Tuesday, May 01, 2012

CHINA DEKATI INDONESIA
Eko Hendrawan Sofyan
Sabtu, 28 April 2012
 
JAKARTA, KOMPAS.com
Asia, terutama Asia Timur, merupakan kawan yang penuh dengan vitalitas di dunia. China ingin bergandengan tangan dengan Indonesia untuk mendorong kemajuan, perdamaian, dan kemakmuran Asia, serta membangun orde politik ekonomi global yang lebih adil dan rasional.

Demikian salah satu pokok pikiran petinggi Partai Komunis China (PKC), Li Changchun, dalam kuliah umum di depan sivitas akademika Universitas Indonesia di Depok, Jumat (27/4). Dia membawa serta delapan menteri terkait dan politisi teras partai berkuasa dalam kabinet Presiden Hu Jintao.

Li, pria kelahiran Dalian, Provinsi Liaoning, Februari 1944, ini, mengawali karier politik di lingkup PKC pada 1975. Dia pernah menjabat Wali Kota Shenyang, Liaoning, dan Gubernur Liaoning. Kini selain pemimpin tinggi, dia juga kepala propaganda yang mengontrol media dan internet.

China, atau Tiongkok menurut versi terminologi Li, saat ini tercatat sebagai kekuatan ekonomi nomor dua yang amat menentukan di dunia. Sementara Indonesia adalah negara terbesar di kawasan regional ASEAN. Keduanya sesama negara yang berpengaruh besar di kawasan ini.

Menurut Li, kerja sama multidimensi yang diperluas dan diperdalam sesuai kepentingan rakyat kedua negara bermanfaat untuk perdamaian serta kestabilan dan kemakmuran kawasan ini. Kerja sama seperti itu juga bermanfaat untuk persatuan dan kemajuan negara-negara berkembang lain.

 ”Tiongkok bersedia bersama Indonesia terus-menerus mempererat kerja sama bilateral yang strategis dalam jangka panjang. Ini penting untuk memelihara perdamaian dan kemakmuran Asia, membangun orde politik global yang lebih adil dan rasional,” katanya.

Terkait itu, Li mengusulkan empat strategi besar. Pertama, kerja sama untuk memperkuat sikap saling percaya di bidang politik dan memperdalam persahabatan tradisional. Dia menganjurkan konsep mencari persamaan sambil membiarkan adanya perbedaan.

Di China ada sebuah ungkapan ”harmoni walau berbeda”. Ungkapan itu, menurut Li, sama dengan moto atau prinsip Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia. Di China juga ada ungkapan ”bersahabat dan saling membantu”, sama dengan gotong royong.

Pasar utama
Usulan kedua Li, memperdalam kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. ”Prospek kerja sama kedua negara di bidang ekonomi sangat luas. Pihak Tiongkok akan mendorong perusahaan yang memiliki kekuatan dan reputasi baik untuk berinvestasi di Indonesia dan aktif mengikuti pembangunan enam koridor perekonomian di Indonesia,” kata Li.

Kedua pihak sebaiknya saling mendukung dan berusaha memperkuat kerja sama di bidang pertanian, migas, pertambangan, listrik, dan sektor vital lain. Ini supaya kerja sama ekonomi memberikan keuntungan bagi masyarakat.

Ini bertujuan supaya tali perekonomian dan kemitraan strategis terus diperkuat.

Memperkuat pertukaran kebudayaan demi memperkukuh landasan persahabatan kedua negara adalah usulan ketiga Li. Pada 2011, pengunjung di antara kedua negara melampaui satu juta orang. Kedua negara bisa mengadakan ”Tahun Persahabatan Tiongkok-Indonesia”.

Saran terakhir Li dalam konteks kerja sama bilateral yang strategis ialah meningkatkan komunikasi dan koordinasi serta mempererat kerja sama multilateral. ”Tiongkok dan Indonesia mempunyai kepentingan yang sama dan luas dalam urusan regional dan global,” katanya.

Li mengatakan, China senang melihat Indonesia memainkan peran dalam urusan regional dan global. China bersedia bersama Indonesia mempererat koordinasi dan kerja sama dalam mekanisme multilateral.

Ada landasan historis panjang, kata Li, yang membuat China dan Indonesia bersahabat dan saling mendukung. ”Tiongkok dan Indonesia sesama negara yang mempunyai sejarah panjang dan budaya cemerlang. Candi Borobudur di Indonesia dan Tembok Besar Tiongkok adalah keajaiban kultur kuno di dunia Timur,” kata Li.

Pada 132 Masehi, semasa Dinasti Han, Raja Hanshundi pernah menerima utusan dari Jawa. Pada abad IV, biksu Buddha Faxian pernah tinggal dan belajar di Jawa dan Sumatera. Pada zaman modern, kedua negara pernah mengalami agresi dan penjajahan.

”Sejak masuk abad baru, atas perhatian dan dorongan langsung dari pemimpin kedua negara, hubungan bilateral berkembang pesat. Tahun lalu, nilai perdagangan bilateral mencapai lebih dari 60 miliar dollar AS. Tiongkok adalah mitra dagang dan pasar ekspor utama bagi Indonesia,” kata Li. (CAL)
(Catatan Redaksi : Berita ini diambil dari Kompas.com, Rizal Bustami)

Sunday, April 29, 2012

Capita Selecta Moh Natsir Bag 14


KEDUDUKAN PERGURUAN PARTIKELIR
DALAM MASYARAKAT KITA
SEPTEMBER 1938

“Ekolah Liar”
Tahun 1930
Holl. In. Onderwijs Commissie menyampaikan laporannya. Antara lain ditaksirnya bahwa banyaknya anak-anak yang diwaktu itu masih belum dapat pelajaran, ada kira-kira, 19.000.000. (baca: 19 juta).

