Sunday, January 10, 2010

Sepeda Santai di Cibodas




Good View Ciloto
Kawasan Ciloto yang berada di lembah, memberikan pemandangan yang elok, kemana pun pandangan diarahkan. Gunung Gede – Pangrango yang berdiri kokoh, menjadikan kawasan ini bagai lukisan. Tetapi, bila dipandang dari arah sebaliknya, kawasan Ciloto dan Puncak Pas, dengan Tower Komunikasi Pasir Simbul, menakjubkan pula.

Untuk dapat menikmati view tersebut, harus masuk ke perkampungan. Di sepanjang Jalan Raya Cibodas, pemandangan itu tersembunyi oleh rumah penduduk dan villa. Banyak jalan di pedalaman Ciloto. Memang agak sempit, tetapi bisa dilalui mobil. Untuk mendapatkan keelokan eksklusiv, dengan sepeda caranya.

Menggunakan sepeda gunung/mountain bike, sepeda lipat atau sepeda ontel pun bisa. Di mulai dari Gerbang Cibodas, Cipanas, tepatnya di persimpangan Singa Barong, depan Kantor Krakatoa. Arahkan sepeda ke bawah, ambil jalan ke kiri. Jika cuaca bagus, Gunung Gede Pangrango menonjolkan diri.

Ikuti saja arah menurun, seberangi sungai dan sampai menemukan jalan aspal. Ikuti jalan aspal.
Nanti disebelah kiri, selepas pendakian, terdapat gang beton dan masjid di sebelah kiri jalan. Ikuti gang, sampai menemukan jalan aspal. Begitu menemukan jalan aspal, pemandangan sudah terbuka, dengan hamparan Lembah Ciloto. Di ujung gang ini terdapat sebuah pohon menjulang. Jalan kanan ke Golibah, kiri ke Ciloto / Puncak. Ambil jalan kiri.

Setelah penurunan, ditemukan jalan bersimpang. Ambil jalan kanan, menyeberangi jembatan. Jalan sedikit menanjak. Nah, nikmati dulu pemandangan disini.Ikuti saja jalan desa, sampai melewati Kampung Geger Bentang. Setelah melewati jembatan, jalan mendaki tajam. Iktui saja sampai menemukan jalan hotmik. Di kawasan ini banyak terdapat hotel dan bungalow.

Setelah melewati Hotel Lembah Pinus, ketemu jalan bercabang. Ambil jalan kecil di kanan. Boleh saja meneruskan jalan utama, namun tidak mendapatkan pemandangan lain. Ikuti saja jalan ini, sampai menemukan gang. Masuk gang, di dalam ada perkampungan, Kampung Jempak, namanya.
Akhir dari gang ini, ketemu jalan aspal. Ikuti jalan asal ke kanan, tibalah di Jalan Raya Ciloto, di depan Gerbang Hotel Bukit Ciloto Indah.

Dari sini, terserah mau kemana. Hendak ke Puncak, atau kembali ke Cibodas.
Track pendek ini sejauh 8 km, lama tempuh kurang lebih 2 jam. Jika diteruskan ke Cibodas, tambah 6 km lagi, dengan lama tempuh 1.30 menit. Sangat menyenangkan, karena mendapatkan pengalaman luar biasa.
Silahkan mencoba ! (Rizal Bustami)











Sunday, December 13, 2009

Tanjakan "Ngehek"...


Track Tanjakan "Ngehek"

Tanjakan "Ngehek", nama generik dari track MTB ini.
Dimulai dari Puncak Pas (1475 dpl), melewati Gantole (1350 dpl), Pabrik Teh Gunung Mas (1145 dpl), Gerbang Taman Safari Indonesia, Pasir Muncang dan berakhir di
Simpang Gadog (480 dpl).
Inilah track yang paling populer, obsesi semua pemain sepeda. Track mountain bike
tersebut memang komplit, ada jalan perkebunan, pedesaan dan off road.
Tanjakan "Ngehek" sendiri hanya 2.5 km, namun inilah tantangannya. Penanjakan ini dimulai dari ketinggian 1070 dpl ke 1350 dpl. Meski elevasinya lebih kurang 200 meter, ya mampu merontokkan badan. (Cantigi - Rizal Bustami)
Peta track Tanjakan "Ngehek" dibagi dua bagian. Akurasinya telah dicocokkan dengan Google Earth, dengan edited seperlunya.
Bagi Anda yang beminat terhadap track asli GPS, kirimkan alamat email.


