Thursday, June 20, 2019

Serial Kawasan Wisata Flores, Nusa Tenggara Timur. Bagian II



Labuan Bajo, oh Labuan Bajo….
Berdebu, Tumpukan Sampah, Lalu lintas yang kacau…

Labuan Bajo dulunya berupa kampung nelayan, yang didiami oleh masyarakat Bajo dari Sulawesi. Kawasan kemudian berkembang secara alami, sebagai pijakan berikutnya bagi wisatawan yang hendak mengunjungi hewan komodo di Pulau Rinca, dan pulau lainnya. Nelayan Bajo, adalah pemberi jasa transportasi laut awalnya, sebelum investor datang dengan kepal cepat dan kapal pesiar. Warga asli keturuan Bajo tersebut masih bermukim di Labuan Bajo, di sepanjang pusat wisata.

Kawasan pantai Labuan Bajo berlahan datar sempit. Selebihnya, perbukitan yang mana kemudian berkembang sebagai kawasan perkantoran dan pemukiman.

Kabupaten Mangarai Barat merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai berdasarkan Undang Undang No. 8 Tahun 2003. Wilayahnya meliputi daratan Pulau Flores bagian Barat dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, diantaranya adalah Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Seraya Besar, Pulau Seraya Kecil, Pulau Bidadari dan Pulau Longos. Luas wilayah Kabupaten Manggarai Barat adalah 9.450 km² yang terdiri dari wilayah daratan seluas 2.947,50 km² dan wilayah lautan 7.052,97 km².

Labuan Bajo merupakan gerbang wisata bukan saja untuk melihat Komodo, tetapi juga melihat kawasan ekskotis lainnya di Pulau Flores. Biasanya, setelah mendatangi Komodo, wisatawan asing, akan melanjutkan perjalanan ke kawasan lainnya di Flores, seperti ke Kampung Adat Wae Rebo, ke Ruteng, Bajawa, dan ke kelimutu.
Kota yang tekenal ini, sayangnya tidak menggambarkan sebagai etalase atau outlet wisata. Kota ini hanya fokus dan terlena menjual komodo. Tamu tidak akan mendapatkan informasi pandang mata di pusat-pusat wisatawa, seperti di pelabuhan, bandara, di titik kumpul wisatawan. Sedangkan di Bandara Komodo, informasi yang menonjol hanya kunjungan ke Komodo.

Kota ini terabaikan. Kotor dan berdebu. Tumpukan sampah membuat kesan yang tidak baik bagi pengunjung.
Di koridor wisata, tepatnya di Jalan Yos Sudarso, lalu lintas kendaraan pribadi, kendaraan wisata dan angkutan ekspedisi menjadi satu. Jalan Yos Sudarso, disandingkan dengan Bali, seperti Jalan Raya Kuta, Jalan Siminyak dan Jalan Legian – dimana terpusat kegiatan tourisme.

Disepanjang jalan ini, pusatnya bisnis pariwisata, hotel, café, rumah makan, jasa wisata, pelayanan daving, perbankan, mini market, dan sebagainya. Betapa kacaunya jalan ini, ketika dilewati oleh truck-truck pengangkut barang, sehingga menggangu aktivitas dan kesantaian turis.

Sebaiknnya pemerintah daerah menyediakan jalan sendiri untuk transportasi besar. Keadaan macam itu, membuat enggan turis melakukan kegiatan di uar hotel.

Jarak antar kota :
Labuan Bajo – Waerebo          : 112 km
Labuan Bajo – Ruteng             : 126 km


























Wednesday, June 19, 2019

Serial Kawasan Wisata Flores, Nusa Tenggara Timur. Bagian I

Tulisan saya tentang Flores ini terdiri dari 12 bagian. Saya menjelajahi Flores dan Sumba dengan mengendarai sepeda, transportasi umum darat dan laut. Dan, Serial ini akan di up date.



BUNGA RAMPAI FLORES




 “Hallo mister” sebuah tegur sama masyarakat flores setiap ditemui di jalan-jalan. Sapa yang antusias diucapkan oleh anak-anak sampai orang dewasa.

Sapaan itu sebuah awal dari kerahaman dan sopan-santun masyarakat Flores terhadap pendatang yang mereka anggap asing.

Keramahan tulus masyarakat Flores akan terasa nyata dengan suguhan kopi panas ketika tamu duduk di beranda rumah mereka. Bahkan ketika kita sedang berteduh dari sengatan matahari.

Keserdahanaan atau serba berkekurangan ekonomi masyarakat, bahkan kekurangan air tawar, tidak mengurangi keramahan mereka dengan suguhan – yang hanya bisa memberikan secangkir air panas.
Pengalaman saya berhari-hari dengan sepeda di jalanan Flores sangat terbantu oleh keramahan orang Flores. Misalnya, ketika saya mengayuh sepeda di pesisir Flores, saya diberi tumpangan bermalam dan diberi makan. Di Pula Mules, saya ditampung oleh Pak Guru yang mengajar di Sekolah Dasar. Di Bajawa, untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, saya dibantu dengan sepeda motor.

Keramahan dan sopan santun masyarakat Flores bertolah belakang dengan kesan masyakarat di Pulau Jawa bahwa orang Flores sebagai orang suka dengan kekerasan pisik. Orang Flores sendiri juga mengetahui dan menyadari kesan negative masyarakat luar tentang mereka. Tapi mau dikata apa, seperti itulah anggapan orang-orang.

Kesan negative tersebut akan hilang dengan sekita ketika kita berada di  bumi “bunga” ini.
Karena suguhan kopi setiap  bertamu, seorang guide tour – yang beberapa kali bertemu di kawasan wisata, dengan tertawa-tawa berucap, “May Trips, may drink coffe”. “This is Flores….”

Penamaan Flores diberikan oleh bangsa Portugis, ketika bangsa kulit putih itu menancapkan kakinya di pulau Flores. Flores yang berarti bunga atau kembang, cara bangsa Portugis pada zaman itu mempersonikan keindahan alamnya dengan bunga. Tidak salahlah mereka menamainya seperti itu. Memang indah, berbunga-bunga.

