Saturday, March 23, 2013

Oh... Bali !



Pemuda Adat:
Citra Kuta Bali Semakin Murahan

Jakarta, Kompas.com, Senin, 18 Maret 2013
Wakil Pemuda Desa Adat Kuta dari 13 banjar di Bali mengatakan, saat ini citra kawasan Kuta, Bali, semakin murahan di mata para wisatawan, terlihat dari perilaku para turis yang datang.

"Hal tersebut terindikasi dari kualitas turis yang berkunjung ke Kuta, yang telah mengalami penurunan, termasuk tingkah dan perilakunya," kata perwakilan Pemuda Desa Adat Kuta, I Gede Ary Astina, melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Jumat (15/3/2013).

Ary mengatakan, Pemuda Desa Adat Kuta berencana menemui Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada Sabtu (16/3/2013) untuk menyuarakan tuntutan tersebut.
Menurut Ary, sudah banyak terjadi kasus-kasus memalukan yang disebabkan oleh perilaku turis-turis yang kurang berkualitas.

Hal tersebut, menurutnya, berdampak pada pemberitaan internasional yang semakin mencitrakan daerah Kuta atau Bali sebagai sebuah daerah atau pulau di mana para turis bisa melakukan hal apa saja dengan bebas.

"Banyak sekali kasus-kasus yang disebabkan perilaku turis-turis yang kurang berkualitas, bisa dicari di internet. Ada turis yang menembaki taksi, buronan interpol kabur ke Bali, melakukan penusukan dengan senjata tajam, hingga melakukan hubungan seksual di pura," kata Ary.

Dia menekankan bahwa Pemuda Desa Adat Kuta meminta pemerintah untuk segera membuat sebuah sistem filterisasi terhadap wisatawan yang masuk ke Kuta, misalnya dengan memperketat syarat-syarat bagi para turis yang akan berkunjung ke Kuta atau Bali.

"Agar citra Bali khususnya Kuta tidak terlalu murahan di mata turis. Karena ada kekhawatiran akan terjadi kasus-kasus rasialisme," ujar dia.

Selain itu, kata dia, Pemuda Desa Adat Kuta juga meminta pemerintah secara serius dan intensif melakukan edukasi terhadap warga lokal agar tidak menjadi "budak pariwisata". Hal itu, menurut mereka, bisa dimulai dari kurikulum sekolah-sekolah pariwisata agar Bali melahirkan tenaga kerja pariwisata yang cerdas, berani bersaing, dan tidak minder melihat warga asing.

"Harus digarisbawahi bahwa turis yang lebih memerlukan Bali, bukan Bali yang harus mengemis kepada turis. Dengan harga diri yang terjaga, rasa hormat dan apresiasi akan datang dengan sendirinya. Mental budak harus dihapuskan," kata dia.

"Besok, Sabtu, Gubernur Bali membuat acara Simakrama di Wantilan DPRD Renon. Simakrama itu semacam pertemuan dengan warga. Kami ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk bicara dengan gubernur," kata dia.

Pada kesempatan itu Pemuda Desa Adat Kuta juga akan meminta Gubernur Bali Made Mangku Pastika melakukan pemberdayaan bisnis lokal, mengubah pola pikir aparat hukum, mengatur ketertiban umum, serta pembatasan kendaraan yang telah menyebabkan masalah lalu lintas di Bali.
Sumber : ANT, Editor : Jodhi Yudono

Thursday, February 28, 2013

Trans Papua Bagian II : Polisi yang menjaga perbatasan seorang diri...

Ipda Ma'ruf

Ipda Ma’ruf, Sang Penjaga Perbatasan

Seorang anggota polisi berpangkat Ipda menyambut dengan ramah. Namun dibalik keramahannya itu tak tersingkirkan sikap ketegasan. “Siap, Pak!,” sering terucap darinya.  Meski murah senyum, dan banyak bicara, sikap waspada selalu pada dirinya. Dengan rendah hati, Ipda  Ma’ruf Suroto meminta siapa saja untuk mengisi tamu, meminta nomor telepon dan berfoto. Siapa Ipda Ma’ruf ? Tapi, di Merauke, Papua dia sangat terkenal. 

Barangkali menjadi pertanyaan semua rakyat Indonesia, mana sih yang disebut dengan Sabang  sampai Merauke itu ? Dimana gerangan tanda letaknya di bumi? 

