Sunday, September 29, 2013

Kisah Penglima Awang, Pengeliling Dunia dari Malayu

Pengantar Editor, 
28 Juli Voice of Amerika melansir berita, dimana menurut sejarawan Dr. Joyce Chaplin – yang mengira bahwa orang pertama mengelilingi dunia adalah berasal Melayu, yaitu bernama Panglima Awang. Berdasarkan artikel tersebut, saya mencari sumber lain di internet. Ternyata kisah petualangan Panglima Awang yang bernama lain Enrique de Malacca sebagai awak armada  Ferdinand Magellan banyak ditemui di situs-situs Negara jiran, Malaysia dan Singapore. Namun orang hebat ini tidak dikenal di Indonesia. Di Malaysia dan di Singapore, Panglima Awang amat dihormati dan dikenang. Sumber kisa Panglima Awang yang pakai, berasal dari http://library.utem.edu.my/, dengan judul tulisan Panglima Awang sebagai Magellan Melayu.
Dimanakah asal Panglima Awang, apakah dari Indonesia, Malaysia atau Singapore, bagi saya tidaklah penting karena pada masa itu kawasan Nusantara ini belum terpecah-pecah menjadi beberapa Negara. Bahwa Panglima Awang anak Melayu, ya !
Tulisan ini akan menjadi pengetahuan yang luar biasa guanyanya bagi orang Indonesai, bahwa ada anak Melayu yang sejajar dengan pengelana dari Eropa dan Arab.

Thursday, September 12, 2013

Indonesia paling Timur dan Selatan...




Taman Nasional Wasur

Taman Nasional Wasur merupakan perwakilan dari lahan basah yang paling luas di Papua/Irian Jaya dan sedikit mengalami gangguan oleh aktivitas manusia.

Sekitar 70 persen dari luas kawasan taman nasional berupa vegetasi savana, sedang lainnya berupa vegetasi hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan rawa sagu yang cukup luas. Jenis tumbuhan yang mendominasi hutan di kawasan taman nasional ini antara lain api-api (Avicennia sp.), tancang (Bruguiera sp.), ketapang (Terminalia sp.), dan kayu putih (Melaleuca sp.).

Jenis satwa yang umum dijumpai antara lain kanguru pohon (Dendrolagus spadix), kesturi raja (Psittrichus fulgidus), kasuari gelambir (Casuarius casuarius sclateri), dara mahkota/mambruk (Goura cristata), cendrawasih kuning besar (Paradisea apoda novaeguineae), cendrawasih raja (Cicinnurus regius rex), cendrawasih merah (Paradisea rubra), buaya air tawar (Crocodylus novaeguineae), dan buaya air asin (C. porosus).

Keanekaragaman hayati bernilai tinggi dan mengagumkan di Taman Nasional Wasur, menyebabkan kawasan ini lebih dikenal sebagai “Serengiti Papua”.

Lahan basah di taman nasional ini merupakan ekosistem yang paling produktif dalam menyediakan bahan pakan dan perlindungan bagi kehidupan berbagai jenis ikan, udang dan kepiting yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Berbagai jenis satwa seperti burung migran, walabi dan kasuari sering datang dan menghuni Danau Rawa Biru. Oleh karena itu, Danau Rawa Biru disebut “Tanah Air” karena ramainya berbagai kehidupan satwa. Lokasi ini sangat cocok untuk mengamati atraksi satwa yang menarik dan menakjubkan.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Danau Rawa Biru, Ukra, Maar, Kakania, Dikbob, Rawa Panjang, Pilmul. Pengamatan satwa, danau, menyelusuri sungai, berkuda dan wisata budaya.Yanggandur, Soa, Ukra, Onggaya. Savana, pengamatan satwa, menyelusuri sungai, memancing, dan wisata budaya.
Musim kunjungan terbaik: bulan Juli s/d Nopember setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi: Dari Jayapura ke Merauke (Plane) dengan waktu 1,5 jam, kemudian dari Merauke ke lokasi menggunakan kendaraan roda empat dalam waktu satu sampai dua jam melalui jalan trans Irian (Jayapura-Merauke).                   