Alam Flores yang Berbeda-beda
“Bebunga-bunga”, bukan pengertian banyak bunga. Berbunga-bunga, lebih karena keaneragaman alam dan budaya di Pulau Flores. Perwajahan alamnya bagai membalik telapak tangan. Pada kawasan tertentu, terbantang kegersangan, kemudian hanya dalam puluhan kilo meter saja, hijau dengan pegunungan. Berbunga-bunga, bagai bunga rampai – yang mana dalam seonggok  bunga banyak jenis dan warnanya.
Alam Flores  penuh kejutan. Adakalanya hijau kelam, kemudian tiba-tiba berwajah gersang kecolatan. Di Kawasan tertentu, warga masyarakat dilipahi air bersih. Di Kawasan lain, warganya kesusuhan air.

Bergerakan ke timur ke arah Ruteng dari Labuan Bajo, langsung dihadapkan dengan perbukitan yang hijau. Memasuki Lembor, ditemukan bentangan sawah yang rata dan luas. Dari Dintor ke selatan, pesisir selatan – barat Flores, diawali dengan persawahan, diakhiri dengan kering.


 
Infrastruktur Jalan Raya
Saya menikmati jalan raya Flores, baik itu jalan utama Trans Flores, Jalan Kabupaten, maupun jalan pedesaan. Jalan raya di Flores, beraspal halus dengan marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas yang lengkap. Di setiap perbelokan, jalan dilebarkan untuk memudahkan kendaaran besar bermanufer. 
Jalan  raya di Flores, dikenal dengan Trans Flores, berbelok-belok tajam dengan elevasi yang tajam. Kondisi jalan ini khas Flores. Kesamaannya di dengan daerah lain, adannya di Sumatera Barat dan di Kawasan Toraja.

Jalan raya Flores digemari oleh para back peckers, sepeda touring, pengendara sepeda motor, dan pengendara roda empat yang gemar menjelajah. Dari GPS yang di upload di pengembang Peta Pintar, banyak sekali dan mayoritas yang meng-upload atau berbagi rute, adalah orang asing. Kesimpulan saya, Flores dan juga Sumba merupakan kawasan bagi orang melakukan “perjalanan mandiri”.
Jarak antar kota antara 60 km sampai dengan 80 km.

Transportasi
           Transportasi Udara
       A.     Labuan Bajo                   : Dari dan  ke Jakarta, Bali, Kupang dan Surabaya.
               Ende                                : Dari dan ke Jakarta, Bakli, dan Kupang
       B.    Transportasi Laut             : Dari dan ke Surabaya dan Kupang
       C.    Transportasi Darat           : Antar kota di Flores terdapat pelayanan bus dan travel.
       D.    Transportasi Lokal           : Perahu pesiar dan Ojek Wisata

Terminal-terminal angkutan umum di Flores, ramah terhadap calon penumpang. Bagaimana dikatakan demikian, diterminal dibuatkan kursi tamu bersandar dari beton dan dalam bentuk persegi panjang. Bentuk tempat tunggu persegi panjang tersebut bisa dijadikan sebagai tempat beristirahat oleh calon penumpang. Maklum saja, warga adakalnya cukup lama menunggu kedatangan bus – yang banyak tidak banyak jumlahnya.
 
Kuliner
Terimakasih kepada Nasi Padang.
Ini bukan promosi dan iklan dari saya. Ini sebuah fakta dimana saya terbantu sekali oleh Warung Padang untuk makan saya. Dimana-mana, aka nada rumah makan Padang. Saya membayangkan, apa bisa dimakan pendatang seperti saya ini jika orang Minang tidak membuka rumah makan di pelosok Flores.


Soal makanan, tidak banyak pilihan di Flores, apalagi di Sumba. Pembuat makanan siap saji dijajakan di warung makan, dilakukan oleh warga perantau dari Sumatera Barat, dari Pulau Jawa dan warga dari Sulawesi Selatan. Makanan yang beragam, hanya bisa ditemui di Labuan Bajo, Ruten dan di Ende. Labuan Bajo, banyak terdapat restaurant, café, rumah makan. Karena Labuan Bajo sebagai pusat aktivitas turis, disini banyak tersedia berbagai makanan yang berselara Barat. Di Ruteng, banyak terdapat rumah makan. Di Ende, sebegai kota yang ramai, banyak ragama makanan, baik makanan utama maupun makanan pendamping. Namun demikian, di setiap kota kecamatan, ada rumah makan Padang, bahkan lebih dari dua rumah makan. Ini tentu sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan kalori masyarakat. Sedangkan untuk makanan kecil, setiap kota ada pembuat roti dan kue.

Di Flores buah-buahan dan sayur-sayuran langka. Buah-buahan local jeruk, manga, sejenis markisa manis, pisang, talas, singkong disana disebut ketela, dan jagung.
Ayam pedaging dan telor ayam di Flores harganya mahal. Daging sapi dan ikan relative lebih murah. Harga satu porsi makan, katakanlah di Warung Padang, dengan lauk ayam Rp. 25.000, dengan dading Rp. 25.000 dengan telor atau ikan hanya Rp. 15.000.
Di Flores ada tempe dan tahu. Dan, ada pedagang gorengan di pinggir jalan.

Volume Makan
Katik, adik sepupu saya, mengingatkan saya, kalua memesan makanan,nasinya minta setengah porsi. Kok begitu. Ketika di Lembor, saya makan di warung Padang, dengan nasi normal forsi lokal. Betul kata si Katik, saya mampu menghabiskannya. Besoknya, sebelum melanjutkan perjalanan, saya ke warung padang itu lagi, membai nasi bungkus sebagai bekal dijalanan. Ketika saya makan di jalanan yang teduh di Lembor Selatan, nasi bungkus itu tak mampu saya habis. O, ya, untuk saya tidak lupa dengan percakapan kecil di rumah Pak Guru di Pulau Mules. Ketika makan malam dengan temannya yang menjadi guru honer SMP, “Orang Flores makannya banyak Pak. Jadi, bapak jangan malu-malu makan banyak,” ujar Pak Guru tertawa.

Kebutuhan Sehari-hari
Setiap orang memiliki kebutuhan dan pilihan sendiri. Di Flores memang tidak ada mini market modern sebagaimana adanya di Pulau Jawa, namun di Flores ada mini market dan bahkan super market bermerek local. Dapat saya pastikan, kebutuhan pribadi setiap orang kota, tersedia. Disamping itu, banya terdapat kios kelontong.

Penginapan / Hotel
Setiap kota,  bahakan di kecamatan tersedia penginapan. Hotel-hotel atau homestay tersedia di setiap kota.