Thursday, December 03, 2009

Sepeda di Geger Bentang !


Membawa sepeda ke Puncak Geger Bentang, Taman Nasional Gede Pangrango, jelaslah perbuatan yang sia-sia. Sampai di Geger Bentang, dibelokkan pula ke Perkebunan Teh Gunung Mas.
Senen, 30 November 2009, Alvin, Juned, Ombing, Rizal Bustami dan Verdi ke Geger Bentang dengan mountain bike masing-masing. Alvin sebagai leader. Perjalanan dilakukan ditengah musim hujan, pada saat curah tertinggi di kawasan ini.
Bagi pendaki gunung, Geger Bentang tentulah tahu posisi dan keadaan alamnya, yang kasat dipandang dari Pasar Wisata Cibodas.
Perjalanan dimulai dari Kedai Kopi Cantigi pukul 09.00, setelah sarapan di Warung Mang Koko. Bekal makan siang, dibawa 5 bungkus nasi. Tujuan pertama Sadelan. Menuju Sadelan dari daratan Kandang Babi, merupakan tantangan pertama, karena sepeda sudah harus dipanggul. Dari Sadelan sampai ke Puncak Geger Bentang, terdapat banyak rintangan, kalau tidak sepeda diangkat diatas pohon, atau disorongkan di “kolong”. Di beberapa tempat, sepeda harus ditarik dengan webing. Sepeda dinaikkan secara estafet. “Tobat,” teriak Hombing.
Senangnya hati sampai di Puncak Geger Bentang. Disini, kami tidak bisa berlama-lama karena sore, jam 17.00. Setelah makan nasi bungkus Mang Koko, perjalanan dilanjutkan tujuan Gunung Mas. “Enaknya, buka camp nih,” cetus Verdi.
Perjalanan turun tidak kalah repotnya, karena jalan sempit dan terjal. Tidak jarang sepeda diturunkan bergantian karena harus ada bantuan tenaga. “Wadow....,” teriak Hombing terpelanting.
Berjalan di kegelapan, berpenerangan senter sepeda. Hujan membuat lintah bergelayutan di kaki dan tangan. Bagusnya, kami membawa obat anti lintah mujarab, satu tetes saja pacet menarik diri dari kulit. “Bang, bang. Lintah, lintah... Tolongin, cepat,” igau Juned panik.
Sampai Simpang Pasir Sumbul, setelah melewati punggungan jalan mulai menghilang. Jalan tembus ke tepi Gunung Mas ditutupi ilalang tinggi. Verdi dan Alvin yang mengenali kawasan tersebut, di depan membuka jalan. “Saya temukan jalannya. Aman,” teriak Verdi di kejauhan.
Sampailah di persimpangan ke Gunung Mas dan Ciloto. Disini kami berdoa, atas ditemukannya jalan yang jelas untuk pulang. Dari persimpangan ini ke jalan raya Puncak, cukup jauh juga. Akhirnya kami muncul di Jalan Raya Puncak, dekat Hotel Bukit Indah.
“Gue puas, sudah lama pengen coba jalur ini dengan sepeda,” teriak Alvin.
Dari Cibodas (Cipanas), Jawa Barat (1330 dpl) – Geger Bentang (1995 dpl), sepeda sama sekali tidak bisa digoes. Tapi, dari Geger Bentang ke Ciloto (1400 dpl), sepeda bisa dinaiki, asalkan pelan-pelan. Karena malam dan hujan, kami tidak bisa menaiki sepeda.
Mencoba jalur ini, tanggalkan pakaian sepeda, ganti dengan pakaian pendakian. Pakai sepatu tracking tinggi, jas hutan, gaiter, sarung tangan panjang, dan helm. Senter dan lampu sepeda dengan battery cadangan harus dibawa. Minuman masig-masing 3 liter, makanan utama dan makanan tambahan. Obat anti pacet wajib dibawa.
Asupan kalori perlu diperhatikan. Sekuat apapun pisik, akan kehabisan tenaga karena energi yang terkuras. “Doping” kalori terbaik adalah coklat susu. Masing-masing 2 batang coklat, sudah cukup. Satu batang untuk naik, satu batang bekal turun. Interval makan coklat, satu bagian setiap 2 jam. Dengan interval 2 jam, tubuh selalu terkondisi dengan asupan kalori rutin.
Sia-sia saja membawa sepeda. Bisa dikatakan begitu. Namun sebagai pemain sepeda mejelajah, percobaan ini sebagai latihan menghadapi situasi yang tak terduga di jalanan.
Tentu disadari, latihan pisik ada aerobik harus diperbanyak.
Bagi Hombing, Juned dan Verdi, perjalanan ke Geger Bentang ini telah menguras tenaganya karena sehari sebelumnya mereka menggoes sepeda dari Bogor lewat Tapos turun di Gunung Mas. Selasa siang, mereka harus pula menggoes sepeda dari Cibodas ke Depok.
Cibodas - Geger Bentang – Gunung Mas – Ciloto data tercatat oleh Garmin 60CSx, berjarak 12 km. Total lama perjalanan 16 jam, waktu berhenti 10 jam. Efektif bergerak hanya 6 jam.
Silahkan mencoba track ini ¡ (Rizal Bustami)