Kantor: Jl. Raya Mandala, Gang Spadem No. 2 Merauke 99611, Papua/Irian Jaya
Telp. (0971) 322495, 325406, 325408
Fax. (0971) 325407                 
Dinyatakan ---
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 448/Menhut-VI/90
luas 413.810 hektar
Ditetapkan ---
Letak Kabupaten Merauke, Provinsi Papua
Temperatur udara 22° - 30° C
Curah hujan Rata-rata 2.400 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 90 meter dpl.
Letak geografis 8°04’ - 9°07’ LS, 140°29’ - 141°00’ BT

Sumber artikel : www.dephut.co.id
Photo              : Alvin
Tracklog         : Alvin, by Garmin



 
 

Saturday, September 07, 2013

Survey Wisata Indonesia



 
 
Indonesia, Tujuan Wisata Favorit di Asia Pasifik

Dikutip dari TEMPO.COTEMPO.CO – Kamis, 5 Sep 2013

TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia kini menjadi satu negara di Asia Pasifik yang disukai sebagai tujuan wisata. Berdasarkan penelitian Visa yang berjudul Global Travel Intentions Study 2013, mayoritas wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia berasal dari Malaysia (22 persen), Singapura (21 persen), dan Australia (20 persen). Alasan mereka, karena biaya wisata di negara ini dianggap sesuai dengan anggaran liburan.


 "Ada 41 persen responden yang menganggap begitu," kata Presiden Direktur PT. VisaWorldwide Indonesia, Ellyana Fuad, dalam siaran persnya, Kamis, 5 September 2013. "Yang memilih Indonesia karena good value for money ada 48 persen. Ada juga turis yang beranggapan cuaca dan alam Indonesia bagus."


Menurut survei yang melibatkan 12.631 responden dari 25 negara ini, pengeluaran turis selama berwisata di Indonesia jauh lebih sedikit ketimbang di negara lain. Wisatawan yang datang ke Indonesia, rata-rata menghabiskan US$ 1.634, sekitar Rp 18,2 juta per perjalanan. Sedangkan pengeluaran turis global mencapai US$ 2.930 atau Rp 32,7 juta per perjalanan. Namun turis dari Australia cenderung memiliki pengeluaran yang lebih besar, dibanding turis asal Malaysia atau Singapura, ketika berkunjung ke Indonesia.


"Turis Australia bisa menghabiskan US$ 4.118 atau Rp 46 juta di Indonesia, sementara wisatawan Malaysia sekitar $ 1.145, setara Rp 12 juta dan Singapura sebesar US$ 618 atau Rp 6,9 juta." Kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia berbelanja pada sektor ritel, sekitar 30 persen; dan makanan, 25 persen; dan pengeluaran terkecil adalah tiket pesawat, 4 persen.


Selain wisatawan dari Asia Pasifik, Arab Saudi merupakan satu dari lima negara pengunjung Indonesia terbanyak. Posisi berikutnya adalah Taiwan. Wisatawan asing umumnya mengunjungi Indonesia tiga kali dalam setahun, angka yang sama dengan rata-rata perjalanan global.


Sektor pariwisata, kata Ellyana, memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sektor pariwisata Indonesia disebut-sebut berkontribusi sebesar 5 persen terhadap PDB nasional dan memberikan lapangan pekerjaan bagi lebih dari 8 juta orang di tahun 2012.


Penelitian ini memprediksikan, keinginan turis asing untuk berwisata ke Indonesia cenderung meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Terutama bagi para turis dengan kategori usia muda. Namun pengunjungnya diperkirakan masih dari negara yang sama. Misalnya jumlah turis Malaysia yang diperkirakan naik menjadi 35 persen.

(Martha Thertina)

 


Saturday, August 10, 2013

Wisata Desa : Kampung Tajur, Purwakarta



Kesunyian sebuah Kampung, bernama Tajur

Kampung Tajur, sebuah dusun di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat – yang dikunjungi banyak orang untuk berwisata. Sebuah kampung kecil yang tersuruk di kaki Gunung Burangrang, dimana pengunjung dari kota merasa berada di dunia lain. Sebuah kampung yang tak jauh dari kehidupan metropolis Jakarta, yang akan membawa kenangan dalam hati. Inilah kampung berhenti sejenak untuk berpikir. Resapi saja, rasakan saja dalam perasaan. Lupakan Jakarta...

Sentuhan udaranya yang sejuk. Rumah-rumah berpanggung yang rapi. Tegur sapa masyarakatnya yang ramah. Tak ada suara bising kenalpot cempreng sepeda motor, tak ada bunyi deru mobil, tak ada suara bising televisi. Hening, hening-seheningnya, kecuali bunyi serangga dan suara burung menjelang pagi dan menjelang malam.