Bahan Bakar kendaraan
Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) Pertamina ada di setiap kota. Keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar letakknya di pinggir kota.
Jaringan Seluler
Jaringan data dan komunikasi telpon merata tersedia oleh pelayanan Telkomsel. Layanan lainnya, yaitu Indosat dan XL, tapi baru di kota-kota saja.
Bank dan ATM
Layanan Bank dan ATM disediakan oleh BRI, BNI dan Bank NTT.

Layanan Listrik PLN
Dari kota sampai ke kecamatan teraliri oleh listrik PLN. Kecuali beberapa desa belum ada jaringan listrik.

Bahasa
Tentu Bahasa lokasl lebih dominan. Namun, pemakaian Bahasa Indonesia dalam berkomuniasi sehari-hari baik sesame warga local, mapun dengan pendatang sudah menjadi Bahasa percakapan sehari-hari.

Tempat Ibadah
Penduduk Indonesia yang mayoritas Islam, sedangkan di NTT mayoritas pemeluk Nasrani Katolik, tidak menghambat umat Islam melakukan ibadah. Banyak masjid dan musholla di Flores. Sebagai mayoritas Nasrani, kerukunan disana baik sekali. Termasuk makanan halal, seperti daging. Pemotongan hewan untuk ayam, sapi, kambing dipastikan disembelih kalangan Muslim.

Toleransi di Jalan Raya
Karena kondisi gerografisFlores yang berkontur-kontur, jalan raya di Flores berliku-liku dengan tanjakan panjang dan dengan jalan menurun panjang pula. Karakter jalan raya macam itu membuat para pengemudi mobil dan sepeda motor saling menghomati kendaraan lainnya. Kelakson, lampu hazard dan lampu sen, diaktifkan sesuai dengan fungsinya.
Sopir yang Menyenangkan
Pengemudi travel, pengemudi bus antar kota, pengemudi angkutan local, ramah kepada penumpang. Mereka melayani dari pintu ke pintu.

Ketemu Dua Bule
Di Way Kabubak, Sumba Barat, saya bertemu denga  seorang pria Eropa yang sudah berusia. Usinya antara 60 sempai 70 tahun. Namanya Herman. Pak Herman, dia senang sekali saya panggil Pak. “Saya senang dipanggil Pak. Jangan Bapak, cukup Pak Herman saja,” pintasnya.
Pak Herman ini, lama di Jogya, katanya 15 tahun. Lima tahun terakhir, Pak Herman sering ke Flores, Sumba, Timor, Alor, dan pelosok pulau di NTT.

“Saya berasal dari Belgia. Seorang pensiunan. Saya ingin mati di Sumba,” terang Pak Herman.
Tiga tahun terakhir ini, Pak Herman mengontrak rumah di Way Kabubak. Kegiatan dia sehari, berbaur dengan masyarakat dan jalan-jalan ke kampung-kampung.
“Sumba, Flores, Alor dan lain-lain cantic sekali….,” katanya dalam Bahasa Jawa. Saya tak paham Bahasa Jawa, lalu diterjemahkan oleh Mbak-Mbak penjual pulsa. Lalu, kami tertawa-tawa.
“Kepada masyarakat, pemilik tanah, saya katakana kepada mereka, ‘jangan jual tanah’ kamu. Jika ada yang mau beli, pilih kerjasama saja, sehingga kamu dan ketrunan kamu bisa kaya,” kata Pak Herman kepada saya. Saya setuju itu….

Di Air Panas Malanage, Bajawa, saya ketemu dengan seorang bule yang juga sudah berumur. Orang-orang memanggilnya Om. Si Om ini, berasala dari Canada. Pada hari itu, dia mendampingi sejumlah tamunya dari Canada. Bule-bule Canada tersebut, tinggal di akomodasi miliknya.

Si Om – yang gemar merokok Ji Sam Soe ini, prihatin dengan lokasi-lokasi cantic sudah dikuasai oleh pendatang sampai bangsa asing. Pandangannya sama dengan Pak Herman, agar masyarakat local menikmati dan makmur dengan kedatangan wisatawan. “Saya sedih, banyak tanah bagus sudah milik orang. Saya minta masyarakat untuk tidak menjual tanahnya. Jika saya mau, saya bisa beli, tapi tanah saya sewa, dan bekerja sama dengan desa,” tegas Si Om, yang mengajarkan Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis.
Selain keprihatinanya soal tanah beralih pemilik, Si Om – yang beristrikan wanita setempat, Si Om seperti marah dengan sampah manusia di tempat-tempat di wisata. Nah, untuk memberikan kesadaran kebersihan lingkungan sejak kecil, bocah-bocah yang belajar Bahasa asing kepadanya, membayarnya dengan sampah plastic.

Bagai Anekdot
Ngobrolin, bincang-bincang ringan mengenai Flores, bagai sebuah anekdot. Realitanya entah iya dan entah tidak, seperti guyonan.  Ternyata benar-benar fakta. Misalnya, benarkan sepeda motor di Flores tidak pernah dikunci? Benarkah volume makan orang Flores besar? Benarkah orang Flores pemarah dan kasar? Seperti apa itu Oto Cold, bis kayu? ( Baca Bab : Oto Cold……). Cerita berikut ini saya rangkum dari pengalaman dan cerita orang lain, dan apa yang saya temukan.

Semenjak saya berada di kapal  Labuan Bajo dari Surabaya, saya tentu banyak ngobrol dengan warga setempat dan perantau. Cerita yang  banyak dituturkan, ialah keramahan orang Flores dan senang menjamu tamu.

Soal kunci sepeda motor. Saya punya saudara sepupu, M Iqbal Katik, yang mengajar di Politeknik Pariwisata Labuan Bajo. Katik panggilannya, ke Labuan Bajo membawa sepeda motor untuk sarana transportasinya. Di stang sepeda motornya menggantung kunci gombok. Gombok sepeda motor tersebut menjadi olok-olok teman-temannya di Labuan Bajo. “Kunci ini tak perlu disini. Buang saja,” kata teman Katik tertawa.

Lain padang lain ilalang. Laik lubuk, lain ikannya. Seorang perantau dari Jakarta yang bekerja di Rumah Makan Padang Ranagh Minang yang terkenal di Ruteng, membawa kedua kebiasaan di dua tempat. Di Ruteng, dia terbiasa meinggalkan kunci stater di sepeda motor. Ketika dia pulang ke Jakarta, kebiasaan meninggalkan kunci starter di sepeda motor dibawanya pula. “Beberapa kali saya begitu. Untung saja sepeda motor pinjaman nggak hilang,” Izul, 30 tahun, yang berasal dari Jakarta Timur.
Seorang Guide tour di Bajawa, berteriak hebok dengan mengangkat gelas kopi di tangannya. “May adventure, my drink coffee.” Begitulah yang saya alami, selama perjalanan saya dengan sepeda. Dimana saya berhenti istirahat, disitu ada warga, saya disuguhi kopi panas.