Sekitar 70 km dalam hitungan GPS ke Tenggara Merauke terdapat sebuah tugu dinamai Tugu Kembar Sabang - Merauke. Tugu ini ditandai dalam jarak 5200 km dari Tugu Nol Kilometer Sabang. Satu tugu berada di Sabang, tugu kembarannya berada di Merauke. Kedua tugu tersebut bukanlah batas sesungguhnya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), melainkan batas simbolis saja. Batas sesungguhnya di belahan timur, salah satu patok perbatasan adanya di Distrik Sota, sekitar 10 km ke timur Tugu Kembar Merauke.
Tugu Kembar Merauke sendiri berada di persimpangan jalan. Kearah Utara ke Boven Digoel, ke Timur ke Sota.

Tuesday, February 19, 2013

Pemain Sepeda Inggris Tewas di Thailand...

Pasangan Berkeliling Dunia dengan Sepeda, Tewas di Thailand
Oleh Yahoo! News
Photo Yahoo!News
Sepasang warga negara Inggris yang sedang melakukan perjalanan keliling dunia dengan sepeda tewas karena kecelakaan di Thailand.

Peter Root dan Mary Thompson, yang mengabadikan perjalanan mereka dalam sebuah blog, meninggal Rabu pekan lalu saat tertabrak truk pick-up di sebuah provinsi di timur Bangkok, menurut kepolisian Thailand, Senin kemarin.

Pasangan tersebut yang sama-sama berusia 34 tahun berasal dari Guernsey di Kepulauan Channel. Mereka meninggalkan Inggris pada Juli 2011 dan telah bersepeda melewati Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, dan Cina.

Perjalanan tersebut adalah pengalaman sekali seumur hidup buat pasangan yang bertemu saat bersama-sama menjadi mahasiswa seni. Mereka menabung dan merencanakan perjalanan tersebut selama enam tahun, kata ayah Peter, Jerry Root pada Associated Press pada sebuah wawancara.

"Keduanya adalah inspirasi," kata Jerry Root. "Mereka tak hanya ngomong, tapi mereka melakukan sesuatu. Saya sangat bangga dengan mereka."

Menurut Root, Peter dan Mary adalah pesepeda berpengalaman yang menyadari risiko dan kesulitan dari perjalanan bersepeda dalam waktu lama.

"Mereka berkemah dengan bebas. Kesedihan saya berkurang ketika saya memikirkan betapa mereka bahagia dengan satu sama lain. Mereka menjalani kehidupan yang mereka inginkan. Kehidupan yang sangat bahagia, sangat bermakna."

Peter dan Mary sering mengirimkan foto dan detil perjalanan mereka lewat situs Two on Four Wheels. Mereka juga punya banyak follower di Twitter dan Facebook yang mengikuti perjalanan mereka serta menikmati petualangan duo ini sampai ke bagian paling terpencil di Asia Tengah.

Video yang mereka unggah ke situs menampilkan mereka berkemah di gurun pasir, bersepeda di perbukitan, berhenti untuk berenang di sungai dan danau, serta berpacu di tengah badai salju berat. Mereka juga bersepeda melewati situasi politik gentik di tengah konflik bersenjata di Tajikistan.

Ada juga video yang menunjukkan Mary Thompson mengalami luka di lututnya setelah tabrakan dengan truk. Kulit mereka terlihat coklat, wajah keduanya tampak bahagia dan santai -- meski agak berantakan karena angin -- dalam video-video tersebut. Tampak jelas bahwa mereka sangat menikmati kehidupan di jalanan.

"Mereka tak pernah membicarakan perjalanan ini akan berakhir di suatu tempat, atau kapan akan selesai," kata saudara laki-laki Mary, Ben Thompson. "Mereka tak punya rencana tetap, hanya gambaran kasar. Mereka suka bertemu orang-orang. Mereka sering mengajak orang ke api unggun untuk berbagi cerita, bir, dan makanan."

Setelah Asia Tenggara, pasangan ini berencana menuju Selandia Baru untuk beristirahat sebentar.
Menurut polisi Thailand Letkol Supachai Luangsukcharoen pada hari Senin, para penyelidik menemukan jenazah mereka, dua sepeda, dan barang-barang mereka tersebar di pinggir jalan, begitu pula dengan truk pickup yang ada di antara pepohonan.

Pengemudi truk, Worapong Sangkhawat, 25, juga terluka berat dalam kecelakaan tersebut. Kata Supachai, truk yang dikendarai Sangkhawat menabrak dua pesepeda tersebut saat ia sedang mengambil topi yang terjatuh dari lantai mobil.

