untuk digunakan penerbangan pulang. Sebab, tidak semua Bandara di Indonesia menyediakan jasa pembungkusan. Biaya pembungkusan bagasi Rp. 40.000. Bawa lakban dan tali rapia dalam perjalanan. Sepeda tidak terkena biaya bagasi, karena beratnya kurang dari 20 kg. Sebaiknya bawa ban dalam dan ban luar serta sling rem cadangan.Termasuk kunci-kunci. Khusus di Wamena, terdapat bengkel sepeda, tapi hanya untuk sepeda biasa. Dari Bandara Sentani, banyak tersedia penerbangan ke Wamena diantaranya Trigana Air dan Swiss Air. Dari Bandara Wamena menuju kota, bisa menggunakan jasa becak dengan tarif Rp.15.000 sampai Rp. 20.000, lebih murah dibandingkan taksi.

etbandung said...

jika saja pemerintah pemerintah memberikan perhatian lebih untuk saudara saudara kita yang berada di pulau timur dengan edukasi, sumber daya pangan, sdm dan Tempat Les Bahasa Inggris tentu perekonomian akan berangsung membaik dan menambah pendapatan devisa negara dari lalu lintas wisatawan yang berdatangan

Melihat Indonesia said...

Saya banyak melakukan perjalanan di Papua. Salah satunya Papua bagian selatan, yaitu rute Merauke Tanah Merah, Boven Digul. Jalan raya beraspal disisi perbatasan dengan Papua Newguine. Jalan yang panjangnya 450 km tersebut dibangun pada zaman SBY.

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023