Dalam hari kedua saya menggowes sepeda dari Labuan Bajo tujuan Dintor, di pantai selatan yang memukau, saya nyaris bermalam di bangunan toilet yang terbengkalai pembangunannya. Sekitar jam 15.00 waktu setempat. Hitungan ekstimasi waktu dan jarak ke Dintor, saya akan sampai sekitar jam 19.00. Dalam pikiran saya, jika perjalanan saya teruskan, akan banyak momen-momen foto yang terbaik terlewatkan. Sekitar jam 17.00, saya putuskan bermalam di lokasi tersebut.

Lokasinya bernama Pantai…. Pantai bertebing curam, dengan pemandangan laut dan Pulau Mules. Deburan ombak menghantan tebing karang, bersaut-sautan, sesekali angin berhembus kencang. Saya bongkar bagasi sepeda. Saya hendak menggelar matras, ketika itulah saya dihampiri seoarang anak muda yan memakai sepeda motor.
“Bapak mau apa disini?,” tanya dia.
“Saya akan bermalam disini. Besok pagi saya akan lanjutkan perjalanan ke Dintor,” jawab saya.
“Oh, jangan disini. Disini aman, tapi banyak angin. Ikut saya,” katanya.

Perabotan sepeda saya loading kembali. Saya mengikutinya ke jalan aspal. Saya dibawa ke sebuah homestay, Pante Hera Geust House  namanya. Homestay yang terbuat dari kayu dan bambu tersebut berada diatas tebing pantai, dengan beberapa pondok peristirahatan. Homestay tersebut tidak ada tamu. Pemiliknya bernama Paul, orang Amerika. Penjaganya dinamai pula Paul Kecil. Paul Kecil itulah yang menyediakan tempat istirahat. “Sebelum gelap, kita rumah saya dulu. Kita makan dulu, nanti bapak saya antar kesini.”

Saya mengikuti dengan membawa headlamp.  Rupanya di, perkampungan berada di dalam. Kampung tersebut tidak ada listrik. Rumah Paul, rumah beton yang belum diplaster dan lantainya masih tanah sebagian. Karena malam, penerangan memakai listrik desa – yang hanya sampai jam 22.00. Sembari istrinya memasak, kami ngobrol sambal minum kopi. Hidangan disuguhkan, nasi, mie instan dengan telor. Selesai makan, saya diantarkan kembali ke homestay oleh suadaranya. Sesampai di homestay, saudara Paul, berkata, “Bapak, besok pagi, kami semua mau ke Lembor untuk acara keluarga. “Jadi, besok pagi, bapak kunci saja sendir ipagar homestay. Cara seperti ini,” katanya. “Selamat malam bapak. Selamat beristirahat. Semoga selamat,” katanya.

Pagi sekali, saya tinggalkan homestay tersebut. Tentu saya kunci-kunci dulu.
Perjalanan yang indah…

Matahari sudah mulai meninggi, tapi masih jauh untuk sampai di puncak tertingginya. Jalan naik turun, dan tidak banyak kelok. Mulut ini, terasa pengen meminum teh manis panas. Ukhhh, tidak ada kedai disini.
Dua bocah putus sekolah saya temui di sebuah ptoyek pembangunan jembatan. Jalannya lansung menikung dan mendaki. Kedua bocah tersebut, terus mengikuti saya. Ternyata, kedua bocah tersebut setiap hari di lokasi itu untuk membantu sepeda motor yang tidak kuat mendaki jalan. Keduanya membantu dengan mendorong sepeda motor, dengan imbalan sekadarnya. Mereka itu pulalah yang membantu saya mendorong sepeda sampai ke jalan rata diatas bukit. “Dek, dimana ada kios disini,” tanya saya. “Ada diatas Pak,” katanya.

Satu-satunya kios umum di rute ini, terdapat di Desa…. Kios tersebut milik desa. “Bang, bikinkan saya teh manis yang banyak,” pinta saya.

Sembari menunggu teh manis panas, saya mengambil air mineral untuk bekal dan saya minum saat itu. Katika saya minta tagihan pembayaran, saya hanya membayar air mineral, sedangkan teh manis gratis. Saya melanjutkan perjalanan, kedua bocah tersebut saya kasih uang jajan.  
Sampailah saya di Dintor sektar jam 12.00-an.

Tidak ada apa-apa di Dintor. Dintor hanyalah kampung kecil, sebuah persimpangan tujuan ke Kampung Adat Wae Rebo dan ke Pulau Mules.
Saya kebingungan karena tidak ada kapal atau perahu untuk menyeberang ke Pulau Mules. Saya berharap, kapal wisata bantuan dari Kementerian Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi Republik Indonesia sebagaimana ramai diberitkan dan dimuat foto kapal tersebut tidak ada disini. Dalam berita disebutkan, kapal tersebut diperuntukkan untuk Desa Luca Mulas, di Pulau Mules. Berkat bantuan Pak Guru, yang berasal dari Wae Rebo, saya dibantu untuk bisa ke Pulau Mules bersamanya. Bawaan saya berendong petong, dibantu olehnya menaiikan ke perahu nelayan. Sampai di Pulau Mules, Pak Guru langsung mengajak saya ke rumahnya. “Rumah saya gubuk,” kata dia.

Benar juga rumahnya betul-betul gubuk kayu yang berada di hadapan sekolah. Rumah tersebut dia sendiri yang membangunnya. “Tidur dan makan disini saja. Nanti lapor ke Sekretaris Desa,” pintanya.

Di rumahnyalah saya selama 2 malam. “Besok, Bersama saya saja kembali ke Dintor karena saya harus ada tugas ke Ruteng,” katanya.

Pukul 04.00, kami dengan penerangan senter, saya menggowes sepeda ke Kampoung Petji untuk menumpang dengan perahu bermotor ke Dintor. Di Dintor, kami berpisah. Pak guru dengan sepeda motor, saya di Dintor menunggu oto cold untuk ke Ruteng.