Si pengemudi dilepaskan dengan jaminan dan kini menghadapi tuntutan menyebabkan kematian karena mengendarai mobil secara berbahaya. Hukuman maksimalnya adalah 10 tahun di penjara.
Jenazah pasangan ini disimpan di unit penyelamatan di Chachoengsao, 30 km timur Bangkok, sebelum dipulangkan ke Inggris. (Yahoo! News)

Tuesday, February 05, 2013

Trans Papua Bagian I : Trans Papua dalam Foto

Rute Trans Papua
Menempuh perjalanan mencapai 600 km dari Merauke ke Boven Digoel serta mengunjungi perbatasan Indonesia dengan Papua New Guinea. (Rizal Bustami)

Kota Merauke

Tugu Kembar Sabang - Merauke di Sota

Jembatan sementara di Trans Papua

Tanda Batas Sota
Trans Papua

Pengisian bahan bakar

Jembatan sementara di ruas Trans Papua

Jalan baru menuju Mindiptana
Distrik Mindiptana

Jalan menuju perbatasan Kombut

Jembatan rubuh menuju perbatasan Kombut

Belajar Bahasa Inggris di Kombut
Pos Panjagaan Perbatasan TNI di Kombut

Anak-anak dengan lingkungan yang baik

Penduduk Papua dengan penghasilan yang baik

Karet
Moda angkutan antar kota

Kendaraan tua yang bermasalah...






Lihat Trans Papua Ruas Merauke-Tana Merah di peta yang lebih besar

Sunday, February 03, 2013

Trans Papua

Trans Papua
Perjalanan Merauke ke Tana Merah, Bivun Digoel.
Jalan berasapal baik. Beberapa jembatan sedang dikerjakan.



Lihat Trans Papua Ruas Merauke-Tana Merah di peta yang lebih besar

Wednesday, January 02, 2013

Nusantara itu Warisan Tuhan...!

MISTERI “OPHIR” DI SUMATERA


Oleh : Rizal Bustami

Peta Ptolemyus / Sumber CBN Polona
Dalam peta Sumatera yang dikeluarkan oleh Nelles Maps yang dapat dibeli di toko-toko buku, di Provinsi Sumatera Barat, tertera “Mt.Ophir”. Teks Ophir dicetak dalam kurung buka. Diantara “Mt. Ophir” terdapat “Mt. Talaman” dan “Mt. Pasaman”. 

Kata “Ophir” bukanlah bahasa Indonesia atau bahasa Melayu dan bukan pula bahasa Sanskerta. Kata Ophir berasal dari bahasa Ibrani tua, yang dikaitkan dengan emas atau perak. Dalam kisah-kisah Salomon, pada mitologi Yahudi, Nabi Sulaiman dalam Islam, kata “Ophir” mengacu kepada Nabi agama Yahudi, Islam dan Nasrani itu. Lalu, mengapa pula kata “Ophir” muncul di Sumatera ?



Mt Ophir di Sumatera / Sumber Nelles Maps
Syahdan ! Menurut mitologi Yunani, Timur Jauh adalah ujung dunia, dimana Adam dan Hawa diturunkan ke bumi. Diyakini pula, Asia Tenggara (Nusantara) adalah pusat chryse (emas) dan argse (perak). Dalam kitab Perjanjian Lama disebutkan, Nabi Sulaiman pernah mencari ophir (emas) ke wilayah timur. Menurut kepercayaan dulu, bahwa tanah tempat Sulaiman mendarat tersebut adalah Auerea Chersensus (Golden Peninsula Malaya) dan tepatnya di Ceylon dan Sumatera. Inilah pangkal muasal haluan kapal diarahkan ke matahari terbit.


Monday, November 26, 2012

Bersepeda di Papua...!



BERSEPEDA DI LEMBAH BALIEM
“Sejak 37 tahun lalu saya berniat bersepeda di Wamena, tapi Anda sudah kesana. Selamat Bung Rizal,” komentar Don Hasman, fotografer kondang Indonesia.
Don Hasman telah menjelajahi kawasan Lembah Baliem, dan bahkan mengayuh sepeda sampai ke Kalimanjaro, Afrika. Tapi, keinginannya bersepeda di Lembah Baliem, di Daratan Tinggi Jayawijaya belum kesampaian. Dia antusias memberi semangat untuk saya.
Belum pernah saya bermain sepeda segugup ini, baik sendiri maupun beramai-ramai. Ketika saya merangkit sepeda, setelah diturunkan dari pesawat, saya bagai hendak naik ke panggung. Mungkin karena lokasinya berada jauh, dan disuatu kawasan yang paling ekskotis di Indonesia, yaitu di Lembah Baliem, Jayawijaya, Papua dan mungkin karena saya obsesive. Dan saya akan ke Wosilimo, menghadiri acara Festival Lembah Baliem - yang berada 20 km dari Wamena.
Matahari condong dari belakang saya ketika sepeda mulai di gowes dari Jalan Trikora, Wamena. Udara dingin pegunungan Papua itu, cukup terasa, apalagi menyongsong udara ketika bersepeda.
Pagi-pagi keluar dari kota Wamena jalan raya sibuk sekali. Kendaraan angkutan umum, sepeda motor, para pelajar berjalan kaki dan bersepeda, serta masyarakat meramaikan jalan raya. Terasa sekali kesibukan pagi. Sepanjang jalan menjelang waktu masuk sekolah, para pelajar Sekolah Dasar sebagian besar tanpa alas kaki, bergegas-gegas menuju sekolahnya. “Selama pagi adik-adik,” sapa saya.
“Selamat pagi. Dah,dah…,” balas mereka.