Untuk ke Kampung Tajur, dari Purwakarta, mengarah ke Wanayasa. Setelah melewati Situ Wanayasa, terdapat persimpangan jalan. Jalan mengarah ke kiri tujuan Lembang, Subang dan Sumedang. Ambil jalan lurus, mengarah ke Desa Pasanggrahan. Sampai di Desa Pasanggrahan, parkir kendaraan di halaman Kantor Desa. Titipkan saja kendaraan disana, aparat desa siap membantu. Jika datang malam, warga dan petugas keamanan siap mengantar. Selanjutnya jalan menuju Dusun Tajur, lebar jalan hanya cukup untuk satu kendaraan roda 4. Sedangkan di Dusun Tajur, lahan parkir hanya memuat 4 kendaraan. Ada beberapa persimpangan menuju Dusun Tajur, perhatikan petunjuk arah.

Dusun Tajur dibuka untuk umum sejak tahun 2000-an. Dusun ini terdiri dari dua RT (rukun tetangga), dihuni lebih kurang 70 lebih KK (kepala keluarga). Sebagian besar rumah-rumah yang ada menyediakan diri sebagai home stay.  Tarif per rumah 150 rupiah. Untuk makan, akan disediakan memasaknya oleh tuan rumah dengan tarif relative.

Kegiatan pengunjung di Dusun Tajur, selain melihat-lihat suasana desa, juga dapat mengikuti kegiatan masyarakat ke sawah atau ke ladang.

Menurut Ibu Rini, pengunjung yang datang ke kampungnya, biasanya dalam group wisata. “Sepi pengunjung hanya pada bulan puasa. Untuk ke sini, harus pesan dulu, takutnya rumah-rumah terisi semua,” ungkap Ibu Rini, yang mempunyai warung kelontong itu.

Bagi yang hobby bermain sepeda, bawalah sepedanya ke sini.
Selamat berhening di Dusun Tajur.
Telpon Teh Rini :  0877 7996 3370



Monday, July 22, 2013

Penyelamatan Orangutan...!


Orangutan yang terjebak di pohon kelapa sawit, di perkebunan kelapa sawit Padang Tulang, Sumatera Utara, berhasil diselamatkan oleh petugas Orangutan Information Center (OIC).
Berita foto ini diambil dari http://berita.plasa.msn.com/


Petugas dari Orangutan Information Center (OIC) mengambil peluru senapan angin
yang membius orangutan saat terjebak di pohon sawit di perkebunan sawit, Padang
Tualang, Sumatera Utara, Indonesia, 21 Juli 2013.


Petugas dari Orangutan Information Center (OIC) mengangkut orangutan yang
pingsan di perkebunan sawit, Padang Tualang, Sumatera Utara, Indonesia, 21 Juli
2013.

Petugas dari Orangutan Information Center (OIC) menyiapkan jaring untuk
mengantisipasi orangutan jatuh dari pohon sawit di perkebunan sawit, Padang
Tualang, Sumatera Utara, Indonesia, 21 Juli 2013.

Petugas dari Orangutan Information Center (OIC) mempersiapkan senjata bius
untuk menembak orangutan yang terjebak di pohon sawit di perkebunan sawit,
Padang Tualang, Sumatera Utara, Indonesia, 21 Juli 2013.

Petugas dari Orangutan Information Center (OIC) menstabilkan orangutan setelah
dibius saat terjebak di pohon sawit di perkebunan sawit, Padang Tualang,
Sumatera Utara, Indonesia, 21 Juli 2013. Orangutan betina dewasa ini terjebak
beberapa minggu di atas pohon sawit di perkebunan sawit. Banyak orangutan yang
habitatnya terganggu karena penebangan pohon dan pelebaran lahan sawit,
sehingga mereka tidak memiliki tempat tinggal lagi.


Saturday, June 29, 2013

Doa untuk Nelson Mandela


Sumber Foto : www.telegraph.co.uk
Doa kami untuk kesembuhan Nelson Mandela, mantan Presiden South Africa.
Semoga penyakit beliau disembuhkan !

Thursday, June 27, 2013

Moralitas dan Tuhan

Apakah Manusia Perlu Tuhan untuk Menjadi Bermoral?
Penulis : Yunanto Wiji Utomo

(Artikel ini diambil dari KOMPAS.com,  Selasa, 9 April 2013)

Mana yang lebih tepat? Apakah manusia bermoral karena percaya Tuhan atau manusia percaya Tuhan karena manusia bermoral. Hingga kini, jawaban pasti pertanyaan itu masih menjadi perdebatan.