Cerita Sopir Truk di kapal
Saya sedang berada di Aimere untuk tujuan ke Kampung Belaraghi. Di Dermaga Aimere, bejejer truck ukuran menengah bermuatan penuh. Konvoi truck tersebut ber plat nomor AB dan AD.  Mereka ini sudah  2 hari menunggu kedatangan kapal dari Kupang – yang dijadwalkan tiba pada hari Selasa untuk selanjutnya ke Wai Ngapu Sumba. Pada Selasa jam 08.08, kapal very  mengangkat sauh. Saya ikut jadi penumpang di kapal tersebut. Kapal tersebut penuh. Membawa truk, mobil pribadi, sepeda motor, hewan ternak babi seukuran anak sapi dan buah pisang. Baru saya ketahui kemudian, bahwa di Sumba tidak ada tanaman pisang.


Di kapal, saya kebetulan duduk-duduk berdekatan dengan para sopir dan kenek truck. Maka keluarlah cerita pengalamannya selama mengemudikan truck di Flores. Seorang sopir yang datang dari Solo, bercerita truknya mogok di Jalan Raya Trans Flores, filtes olie truck-nya pecah. Hari sudah malam, dan jauh dari kampung. Dia memutuskan bermalam di jalan, menunggu pagi ke Ruteng untuk membeli filter olie baru. Sepeda motor, menghampirinya. Pemilik sepeda motor bertanya, kenapa Mas, ada masalah? Sopir truck menjawab, filter olie trucknya pecah. Warga tadi, menjawab, “Mas, saya akan kembali. Saya pulang dulu,” Si Sopir mengulang percakapan warga tersebut. Si Sopir truck dan keneknya mengabaikan janji warga tersebut akan kembali. Selang 3 jam kemudian, warga tadi datang dengan mobil mini kap. Dia membawa magic gear yang sudah ada nasi matang, lauk telor dadar, ikan asin dan sambal juga ada, termos berisi air panas, plus gula, koi dan teh. Mereka makan bersama. Warga tersebut turut bermalam di lokasi. Paginya, sopir truck diantar ke Ruteng untuk membeli filter olie. Kembali ke truck, filter olie dipasang, mobil hidup kembali. Sebagai balas jasa, sopir truck memberikan uang Rp.300.000. Si Warga menolak pemberian tersebut. “Mas, saya tidak minta uang. Saya hanya menolong mas saja,” ujar Sopir truck – yang ketika itu, adiknya sebagai kenektur. “Nih, adik saya,” sopir tersebut menunjuk adiknya yang membawa kopi dari kantin kapal. Sopi truck dari Solo itu, kemudian bertemu lagi dengan saya di kota Waitabula, Sumba Barat Barat Daya. 

Akhirnya berebut ceritalah para sopir-sopir tersebut.
Seorang sopir lain yang berbadan tambun, berasal dari Maluku. Di Flores pula, sekembali dari Sumba, truck mogok di jalan. Sore menjelang malam, dia diahmpiri warga kampung, menawarkan rumah untuk beristrahat. Si sopir, menolak tawaran tersebut karena sungkan. Warga tersebut kembali menyemput dia dan keneknya. Akhirnya kedua mengikuti warga tersebut. Sopir dari Maluku Utara tersebut, diseaikan makan dan kamar untuk tidur. Selama dua hari memperbaiki trcknya, dia diatarkan makan siang. Makan malam dan tidur di rumah warga. Ketika hendak pamit karena trcuknya sudah bija jalan lagi, si sopir memberi uang Rp.200.000, sebagai tanda terimakasih. Si pemilik rumah menolak pemberian tersebut.


Saturday, August 11, 2018

Lokasi Gempa Lombok


Lokasi gempa ini buat (mungkin coba-coba), untuk memudahkan kawan-kawan aktivis bencana yang terlibat dalam operasi bantuan di Lombok untuk berorientasi dan bernavigasi. Setiap titik gempa, diberi tambahan data wilayah desa dan kecamatan. Ada dua versi peta yang saya buat, yaitu peta atlas dan lokasi gempa yang disematkan di Google Maps. Pada versi peta atlas, dapat membantu untuk berorientasi. Sedangkan versi digital, dapat bernavigasi ke kawasan sumber gempa.
Supaya bisa mengakses peta digital, dengan membuka https://rizalbustami.blogspot.com.
Untuk mendapatkan peta atlas berukuran besar, kirimkan email dengan alamat Gmail.
Mohon maaf ketidak sempurnaan peta ini, sebagai sumbangan kecil untuk penanganan pasca gempa Lombok. Kritik dan saran siap diterima. Salam…

Lokasi gempa menunjukkan desa dan kecamatan. Sumber data :
1. Data gempa dari BMKG
2.Data wilayah dari Geopatial untuk Negeri





Monday, June 25, 2018

Promosi Wisata Indonesia di Russia

Ramaikan Piala Dunia, Bus Wisata ‘Wonderful Indonesia’ Akan Keliling Kota Moskow dan Sankt Peterburg
Fauzan Al-Rasyid


Bus wisata ‘Wonderful Indonesia’ di Lapangan Merah, Moskow, Rusia.


Baru-baru ini, sebuah pemandangan unik terlihat di pusat kota Moskow. Sebuah bus wisata bergambar Candi Borobudur berhenti di dekat Lapangan Merah, menaikkan dan menurunkan penumpang, dan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Sebuah bus wisata bertema ‘Wonderful Indonesia’ berhenti di Lapangan Merah, samping Istana Kremlin, untuk menaikkan dan menurunkan turis-turis lokal dan asing, Minggu (3/5). Bus bergambar Candi Borobudur dengan logo ‘Wonderful Indonesia’ dan ‘Asian Games 2018 Jakarta-Palembang’ itu berkeliling menelusuri jalan-jalan utama ibu kota mulai 1 – 20 Juni 2018.

Berdasarkan siaran pers KBRI Moskow yang diterima RussiaBeyond, Senin (4/5), desain ‘Wonderful Indonesia’ padai bus yang berhenti di Lapangan Merah tersebut berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Desain tersebut tampak sangat kontras dengan latar belakang Katedral St. Basil yang terkenal.



Selain bus bergambar Candi Borobudur, ada pula bus wisata lainnya yang menggambarkan keindahan Pulau Dewata. Bus ini juga menelusuri jalur-jalur utama di ibu kota, tapi pada rute yang berbeda. Kehadiran kedua bus ‘Wonderful Indonesia’ itu merupakan bagian dari kampanye pariwisata Indonesia di Rusia yang dilakukan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Tak hanya itu, kampanye ‘Wonderful Indonesia’ juga dilakukan melalui sebuah papan iklan digital di dua tempat strategis di ibu kota, yaitu Novy Arbat dan Yerevan Plaza mulai 15 Juni hingga 16 Juli 2018 mendatang.