Saturday, November 28, 2009

Banjir, Banjir....

Jakarta Banjir, Sudah Sejak Kota ini Berdiri
VOC tidak ada pilihan lain untuk mendirikan bandar dagangnya, karena di Banten sudah ada Potugis. Bandar kecil yang berada di timur Banten, dibangun pelabuhan dan benteng. Bandar kecil bernama Jayakarta itu adalah berupa rawa. Karena itu, Belanda membuat banyak kanal-kanal di Batavia.
Pada zaman Daendel menjadi Gubernur Jenderal (1808-1811), Batavia yang selalu banjir telah dipikirkannya untuk mengatasinya.
Jika Jakarta masih saja banjir, ya, memang kota ini harus banjir karena tidak layak sebagai bandar besar.
Foto-foto berikut ini, memperlihatkan sejarah banjir kota Jakarta.
(Rizal Bustami)




Tuesday, November 03, 2009

Catatan Gempa Sumatera Barat


Aksi "Pepesan Kosong" Para Relawan


Dikenal dengan panggilan Dawai, anak muda Pasar Cibodas (Cipanas),Jawa Barat, ternyata masih bertahan di Sungai Geringgiang, Pariaman, Sumatera Barat. Sang Ibunda, yang mengelola warung kebutuhan sehari-hari di Cibodas, sudah gulana karena puteranya belum juga pulang, sebab teman-teman Dawai sudah angkat kaki dari lokasi bencana.


Saya telpon Dawai dari Lubuak Basuang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menanyakan keberadaan dan kondisi dirinya. Dia menanggapi, “Tenang saja Bang. Alhamdulillah saya sehat. Makan cukup, pulsa ada, tidur nyaman. Saya disini membantu tim medis.”

Bagaimana pulang nanti, tanya saya. “Gampang Bang. Datang aja ke kantor Gubernur, unjukin KTP untuk pulang,” jawabnya enteng.


Kemudian saya telepon pula Ibundanya di Cibodas, saya ceritakan keadaan Dawai. Barulah sang Bunda tenang.

Saya tulis cerita tentang si Dawai ini, karena teman-temannya sudah pulang. Secepat mereka datang, selekas itu pula mereka pulang. Berbondong-bondong berangkat, berboyong-boyong pula mereka kembali. Padahal, pekerjaan di lokasi bencana masih banyak tersisa.


Hampi 30 hari pasca gempa bumi Sumatera Barat, bantuan logistik (material, alat dan makanan) masih berdatangan. Pelayanan medis pun masih berlangsung di kantong-kantong bencana. Di kawasan Padang Alai dan Sungai Geringging, misalnya, bagian dari aktivitas yang masih berjalan. Sedangkan masyarakat yang rumahnya porak – poranda, perlu dibantu berbenah.