Frans de Waal, ahli primata ternama dunia, biolog di Emory University dan Direktur Living Links Center di Yerkes Primate Center di Atlanta, mencoba memberi uraian untuk menuju pada jawaban akan pertanyaan tersebut lewat bukunya, The Bonobo and the Atheist.

Agamawan dan kaum pemeluk agama yang taat pastinya akan menjawab bahwa manusia bermoral karena percaya Tuhan. Namun, De Waal menjawab sebaliknya. Menurutnya, manusia percaya Tuhan karena manusia bermoral.

Jawaban De Waal didasarkan atas hasil penelitian selama bertahun-tahun pada perilaku primata besar seperti simpanse dan bonobo. Ia menunjukkan bahwa moralitas berkembang sebelum manusia dan kebudayaan manusia berkembang.

Penelitian menunjukkan bahwa primata besar memiliki empati. Mereka memiliki rasa keadilan, mereka bisa memelihara dan peduli satu sama lain serta mampu berbagi dengan individu lain yang kurang beruntung.
Karakter primata yang menyerupai sifat manusia tersebut membuat De Waal berpikir bahwa primata pun punya akar moralitas. Walaupun, memang, primata selain manusia belum bisa dikatakan bermoral; primata punya penyusun utama moralitas.

Dalam bukunya, De Waal menuliskan, "Ada sedikit bukti bahwa hewan menilai kesesuaian suatu aksi yang tak secara langsung berdampak pada dirinya. Dalam perilaku ini, kita pun mengenal nilai yang sama."
"Saya mengambil petunjuk-petunjuk kepedulian pada komunitas ini sebagai tanda bahwa penyusun utama moralitas lebih tua dari kemanusiaan, dan kita tidak perlu Tuhan untuk menjelaskan bagaimana kita bisa sampai pada posisi kita sekarang," tulis De Waal seperti dikutip ABC News, Senin (8/4/2013).

De Waal yang juga seorang ateis menegaskan, moralitas berkembang dari proses perkembangan spesies manusia itu sendiri, bukan diberikan oleh Tuhan. Ia mengungkapkan tanda lain adanya moralitas pada primata. Salah satunya, primata selain manusia juga bisa merasa bersalah.

Kasus tersebut dijumpai pada bonobo bernama Lody di Kebun Binatang Milwaukee County. Bonobo itu menggigit tangan dokter hewan yang memberikannya vitamin. Akibat gigitan, dokter hewan tersebut kehilangan satu jari.

Mendengar teriakan sang dokter saat jarinya digigit, Lody menengok ke atas dan terkejut. Ia lalu melepaskan tangan yang sudah kehilangan satu jari itu. Hari berikutnya, saat dokter hewan kembali menengoknya, Lody lari ke sebuah sudut, menundukkan kepala dan melingkarkan tangan di tubuhnya.
Yang mengejutkan, 15 tahun setelah berpisah dengan dokter hewan itu, Lody tetap mengenalinya dan mengingat kesalahannya. Saat dokter hewan itu berdiri di kerumunan, Lody berlari ke dokter itu seraya melihat tangan kiri sang dokter. Lody terus melihat tangan dan wajah dokter itu.

Apa yang dilakukan Lody menjadi bukti adanya bibit-bobot moralitas pada hewan. Apakah Lody merasa malu? Atau, apakah dia takut akan pembalasan? Yang jelas, apa yang dilakukan Lody adalah bukti bahwa dia merasa bersalah, sekaligus menjadi tanda bahwa ia punya bibit moralitas.

Berkali-kali, para ahli primata juga mendokumentasikan rasa bersalah, sedih, dan iba saat pada individu lain yang sekarat, pada ibu kera yang kehilangan anaknya, serta memelihara anakan yang kehilangan orangtuanya.

"Beberapa orang mengatakan, hewan adalah diri mereka sendiri, sementara manusia mengikuti sesuatu yang ideal, tapi itu terbukti salah. Bukan karena kita tak punya sesuatu yang ideal tetapi karena mereka pun memilikinya," tulis De Waal.