Selain di Moskow, kampanye serupa juga akan dibuat di Sankt Peterburg, salah satu kota wisata utama dan kota terbesar kedua di Rusia. Berdasarkan informasi dari Kementerian Pariwisata RI, sebanyak 17 unit bus besar dengan desain yang menggambarkan objek-objek wisata Indonesia akan beroperasi mulai 18 Juni hingga 9 September 2018, dan empat unit bus besar lainnya pada 18 Juni sampai 19 Agustus 2018. Sementara, ada pula empat unit bus mini yang akan beroperasi pada 18 Juni – 15 Juli 2018. Bus-bus tersebut akan menelusuri berbagai jalur utama dan jalan tersibuk Sankt Peterburg.


Gencar Promosi
Duta Besar RI untuk Federasi Rusia M. Wahid Supriyadi mengatakan, pemerintah memang gencar mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia di Rusia. Belum lama ini, KBRI bahkan menggelar serangkaian kegiatan Festival Kuliner Indonesia di Moskow dan pagelaran budaya Indonesia di Sankt Peterburg, Moskow, dan Oblast Moskovskaya.

“Melalui (kampanye) ‘Wonderful Indonesia’ ini, kami harap masyarakat Rusia dan turis asing yang sedang berada di Rusia semakin mengenal dan tertarik untuk berkunjung ke Indonesia,” kata Dubes Wahid. “Salah satu bentuk lain promosi budaya dan pariwisata Indonesia di Rusia adalah dengan menyelenggarakan Festival Indonesia ketiga di Moskow pada 3 – 5 Agustus 2018.”

Rusia merupakan negara yang potensial bagi pariwisata Indonesia. Dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan Rusia ke Indonesia terus meningkat. Data Kementerian Pariwisata RI menunjukkan, jumlah wisatawan Rusia ke Indonesia pada 2017 mencapai 110.529 orang, naik 37,28 persen dari tahun 2016 yang tercatat sebanyak 80.514 orang. Persentase kenaikan ini merupakan yang tertinggi di antara wisatawan negara-negara lain yang berkunjung ke Indonesia.


Di sisi lain, Moskow dan Sankt Peterbug sama-sama merupakan dua kota yang selalu ramai turis. Apalagi, selama sebulan ke depan, kedua kota tersebut akan menyambut para penggemar sepak bola dari seluruh dunia. Moskow dan Sankt Peterbug termasuk dua dari sebelas kota tuan rumah Piala Dunia FIFA 2018™. Karena itu, sebagaimana yang disampaikan KBRI melalui siaran persnya, promosi citra ‘Wonderful Indonesia’ sangat tepat dilakukan di kedua kota ini.

Rusia kini menjadi salah satu destinasi menarik bagi wisatawan Indonesia. Dubes Wahid bahkan melihat bahwa Rusia berpotensi menjadi destinasi baru wisata religi.


Friday, June 22, 2018

Si Puan, Orangutan Tertua Dunia Meninggal

Inilah Sosok Si Puan itu, yang kematiannya menjadi berita dunia. Dari Australia, berika kematiannya menyebar sampai ke Iran dan India.





Selasa, 19 Juni 2018 11:32 WIB

Jakarta (ANTARA News)
"Si nyonya besar" Puan yang merupakan orangutan Sumatra tertua di dunia mati di kebun binatang Western Australia, para petugas kebun binatang menggelar peringatan yang emosional pada Senin.

Puan diserahkan ke kebun binatang Perth pada 1968, dia lahir di Sumatra pada 1956.

Mati di usia 62 tahun, Puan hidup jauh di luar rata-rata harapan hidup dan tercatat sebagai yang tertua di spesiesnya oleh Guinness Book of Records pada 2016.

Menurut kebun binatang, orangutan Sumatra jarang ada yang hidup lebih dari 50 tahun.
 
Selama hidunya Puan berjasa telah melahirkan 11 anak dalam program pembiakan. Dia punya 54 keturunan di Australia, Amerika Serikat, Indonesia dan beberapa tempat lain di duna.

“Selain menjadi anggota tertua dari koloni kami, dia juga anggota pendiri program pembiakan terkenal di dunia dan meninggalkan warisan yang luar biasa,” kata Holly Thompson, supervisor primata kebun binatang dalam sebuah pernyataan yang dilansir Guardian.

“Genetikanya terhitung hanya di bawah 10% populasi zoologi global.”

Puan di-euthanasia atau suntik mati pada hari Senin setelah mengalami komplikasi akibat usia yang kata pihak kebun binatang mempengaruhi kualitas hidupnya.

 
Penjaga kebun binatang Martina Hart, yang telah bekerja dengan Puan selama 18 tahun, menulis obituari sepenuh hati setelah kematiannya.

"Selama bertahun-tahun bulu mata Puan telah memutih, gerakannya telah melambat dan pikirannya mulai berkeliaran. Tetapi dia tetap menjadi ibu pemimpin, wanita yang tenang dan bermartabat seperti dulu, ”tulis Hart dalam obituari, yang diberikan kepada Guardian Australia dan dicetak penuh di Australia Barat.
 
“Puan menuntut dan pantas dihormati, dan dia tentu memperolehnya dari semua penjaga kebun binatang selama bertahun-tahun. Dia adalah wanita pendiri koloni pembiakan terbaik di dunia.”

“Puan mengajari saya kesabaran, dia mengajari saya bahwa naluri alami dan liar tidak pernah hilang di penangkaran. Dia berada di lingkungan kebun binatang, tetapi sampai akhir dia selalu mempertahankan kemandiriannya.”