Krisis makin lama makin hebat. Pemerintah tak sanggup menambah sekolah pengemasi anak-anak yang bermiliun-miliun itu. Malah Pemerintah terpaksa mengurangi  sekolah yang ada. Jadi, anak-anak yang akan terlantar, akan bertambah banyak. Sekolah-sekolah yang akan menyambut mereka akan bertambah kurang.

Anggaran belanja untuk Departemen Pergajaran terpaksa dikurangi setiap tahun. Sehingga dari tahun 1930 sampai tahun 1937 sudah dipotong sampai 53%. Bertambah dahsyatlah musibah kekurangan pengajaran dikalangan rakyat yang amat haus kepada pelajaran itu.

Musibah ini membangunkan semangat rakyat itu sendiri supaya mereka mencukupkan keperluan pengajaran dengan tenaga sendiri pula.

Dimana-mana timbullah sebagai cendawan sesudah hujan, berpuluh, ya beratus-ratus sekolah partikelir. Menyambut anak-anak yang sedang terlantar dan yang diperebutkan oleh Zending dan Missi. Menyambut pula guru-guru dari Pemerintah yang “overcompleet”. Menyambut tamatan dari H.I.K. Pemerintah yang tidak dapat tempat dalam kalangan Pemerintah sendiri. Semuanya diselenggarakan dengan amat susah payah dalam kekurangan segala macam. Akan tetapi, walaupun bagaimana, apa yang dapat dikurbankan, dikurbankan juga. Menolong mengerjakan setengah dari pada kewajiban yang suci dari Pemerintah Negeri. Bukankah “Indische Staatsregeling” art. 179 telah berkata: “Pelajaran umum adalah satu barang yang senantiasa berada dalam pemeliharaan dan penjagaan gobnor Jenderal.[1] Artikel 182: Gobnor Jenderal (harus) menyelenggarakan pendirian sekolah-sekolah untuk rakyat bumiputera”.[2]

Wednesday, April 18, 2012

Capita Selecta M.Natsir

MENUJU KOORDINASI PERGURUAN-PERGURUAN ISLAM
JULI 1938

Cita-cita untuk mengadakan koordinasi atau persamaan rencana pelajaran dalam perguruan-perguran Islam yang bertebaran diseluruh negeri kita, yang didirikan atas kemauan rakyat dan didorong oleh kemauan rakyat itu, memang suatu cita-cita yang bukan baru lagi.

Dari salah seorang teman di Sumatera Barat pernah kita mendengar, kira-kira dua tahun yang lalu, bahwa sudah mulai dianjurkan disana menciptakan maksud tersebut. Mudah-mudahan sekarang sudah berhasillah hendaknya, sungguhpun belum terdengar benar kabar tentang hasilnya cita-cita yang mulia itu. Tuan Dr.  Satiman, promotor dari pendirian Sekolah Tinggi Islam di Solo juga sudah memberi sedikit anjuran dalam salah satu artikelnya, dimana beliau telah memakai perkataan: “coordinair”. Yakni supaya rencana pelajaran perguruan-perguruan Islam dinegeri kita ini dapat disusun menurut garis-garis yang tentu, agar dapat menjadi dasar yang baik untuk sekolah tinggi yang sedang beliau usahakan sekarang itu. Tuan Z. Usman, mudarris Tsanawiyah di Talu, Seumatera Barat, telah memberi  pemandangan panjang tentang perluannya perbaikan pelajaran dalam perguruan-perguruan kita itu dalam Panji Islam beberapa nomor yang lalu. Dan baru-baru ini kita mendapat kabar bahwa di Palembang telah didirikan satu badan untuk menyusun rencana pelajaran sekolah-sekolah agama yang ada di Palembang. Syukurlah!

Maka sudah patut kita menyelidiki masalah ini lebih lanjut untuk melakukan langkah-langkah yang perlu dalam jurusan ini. Sebab soal ini bukan lagi soal salah satu atau dua daerah, melainkan mengenai kepentingan seluruh kaum Muslimin, diseluruh kepulauan Indonesia. Tetapi belumlah dimaksud dengan artikel ini satu rencana yang lengkap dengan seluk-beluknya, melainkan sekedar membentangkan garis besar yang perlu kita perhatikan sebagai dasar menciptakan rencana lengkap kelaknya, sambil menyelidiki dua tiga hal yang mungkin menjadi alangan, yang harus sama-sama kita hindarkan.

Sunday, April 01, 2012

Dahlan Iskan...

Tatkala Dahlan Iskan beralaskan tikar di rumah petani

Dahlan Iskan tidur di rumah Hadi Sumarto di Wates

Jakarta (ANTARA News)
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, di setiap kesempatan selalu menjadi perhatian masyarakat, karena perilaku dan tindakannya yang seringkali di luar kebiasaan seorang pejabat negara.

Biasanya seorang pejabat negara di negeri ini dalam suatu kunjungan kerjanya selalu meminta atau disuguhi fasilitas yang berkelas, mulai dari tempat kegiatan acara tertentu, tempat bersantap, hingga fasilitas penginapan.

Tidak demikian bagi seorang Dahlan Iskan, yang juga pemilik kelompok bisnis multumedia massa Jawa Pos Group. Ia justru lebih nyaman mendekatkan diri dengan kalangan bawah sesuai dengan latar belakangnya yang berasal dari keluarga bersahaja.

Saturday, March 31, 2012

Jakarta Dulu...

Gedung MPR

Masjid Istiqlal

Jatinegara-Manggarai

Lambang Jakarta tahun 50-an

Pancoran

PRJ Monas

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023