Ada satu kasus menarik. Bonobo pun tahu cara mencegah perang. Koloni bonobo kadang berkumpul saat dua pejantan akan berperang. Yang menarik, saat perang telah siap dimulai, bonobo betina yang ada di sekitarnya justru mulai bercinta dengan sesama ataupun lawan jenisnya.

Dalam sudut pandang manusia, apa yang dilakukan bonobo itu bisa disebut orgy. Lalu, apakah orgy adalah wujud moral? Pastinya, bagi manusia, hal itu tidak bermoral. Namun mungkin, bonobo hanya menyadari bahwa memang lebih baik bercinta daripada berperang.
Sumber :ABCNews
Editor :yunan

Monday, June 17, 2013

Mengenal Turki...!



(Artikel ini diambil dari VOA Indonesia. Artikel yang berasal dari Ruters tersebut, menjadi menarik untuk mendalami Turki, sebagai Negara yang menjembati dua peradaban yaitu Barat (Eropa) dan Timur, khususnya Timur Tengah. Turki yang bersejarah hebat, merupakan satu-satunya Negara Islam yang berperadaban Barat, Editor Cantigi Peace).

Konflik di Turki Soroti Perpecahan Budaya
Protes-protes yang terjadi di Turki menyoroti perpecahan yang berakar sampai

1920an, ketika Mustafa Kemal Ataturk membentuk republik sekuler.

Mustafa Kemal Ataturk, Wikimedia

Istanbul_
Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan berdiri di depan para pendukung
setianya yang melambaikan bendera-bendera Turki, menyerukan "Allahu Akbar,"atau Allah Maha Besar, dan memanggil nama-nama penyair Ottoman yang saleh dalam mengecam warga lain yang menantang kekuasaannya. 

Para pendukung melambai-lambaikan bendera Turki dengan latar belakang gambar Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan saat mereka menunggu kedatangannya di Ankara (9/6).

Di seluruh Istanbul,  bendera-bendera yang sama, bulan sabit dan bintangberwarna putih dengan latar belakang merah, juga dilambaikan, namun merekamemproklamirkan apa yang oleh beberapa pengkritik Erdogan sebagai Turki yang berbeda. 

Kerusuhan dan demonstrasi telah menyoroti perpecahan pada masyarakat Turki yang berawal pada 1920an ketika Mustafa Kemal Ataturk membentuk republik sekulerdari reruntuhan teokrasi Ottoman.
Ia melarang identitas Islam tampil di kehidupan publik, menggantikan huruf Arabdengan aksara Latin dan mendorong penggunaan pakaian ala Barat serta hak-hak perempuan.

Tuesday, April 09, 2013

Trans Papua Bagian III



Trans Papua, yang Membelah Papua dari Selatan ke Utara

Apa yang kita bayangkan tentang Papua, baik itu Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat, umumnya hanyalah pegunungan yang tinggi-tinggi, hutan belantara dan rawa-rawa.  Berikut dengan manusianya yang setengah telanjang. Issu-issu, dan kasus-kasus adanya GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) yang sering melakukan penyerangan bersenjata, menambah pandangan kegelapan orang-orang luar mengenai Papua.

Benarlah adanya, bumi Papua dipenuhi oleh belantara, pegunungan yang menjulang dan rawa-wara yang membentang. Namun, tidak seluruhnya benar, bahwa masyarakat Papua sehari-harinya setengah telanjang. Benarlah adanya, disana terdapat GPK.

Pada tahun 1996, dengan TNI AL saya menelusuri pantai bagian barat Papua, mulai dari Sorong sampai Merauke, serta mengunjungi beberapa pulau di Provinsi Irian Barat, itu dulu namanya. Pada Agustus tahun 2012, saya berkesempatan lagi mengunjungi Wamena dalam rangka menghadiri Festival Lembah Baliem. Saya terkesima, dan sampai kehilangan orientasi ketika keluar dari bandara karena saya tiba-tiba berada disebuah perkotaan, sesuatu yang jauh berbeda dengan kunjungan saya sebelumnya (baca posting sebelumnya tentang Wamena).

Kota ini sudah tumbuh layaknya sebuah ibukota kabupaten yang setara dengan dengan kota-kota di Jawa dan Sumatera. Ada ATM, mini market, hotel, angkutan perkotaan, rumah makan, rumah ibadah, dan berbagai penerbangan untuk beberapa tujuan.