Monday, November 19, 2012

Wisata Wamena


Sudut Kota Wamena
   Wamena, satu kata saja : Mahal !
Banyak orang gamang mendatangi Wamena. Gamang karena issu keamanan dan gamang sarana yang ada disana. Pemberitaan tentang Papua menyangkut keamanan, menyurutkan niat orang kesana. Kurangnya informasi terkini tentang Wamena dan sekitarnya, membuat orang enggan datang. Padahal kawasan Lembah Baliem tersebut eksotis, baik alam maupun manusianya. Yang pasti di Wamena, mahal !

“Bapak saya antar ke rumah bapak,” kata Refael Doga.
Refael Doga (46), anak tertua dari istri pertama Obahorok almarhum yang legendaris, yang menggantikan kedudukan Ayahnya sebagai Kepada Suku Pamuga.

Suku Pamuga merupakan suku induk dari empat suku dibawahnya, yaitu Suku Hilpoh, Suku Wilel, Suku Itiman dan Walilo. Keempat suku ini, dengan jumlah penduduk sekitar 4000 jiwa, tersebar di dua desa yaitu Desa Pabuma dan Desa Suroba, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya. Suku Pamuga berada di Desa Pabuma. Distrik merupakan penamaan kecamatan di Papua.
Rafael Doga dan saya
 Desa Pebuma, lebih kurang 10 km dari kota Wamena, berada di tengah-tengah hamparan lembah yang luas, sebagai bagian dari Lembah Baliem. Saya berada di desa ini, untuk mengunjungi kediaman dan keluarga Obahorok.

Benar saja, Refael berganti baju, dan siap mengantarkan saya ke Wamena. Sampai di kota Wamena, kepala suku tersebut saya ajak makan di rumah makan Padang. Dia ragu apa yang harus ia makan. Saya memesan ayam goreng, dia pun ikut. Ketika saya tawarkan apakah mau minum kopi atau teh manis, dia pun  menyerahkannya kepada saya. Akhirnya saya pesankan kopi untuknya.
Wamena pada malam hari

“Saya antar bapak ke rumah bapak,” tegasnya kembali. Selesai makan, kami berjalan kaki ke hotel tempat saya tinggal di Jalan Trikora.

Hari sudah menjelang sore. Untuk mendapatkan angkutan umum ke kampungnya, Refael saya suruh pulang dan diberi ongkos transportasi. Saya katakan kepadanya, besok pagi saya akan kembali ke Jayapura. Kami bersalaman, dan berpisah.

Pagi keesokan harinya, ketika saya sedang berkemas hendak ke Bandara Wamena, Refael sudah berada di beranda hotel. “Oh, Bapak,” ujar saya kaget,  dengan menyalaminya, dan  mempersilahkannya masuk ke kamar.
Buah pinang
 “Bapak, saya akan ke bandara. Bapak silahkan pulang,” ujar saya.
“O, saya antar Bapak ke bandara,” jawabnya.

Kami ke Bandara Wamena menggunakan jasa becak. Di Bandara saya mencari tiket extra flight, karena banyak penumpang yang hendak ke Jayapura.

“Bapak silahkan pulang, biar saya saja disini,” ujar saya kepadanya.

“Tidak Bapak. Saya jaga sepeda bapak sampai bapak masuk,” jawabnya.

Saya menyerah. Setelah berjam-jam menantikan kepastian tiket, akhirnya saya check in untuk boarding.  Refael saya salami dan peluk, kami berpisah.
Buah Merah
 Refael Doga, merupkan tipikal seorang kepala suku yang menjaga tamu-tamunya. Betullah kata Agus Doga, saudara sepupu Refael – yang mengatakan kepada saya, bahwa saya akan diantar sendiri oleh Bapak Kepala, panggilan kepala suku. “Kalo bukan Bapak Kepala yang antar Bapak, saya yang antar,” terang Agus.

Manusia Lembah Baliem...!

Manusia Lembah Baliem, Wamena, Papua...!























Foto by Rizal Bustami

HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023