Peristiwa Sunami di Aceh telah membangkitkan antusiasme anak-anak muda – yang umumnya berlatar belakang pendaki gunung dan pecinta alam, medis, meski juga ada dari masyarakat umum sebagai relawan. Berduyun-duyun mereka ke Aceh untuk memberikan pertolongan, evakuasi korban hidup atau meninggal, droping logistik, membantu di dapur umum, rehabilitasi fasilitas umum, dan sebagainya.


Sebelum berangkat ke Aceh membawa Relawan Bogor, kepada Bung Boyke saya tekankan, “Boy, di Aceh akan menghadapi situasi kiamat, dimana kita belum pernah menangani mayat sebanyak itu. Mayat terbanyak kita tangani, adalah pendaki gunung yang meninggal di Gunung Salak tahun 1987. Ini situasi mental luar biasa. Supaya teman-teman tidak mual dan shock, perintahkan mereka makan di depan mayat.”


Metode ini ampuh, kawan-kawan dari Bogor tidak gamang lagi bersentuhan dengan mayat-mayat. Relawan yang berbondong-bondong datang ke Aceh, tidak sedikit yang dikembalikan ke Jakarta karena tidak siap mental.

Pada gempa Jogyakarta, relawan terorganisir dan beridentitas bermunculan, hal itu tampak dari seragam dan pelakat yang mereka pakai. Gempa di pantai selatan Jawa Barat, para relawan lebih cepat reaksi tanggap-nya. Bobolnya tanggul Situ Gintung, Banten, memperlihatkan, betapa tanggapnya mereka terhadap bencana alam. Fenomena sosial ini jadi menarik, yaitu tumbuhnya secara majemuk kepedulian sosial, tanpa memandang suku dan agama.


Antusiasme yang tidak saya temukan ketika Gunung Merapi, Jawa Tengah, ketika meletus tahun 1994, dimana satu dusun, Dusun Turgo tewas tersapu awan panas, atau Gunung Semeru meletus pada tahun yang sama. Tidak ada relawan ketika sunami di Banyuwangi tahun 90-an, Gempa Liwa, Gempa Bengkulu, sunami di Flores.

Namun demikian, perlu diingat pula, relawan bencana alam tersebut tumbuh demikian saja. Artinya, siapa saja boleh bergabung dan melakukan aksi di lapangan. Mereka ini dilengkapi dengan seragam, identitas sampai brefet, seperti brefet panjat tebing, brefet arung jeram, bereft SAR (Sear and Rescue) dan brefet-brefet lainnya. Jadilah mereka ini sebagai Rescuer. Kualifaitkah mereka itu ? Inilah yang saya ragukan.


Saya meragukannya, karena mereka itu adalah relawan dadakan. Bagaimana mereka melatih diri ? Betul-betulkah dia seorang pemanjat tebing ? Benar-banarkah ia seorang pengarung sungai ? Pernahkah mereka melakukan pendidikan dan pelatihan SAR ? Pernahkah mereka belajar dan latihan P3K ¿ Pernah dia menyentuh mayat ? Mengertikah dia organiasasi dan sistem kerja SAR ? Bagaimana dengan kesehatan dan kesiapan mental mereka ?

Pengamatan dan wawancara saya dengan beberapa relawan, tidak memberikan jawaban apapun yang diperlukan sebagai Rescuer. Diantara pertanyaan saya : (1) Kau pernah pegang mayat – yang bukan keluarga sendiri ?; (2) Apa kau mengerti presedur P3K; (3) Bisa kau merangkai jaringan listrik ? (4) Kau bisa mengendarai kendaraan roda empat ?; (5) Kau bisa memasak ? Hanya 10 persen dari mereka yang bisa mengatakan “bisa” dari salah satu pertanyaan tersebut. Selebihnya, saya katakan, “Apa pekerjaan kau di sini ?”


“Mana ada OSC dan MSC yang turun ke lapangan. Komander – komander ini kan harus stanby di Poskodal. Ini yang terjadi di Poskodal saya di Padang Pariaman. Komander – komander meninggalkan markas supaya masuk televisi. Saya malu, mereka itu ‘adik-adik saya’,” ungkap Alex Kaliwongso, 40 tahun, seorang yang malang melintang di dunia rescue.


Emblem-emblem yang menempel di seragam relawan bukan jaminan bahwa mereka betul-betul Rescuer. Ini penting diketahui masyarakat yang terkena musibah bencana alam. Mintalah pertolongan kepada anggota Basarnas, PMI, Pramuka, dokter dan pramedis.