Apa yang disebut Lembah Baliem itu, membentang jalan beraspal halus dengan penerangan listrik. Semua desa dan distrik (kecamatan) terlayani oleh angkutan pedesaan. Dan, Wamena dapat dilihat, sudah sebagai tujuan wisata manca Negara, dan akan ditemui banyak bule, wisatawan manca negara disana.

Bagian utara Papua, mulai dari kepala burung, Sorong , sampai Jayapura, janganlah dikata tertinggal, suasananya sudah metropolis. Dari Sorong sampai Merauke, sepanjang pesisir barat, sama saja keadaannya dengan Sulawesi.

Pada tahun 1996, saya sudah menginjakkan kaki ke Merauke, tetapi tidak sempat berjalan-jalan. Januari 2013 saya kembali ke Merauke. Kedatangan saya bersama Zulfikar Akbar ke Merauke untuk mengunjungi beberapa perbatasan Indonesia dengan Papua New Guinea. Setelah mengunjungi perbatasan Sota, sekitar 80 km dari Merauke, saya harus ke Tana Merah, Kabupaten Digoel, di utara Merauke lebih kurang 420 km jaraknya.

Saturday, March 23, 2013

Oh... Bali !



Pemuda Adat:
Citra Kuta Bali Semakin Murahan

Jakarta, Kompas.com, Senin, 18 Maret 2013
Wakil Pemuda Desa Adat Kuta dari 13 banjar di Bali mengatakan, saat ini citra kawasan Kuta, Bali, semakin murahan di mata para wisatawan, terlihat dari perilaku para turis yang datang.

"Hal tersebut terindikasi dari kualitas turis yang berkunjung ke Kuta, yang telah mengalami penurunan, termasuk tingkah dan perilakunya," kata perwakilan Pemuda Desa Adat Kuta, I Gede Ary Astina, melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Jumat (15/3/2013).

Ary mengatakan, Pemuda Desa Adat Kuta berencana menemui Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada Sabtu (16/3/2013) untuk menyuarakan tuntutan tersebut.
Menurut Ary, sudah banyak terjadi kasus-kasus memalukan yang disebabkan oleh perilaku turis-turis yang kurang berkualitas.

Hal tersebut, menurutnya, berdampak pada pemberitaan internasional yang semakin mencitrakan daerah Kuta atau Bali sebagai sebuah daerah atau pulau di mana para turis bisa melakukan hal apa saja dengan bebas.

"Banyak sekali kasus-kasus yang disebabkan perilaku turis-turis yang kurang berkualitas, bisa dicari di internet. Ada turis yang menembaki taksi, buronan interpol kabur ke Bali, melakukan penusukan dengan senjata tajam, hingga melakukan hubungan seksual di pura," kata Ary.

Dia menekankan bahwa Pemuda Desa Adat Kuta meminta pemerintah untuk segera membuat sebuah sistem filterisasi terhadap wisatawan yang masuk ke Kuta, misalnya dengan memperketat syarat-syarat bagi para turis yang akan berkunjung ke Kuta atau Bali.

"Agar citra Bali khususnya Kuta tidak terlalu murahan di mata turis. Karena ada kekhawatiran akan terjadi kasus-kasus rasialisme," ujar dia.

Selain itu, kata dia, Pemuda Desa Adat Kuta juga meminta pemerintah secara serius dan intensif melakukan edukasi terhadap warga lokal agar tidak menjadi "budak pariwisata". Hal itu, menurut mereka, bisa dimulai dari kurikulum sekolah-sekolah pariwisata agar Bali melahirkan tenaga kerja pariwisata yang cerdas, berani bersaing, dan tidak minder melihat warga asing.

"Harus digarisbawahi bahwa turis yang lebih memerlukan Bali, bukan Bali yang harus mengemis kepada turis. Dengan harga diri yang terjaga, rasa hormat dan apresiasi akan datang dengan sendirinya. Mental budak harus dihapuskan," kata dia.

"Besok, Sabtu, Gubernur Bali membuat acara Simakrama di Wantilan DPRD Renon. Simakrama itu semacam pertemuan dengan warga. Kami ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk bicara dengan gubernur," kata dia.

Pada kesempatan itu Pemuda Desa Adat Kuta juga akan meminta Gubernur Bali Made Mangku Pastika melakukan pemberdayaan bisnis lokal, mengubah pola pikir aparat hukum, mengatur ketertiban umum, serta pembatasan kendaraan yang telah menyebabkan masalah lalu lintas di Bali.
Sumber : ANT, Editor : Jodhi Yudono

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023