Hsing Hsing, orangutan sumatera jantan tertua di Australia mati pada tahun 2017. (berita dikutip dari Antara News)

Puan yang Menjadi Berita dunia
Perth Zoo
‏@PerthZoo
 Jun 18
More
This is the last photo of Puan, taken by her keeper, Martina Hart. Read her moving tribute farewelling the world's oldest Sumatran Orangutan! http://ht.ly/d6WB30kyHID  💕

12 replies 52 retweets 138 likes
Reply 12   Retweet 52   Like 138

Perth Zoo
‏@PerthZoo
Jun 18
More
Yesterday the Zoo family farewelled Puan, the oldest orangutan in the world, due to age related complications.
Rest in peace Puan, may you climb happily in the jungles of the sky.
https://perthzoo.wa.gov.au/article/perth-zoo-farewells-oldest-sumatran-orangutan-world …
Music by http://purple-planet.com
1:43
15 replies 82 retweets 162 likes
Reply 15   Retweet 82   Like 162

Perth Zoo
‏@PerthZoo
 Jun 17
More
Our ‘golden prince’ Putra Mas is a dad! He's sired an elephant calf at Taronga Western Plains Zoo, via artificial insemination. First time his valuable genes have been represented, heralding a new era for the regional breeding program. https://perthzoo.wa.gov.au/article/elephant-calf-sired-perth-zoo-bull-heralds-new-era-regional-program … @tarongazoo 💕








Tuesday, June 12, 2018

Monday, June 11, 2018

Matinya Badak Samson

Siang-Malam Menjaga Kuburan Samson

Sumber Detik
https://x.detik.com/detail/investigasi/20180523/Siang-Malam-Menjaga-Kuburan-Samson/index.php
Kamis, 24 Mei 2018

Pantai Karang Ranjang, tak jauh dari Pulau Handeleum, Ujung Kulon, Pandeglang, Banten, begitu indah. Tak salah bila pantai ini disebut surga dunia di wilayah paling barat Pulau Jawa itu. Tak ada kebisingan, pasir pantainya putih, air lautnya jernih kebiruan. Suara hanya datang dari deburan ombak dan embusan angin.
 
Ombak Pantai Karang Ranjang cukup tinggi karena berasal dari lautan Samudra Hindia. Rerumputan yang menghijau dengan pepohonan yang rimbun menjadikan tempat ini penuh kedamaian dan ketenangan. Maklum, kawasan pantai yang berada di kawasan hutan lindung Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) ini jarang dijamah manusia.

Begitu juga dengan Samson, yang mencari tempat peraduan terakhirnya. Berhari-hari ia berjalan meninggalkan hutan pedalaman TNUK untuk menuju pantai itu. Kakinya yang besar seakan tak mampu lagi menopang tubuhnya. Langkahnya diseret mencoba mendekati bibir pantai pada Minggu, 22 April 2018. Ketika air pasang, setengah tubuhnya tenggelam. Pada pukul 22.00-00.00 WIB, tubuhnya ambruk dan mati.

Samson bukanlah tokoh dalam cerita legenda yang sakti mandraguna. Tapi Samson adalah seekor badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Badak Jawa bercula satu ini merupakan spesies langka yang dilindungi pemerintah Indonesia dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) serta masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

Bangkai badak jantan itu baru ditemukan keesokan harinya oleh petugas harian lepas TNUK bernama Nandang Sumarna, yang bertugas di Pos Pantai Karang Ranjang pada Senin, 23 April 2018, pukul 07.00 WIB. Sebelumnya, ketika berpatroli, Nandang memang sempat melihat pergerakan badak dari arah timur menuju barat, persisnya dari arah Aermokla, yang merupakan kawasan Java Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), menuju Pantai Karang Ranjang. Tapi badak itu beberapa kali keluar-masuk dari atau menuju area pagar JRSCA.
 
Keesokan harinya, Nandang terkejut melihat badak yang teridentifikasi bernomor ID: 037.2012 terbujur kaku di pantai. Kaki-kakinya yang besar tertimbun pasir. Badak itu ternyata Samson, yang ditaksir berumur 30 tahun. Badak yang berusia seperti itu sudah dikategorikan sepuh alias tua.

“Kita duga malam Senin (matinya Samson). Kakinya kan jalan di pasir, mungkin di situlah dia meregang nyawa. Air makin pasang, seolah-olah terendam, padahal kan dia dekat laut,” kata Kepala Balai TNUK Mamat Rahmat kepada detikX, 9 Mei 2018.

Melalui alat komunikasi yang dibawanya, Nandang melaporkan temuannya ke Balai TNUK. Keesokan harinya, Selasa, 24 April 2018, pihak Balai membentuk tim gabungan dari petugas TNUK, tim dokter hewan patologi Institut Pertanian Bogor, dan World Wide Fund for Nature Ujung Kulon Project.

Tim gabungan berangkat melalui jalur laut. Sebab, bila melalui darat, perjalanan akan memakan waktu lebih lama karena mesti menembus hutan lebat di kawasan Taman Nasional. Dari Kecamatan Sumur, tim bergerak menuju Desa Muara Laban, desa terdekat yang berbatasan dengan Taman Nasional.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan menggunakan speedboat menuju Pantai Karang Ranjang. Perahu yang mereka tumpangi menyusuri garis pantai menuju bagian utara Ujung Kulon. Jarak tempuh dari Muara Laban hingga Pantai Karang Ranjang sekitar 4 kilometer, tapi waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam. Mereka harus melalui hutan mangrove yang banyak tumbuh di sepanjang pantai.
Samson ditemukan tewas di Pantai Karang Ranjang, Ujung Kulon, Pandeglang, Banten. Samson ditemukan tewas pada Senin, 23 April lalu.
 
Begitu sampai, tim langsung melakukan pendokumentasian dan penyelamatan cula. Maklum, cula badak sangat dicari oleh para pemburu liar dan harga jualnya fantastik. Agar bangkai Samson tak terbawa arus, tim mengevakuasinya sejauh 300 meter agar aman dan tak terkena air laut pasang. “Itu ditarik-tarik lebih dari 20 jam. Lumayan, dari pagi sampai sore mengangkatnya. Maklum, berat Samson mencapai 2,3 ton,” ujar Mamat.

Dari pemeriksaan awal, tak ditemukan adanya luka akibat perburuan. Tim gabungan selanjutnya melakukan nekropsi (autopsi) dan mengambil sampel, seperti usus, hati, dan otot jantung. Hasil sementara pemeriksaan nekropsi, Samson mati tiga hari sebelum ditemukan. Tidak ditemukan tanda adanya infeksi dengan patogen yang bersifat akut atau perburuan, karena cula masih ada.

Drh. Sri Estuningsih, ahli patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB, mengatakan kematian Samson diakibatkan kerusakan organ dalam. Hal itu setelah dilakukan pengamatan bagian dalam (hasil nekropsi). Penyebab kematian adalah torsio usus, yaitu terpuntirnya usus besar dan usus kecil. “Ini mengakibatkan kerusakan pada usus besar, sehingga bakteri mikroflora usus menghasilkan racun yang menyebar ke seluruh tubuh badak,” kata Sri kepada detikX, 27 April 2018.
 