Boyke, 50 tahun, tentulah dikenal di kalangan pendaki gunung dan SAR. Hampir semua bencana alam dan SAR dia hadiri. Boyke mengatakan dua hal. “Relawan tidak mempunyai jiwa petualang alias cengeng. Kedua, kebanyakan mereka nggak ngerti kerja di lapangan yang kacau balau.”


Boyke berada di Nagari Mangopoh, Lubuak Basuang bersama relawan Kabupaten Bogor. Relawan Bogor tersebut, disertai tim medis terdiri dari dokter, para medis dan ahli urut dari Cimande, disamping relawan dari Universitas Pakuan Bogor serta team dapur umum.


“Yang dibutuhkan bukan kwantitas relawan, tetapi kwalitasnya. Satu relawan yang baik, bisa mewakili 10 orang relawan yang hanya bisa untuk angkat-angkat kardus Indomie,” tegas Boyke.

Efektifitas dan efesiensi relawan dalam bekerja termasuk yang harus diperhatikan. Seberapa efektifkah sebuah regu relawan di lapangan ? Sebarapa efesien mobilisasi satu regu relawan di lapangan ?


Sebuah kelompok relawan dari Jakarta yang saya tanyai, berapa persen dana yang dipakai untuk menggerakkan relawan di lapangan ? Koordinator relawan tersebut menjawab, 50 persen dari dana yang mereka anggarkan adalah untuk membiayai relawan, seperti biaya makan, transportasi dan beli bensin kedaraan operasional. Relawan Bogor, menghabiskan dana untuk membiayai keperluan relawan antara 35 persen sampai 50 persen dari anggaran. Kesimpulannya adalah, hanya separuh dana yang disalurkan ke masyarakat yang terkena musibah. Besarnya biaya relawan tersebut, perlu diperhatikan. Ini namanya, “sama besar pasak dengan tiang.”


Avie “Tanah Abang” sependapat dengan sebutan petualang cengeng yang disebutkan Boyke. “Saya menghargai dan salut terhadap orang-orang macam Dawai. Teman-temannya sudah pulang, Dawai bertahan. Banyak pekerjaan yang terbengkalai, misalnya mendampingi team medis, dapur umum dan droping logistik,” ungkap Avie, 31 tahun.


Indonesia yang kerap mendapat bencana alam, karena disebakan faktor geologi, maupun cuaca, diperlukan relawan-relawan untuk bekerja memberikan bantuan serentak. Tentulah relawan yang berkuwalitas diperlukan. Relawan yang berkuwalitas, membuat pekerjaan tertangani sesuai standar prosedur dan efesiensi dari segi pengeluaran dana. Daripada berduyun-duyun mendatangi lokasi bencana, lebih baik ruang pada transportasi udara, darat dan laut diperuntukkan untuk pengiriman logistik dan peralatan. Selain itu, anggaran dapat lebih banyak disalurkan langsung kepada masyarakat yang tertimpa musibah.


Diperlukan suatu pendidikan dasar penanganan bencana alam yang memiliki standar ketrampilan dan sposedur operasional. Lembaga yang mempunyai kewenangan dan kuwalitas untuk itu adalah Basarnas. Sedangkan PMI, dapat memberikan pelatihan pra medis. Metode dan simulasi lapangan dapat dibuat, dimana menyerupai kondisi-kondisi bencana alam. Mereka yang mengikuti pelatihan, adalah wakil dari organisasi pecinta alam, kelompok rescuer, ahli medis dan pramedis, dan masyarakat umum. Mereka yang sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan, diberi sertifikat. Kelak dalam menangani korban bencana alam, mereka yang bersertifikat inilah yang diprioritaskan dan mendapat kemudahan berangkat ke lokasi bencana. Diperlukan pula latihan bersama, yang melibatkan semua unsur istansi, baik pemerintah, TNI, Polri, Pramuka, organisasi kepemudaan, pecinta alam dan masyarakat.