Setelah itu, bangkai Samson dikuburkan di tempat tersebut. Kuburannya berukuran 4 x 4 meter dengan kedalaman lebih dari 1 meter. Samson terpaksa dikubur. Alasannya, untuk menghindari pencurian dan dirusak hewan buas lain yang ada di kawasan TNUK.

“Saya inginnya kan diawetkan, cuma bagaimana angkutnya. Beratnya saja 2,3 ton. Di tengah hutan lagi. Sudah begitu, harus ada ahlinya, biayanya berapa? Nah, ini di hutan belantara di pantai selatan Ujung Kulon, angkutnya pakai apa?” tutur Mamat mengenai alasan penguburan Samson.
 
Setiap hari kuburan Samson dijaga secara bergantian oleh 5-10 orang per tiga hari. Kuburan itu pun dijaga selama 24 jam sehari. Kuburan dijaga ketat karena badak Jawa bercula satu sangat dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan dunia. “Hewan ini dilindungi undang-undang dari perdagangan internasional. Apa pun pasti kena hukum. Penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta,” kata Mamat.

Setelah tiga bulan nanti, kuburan dibongkar untuk diambil kulit dan tulangnya. Kulit dan tulang ini akan dibersihkan oleh tim ahli dari IPB dan dirangkai kembali. Setelah itu didaftarkan dalam lembaran barang milik negara. “Mungkin nanti ditaruh di museum atau di mana, itu kan bagian dari milik negara,” imbuh Mamat.

Samson sempat terlacak keberadaannya melalui kamera/video tersembunyi (camera trap) beberapa kali pada 2013, 2015, 2016, dan 2017. Samson hidup di habitatnya di sekitar Blok Cibanuwuk, Karang Ranjang, sampai ke Aermokla, yang masuk kawasan JRSCA.

Koordinator Rhino Monitoring Unit/Rhino Health Unit (RMU/RHU) Balai TNUK Mochamad Syamsudin menambahkan, pada 2014, seekor badak jantan bernama Sultan juga ditemukan mati di pantai utara Ujung Kulon, tak jauh dari Pulau Peucang. Sultan juga dikuburkan tak jauh dari lokasi ditemukan bangkainya.

“Nah, dia juga dikuburkan di situ, dijagain sama kayak Samson. Digali lagi setelah beberapa bulan, kita ambil lagi tulang belulangnya dan kita rangkai kayak yang ada di Balai,” ungkap Syamsudin, yang akrab disapa Kang Apuy, kepada detikX.

 

Syamsudin pun menjelaskan badak merupakan hewan yang sifatnya soliter (penyendiri). Karena sifatnya itulah hewan satu ini sulit dideteksi ketika sedang sakit. Bila akan merasakan kematian, badak akan mencari sumber air yang dingin, seperti laut, sungai, atau danau, untuk mendinginkan suhu udaranya.

Hal senada diungkapkan oleh Species Coordinator WWF Ujung Kulon Ridwan Setiawan. Hampir semua jenis satwa memang memiliki sifat seperti badak, mencari tempat untuk mati. Apalagi badak sangat sensitif dan tak mau diganggu oleh kehadiran hewan lainnya, apalagi manusia.


Kenapa harus jauh dari habitatnya dan mencari tempat jauh hanya untuk mati? “Saya nggak tahu begitu, mungkin kayak manusia, nyari tempat tenang buat tapa sampai mati, kayak orang dulu,” ujar Ridwan, yang disapa Iwan Podol, sambil tertawa ketika bersama tim detiXpedition menjelajahi kawasan hutan TNUK bagian selatan pada 2 Juni 2017.


Tuesday, May 15, 2018

Bersepada di Kawasan Tambora, Sumbawa

Bersepada di Sumbawa, Bisakah?




Yaa, sangat bisa… Banyak pilihan untuk bersepada di Sumbawa, baik seorang diri, maupun dengan rombongan. Saya memilih rute Dompu sampai ke Geopark Tambora, dengan melakukannya sendiri…

Banyak orang Indonesia yang tidak mengetahui fakta-fakta georafis Pulau Sumbawa. Kota Bima saja, ditafsirkan sebagai nama orang. Apalagi dengan nama Dompu, sangat asing bagi masyarakat kita. Tambora atau Gunung Tambora, sedikit banyak orang lebih mengetahuinya, karena cukup banyak publikasi tentang kawasan ini, terutama Gunung Tambora yang letusannya fenomenal pada 10 April 1815. Dalam perjalanan menuju Tambora, di Jalan Raya Calabai, bisa dilihat tumpahan lava yang sudah membatu.

Fakta-fakta visual atau pandangan mata dapat dilihat dari infrastruktur jalan dan jembatan. Sepanjang jalan dari Bima ke Tambora dan dari Bima ke Pelabuhan Poto Tano, di Sumbawa Besar, pelabuhan yang menghubungkna Pulau Sumbawa dengan Pulau Lombok jalan mulus dan besar. Jalan dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan. Menurut taksiran saya, sepanjang yang saya amati, hanya 1 persen kerusakan jalan. Jalan yang rusak tersebut, dalam proses perbaikan. Ruas jalan raya di Sumbawa, baik kwalitas jalan maupun pemandangan yang disuguhkan, di Indonesia ini, hanya bisa dibandingkan dengan Sumatera Barat dan Jawa Timur. Untuk bersepada atau touring sepeda motor, di Sumbawa aman dan bersih.
Pengertian aman, masyarakat disana ramah. Sosok saya bersepada yang berpakaian UF dan sepeda MTB yang dilengkapi bagasi, saya dikira orang asing. Semua sepeda motor yang melewati saya maupun berpapasan, dan warga masyarakat di pinggir jalan, memanggil saya mister. Tidak jarang diantaranya meminta saya singgah. Karena Sumbawa kental ke Islamannya, saya menyapa dengan assaluamualaikum.

Pengertian besih, penting bagi pemain sepeda udara yang bersih untuk pernapasan. Karena kawalitas jalan baik, maka kadar debunya minim, yang berada dalam taraf toleransi. Tingkat kebisingan juga rendah, karena volume kendaraan bermotor tidak seperti di Pulau Jawa.

Pilihan Rute Sepeda
Baiklah, Bima ke timur saya meyakini sama baiknya dibandingkan dengan Bima ke barat.   Bima ke barat sampai ke Pelabuhan Poto Tano berpamandangan laut dan dan sedikt savana. Rute ke utara sampai dengan Pancasila bagus, dominan savana, sedikit laut.

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023