Latihan-latihan gabungan berkala, akan mendapatkan inteligensi rescue (kecerdasan rescue) bagi relawan, sehingga tidak terjadi aksi “pepesan kosong”. *










Sunday, October 04, 2009

Gunung-gunung Pulau Jawa Terbakar

Hutan Lereng Merapi
Hasan Sakri Ghozali (ANTARA News)
Selasa, 29 September 2009

Hutan di kawasan lereng Gunung Merapi tepatnya di Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jwa Tengah, Selasa, mengalami kebakaran.

Kepala Desa (Kades) Jrakah, Kecamatan Selo, Tumar, mengatakan, kebakaran hutan terjadi di kawasan Desa Tlogolele, Kecamatan Selo atau sebelah sisi barat Gunung Merapi, sekitar pukul 09:00 WIB.

Perubahan Iklim

Pernyataan Yudhoyono Direspon Positif di Bangkok

Minggu, 4 Oktober 2009
Denpasar (ANTARA News)
COPYRIGHT © 2009
Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai perubahan iklim di KTT G20 Pittsburgh baru-baru ini, mendapat perhatian dan reaksi positif dari para pihak dalam perundingan perubahan iklim di Bangkok.

Saturday, September 26, 2009

Mengayuh Sepeda ke Koto Gadang

Nagari yang Banyak Melahirkan Anak Bangsa

Jahya Datoek Kajo, seorang Laras Kota Gadang tahun 1894 – 1912. Laras yang kharismatik itu, memiliki pandangan tajam dan mendalam. Dia meramalkan, hanya melalui pendidikanlah kehidupan baru dapat didatangkan ke Koto Gadang. Sejak itulah semangat menuntut ilmu di Koto Gadang disemai.
Laras ini, (setingkat Camat), mendorong setiap anak lelaki dan perempuan pergi ke sekolah. Pada tahun 1900, didirikan satu sekolah. Semua muridnya laki-laki. Dua belas tahun kemudian, ditegakkan sekolah untuk anak perempuan. Anak-anak Koto Gadang yang sudah lulus sekolah, meneruskan ke sekolah lanjutan, sekalipun sekolah tersebut di Pulau Jawa. Kalau perlu menunut ilmu sampai ke Negeri Belanda. Memang benar, pada zaman itu, termasuk dominan murid-murid dari Koto Gadang belajar di Jawa dan Belanda. Sebuah badan yang dinamai studiefonds (dana pelajar) didirikan untuk mengumpulkan dana dari orang kampung guna mengirim anak-anaknya melanjutkan studi.
Sebagai dikutip dari Wikipedia, tahun 1856, dari 28 Sekolah Desa dengan masa belajar tiga tahun yang berdiri di Sumatera Barat, satu terdapat di Nagari Koto Gadang. Menurut laporan Steinmetz, sejak didirikan terdapat 416 murid sekolah desa. Dari semua murid itu, hanya 75 orang yang selesai pendidikannya. Selebihnya putus di tengah jalan, karena menikah atau karena sebab lain. Steinmetz menilai, kemajuan paling pesat tampak pada anak-anak Agam terutama dari Koto Gadang yang rajin dan cerdas.
Sebelum ada HIS (Hollands Inlandsce School) yaitu sekolah dasar 7 tahun dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda, dan MULO (Meer Uitgebredi Lager Onderwojs) ada, banyak anak Minangkabau yang sekolah di STOVIA, sekolah kedokteran di Batavia. Ada pula yang menuntut ilmu di NIAS Surabaya. Menurut data tahun 1926, dokter lulusan STOVIA asal Minang berjumlah 32 orang.
Kemujuan pendidikan diperoleh oleh anak-anak Koto gadang pada tahun 1917. Dari 2.415 penduduknya, 1.391 orang di antaranya sudah bekerja. Sebanyak 297 orang sebagai amtenar dan 31 orang menjadi dokter. Sebuah angka-angka fantastis pada zaman itu.
Anak-anak Koto Gadang menuntut ilmu rupanya bukan saja berhasil sebagaimana penganjuran Jahya Datoek Koto dalam meningkatkan kawalitas hidup mereka,namun tumbuhnya kesadaran akan harga diri sebagai bangsa. Maka bermunculanlah tokoh – tokoh yang membangkitkan semangat kebangsaan itu. Para tokoh tersebut diantaranya Haji Agus Salim, Sutan Sayhril, Rohana Kudus, Emil Salim, Syahril, dan sebagainya. Yang menarik adalah, munculnya anak Koto Gadang sebagai pejabat tinggi Pemerintahan Belanda, yaitu Mr.Dr. Mohamad Natsir, dipercayai sebagai Sekjen Gubernur Batavia. Seorang lagi tokoh Koto Gadang memimpin umat, adalah Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Beliau merupakan ahli fikih, dipercayai sebagai Imam Basar Masjidil Haram. Dibidang meliter, misalnya Rais Abin, Syaiful Sulun.
Orang Koto Gadang tetaplah sebagai manusia apa adanya. Tidak merubah diri menjadi manusia / kelompok Insclusif atau eksklusif. Mereka tidak menjadikan dirinya baron-baron lokal. Tidak sebagaimana orang Jawa ketika mendapatkan jabatan dari Pemerintahan Belanda, menjadikan diri mereka sebagai pangeran lokal, dengan panggilan raden. Barangkali itulah dasar pembawaan cara pandang orang Minang yang egaliter, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Dengan rendah hati Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan, Minangkabau telah memberikan insfirasi pembaharuan di Keraton Jogya, yaitu demokrasi. Buah pergaulan Sri Sultan, yang marasa dirinya saudara orang Minang, yaitu belajar demokrasi dari tokoh-tokoh pergerakan Minang di Jawa.
Jiwa dan bakat intelektual Orang Koto Gadang berkepanjangan, sambung – menyambung bergenerasi. Saat ini tidak sedikit yang menduduki posisi penting dan jabatan puncak di perusahaan swasta dan BUMN.
Jalan – jalan di Nagari (Desa) Koto Gadang, kita serasa di masa lalu. Hening, tiada geliat kehidupan. Tetapi dibalik “kesepian” Koto Gadang, menggolak dari ratusan anak keturunan Kota Gadang di perantauan dengan pemikiran besar dan maju. Keheningan telaga yang terus menerus mengeluarkan mata air. Begitulah manusia Koto Gadang.
Kampung yang tidak seberapa luas itu, hanya 640 Ha, berada di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, berseberangan dengan Ngarai Sianok, Bukittinggi. Desa ini terasa kecil, karena ditata bagai perkotaan masa kini. Pemukiman dengan peladangan dipisahkan. Sanitasi dan distribusi air serta penerangan sudah dibuatkan. Koto Gadang meski sudah tua, namun modern untuk zaman ini.
Bukittnggi ke Kota Gadang lebih kurang12 Km. Untuk ke sana, dari Jam Gadang, mengarah Kota Padang. Selapas dari kota Bukittinggi, mengarah ke Maninjau, berbelok ke kanan. Nanti akan ditemui papan petunjuk jalan ke Kota Gadang. Mengarah ke kanan, sampailah di Kota Gadang. Setelah selesai menyaksikan peninggalan kota tua Koto Gadang, kembali Bukittinggi, bisa melalui Ngarai Sianok. Di simpang empat Kota Gadang, ikuti jalan utama ke kiri. Nanti akan melewati rumah bersejarah, Amai Setia. Singgah dulu di Gedung Amai Setia ini. Ini kunjungan wajib ke Koto Gadang, untuk mengenal peranan ibu-ibu pada zaman dulu. Disamping mengunjungi sejarah, jangan lewatkan melihat kerajinan perak Koto Gadang yang terkenal itu. Bolehlah membeli oleh-oleh untuk dipakai, kreasi warga Kota Gadang.
Lanjutkan perjalanan. Jalan akan menurun, dan berkelok-kelok. Sampai menemukan simpang tiga, berbelok ke kanan. Telusuri jalan, sehingga menyeberangi Sungai Ngarai Sianok. Di pendakian nanti, akan ditemu mulut Goa Jepang yang tekenal itu. Pada ujung jalan ini, terdapat persimpangan empat. Ke kanan ke Panorama, lurus ke Benteng / Jam Gadang, ke kiri ke Kampuang Cino. 
Selamat menikamati perjalanan ini. Kesuluruhan jalan lingkar Bukittinggi – Kota Gadang ini lebih kurang 17 km. (Rizal Bustami)




Lihat Koto Gadang di peta yang lebih besar






HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023