Wednesday, August 25, 2010

Kaliadem Track


TRACK DI LAVA

Bagaimana rasanya bermain sepeda di lava, bekas muntahan letusan gunung berapi ? Lava Tour Kaliadem, DIY menyajikan suatu fenomena alam yang memacu adrenalin di atas sepeda.

Bebatuan lepas, kerikil dan debu terhampar luas di Kaliadem.  Gesekan ban sepeda menimbulkan bunyi yang khas serta memercikkan kerikil dan debu. Inilah track sepeda alami, yang patut dicoba oleh pemain sepeda.

Pada tanggal 6 – 8 Agustus 2010, di Kaliadem diadakan acara Festival Petualang Nusantara. FPN yang digagas oleh Aji Racmat ini, merupakan ajang pertemuan Civitas Alam Bebas dalam satu event dengan berbagai acara. Ada acara Search and Rescue, Pengenalan Ular, Fotographi, Jurnalistik, Caving, Rafting, Mountain Bike, Survival, dan Pameran Foto SAR dan Bencana Alam. Hadir pula petualang senior yang kondang, seperti Herry Macan, Don Hasman, Bongkeng dan Rizal Bustami.

Acara Mountain Bike (Sepeda Gunung) sendiri diikuti 60 peserta dari Yogyakarta, Solo, Jakarta dan dari daerah lainya. Rizal Bustami sendiri, dengan temannya (team Cantigi), membawa 4 unit sepeda dari Jakarta.

Kaliadem di ketinggian 1100 dpl, dimana muntahan lava Gunung Merapi membuat heboh tahun 2005 silam. Hamparan batuan lepas dan pasir mencapai jalan desa dan bungker yang pernah memakan kroban jiwa. Ngarai menganga membelah pengunungan gunung sampai ke kawah.

Puncak Gunung Merapi yang seakan berada di hadapan mata, berwarna abu-abu berkilau-kilau disinari matahari. Di pucuk gunung asap putih tiada henti-hentinya membumbung. Pesona Gunung Merapi, salah satu gunung yang paling aktif di Pulau Jawa.

Selain bermain di lava, dapat pula menikmati pedesaan. Pedesaan khas Pulau Jawa yang sunyi dan kalem. Di jalan – jalan desa dan perkebunan warga, kita terasa di suatu alam yang unik.

Jalan dan gang yang membatasi rumah penduduk tertata rapi. Rumah-rumah berpekarangan luas, diteduhi pepohonan dan rumpun-rumpun bambu. Jalan – jalan tanah disapu, tiada sampah sehelai pun mengotorinya. Jalan – jalan tanah sampai berlumut, menandakan lingkungannya yang terawat dengan baik.

Bagi pemain sepeda Jakarta dan motropolitan, pengalaman di perkampungan di seputar Yogyakarta, akan membawa suatu atmosfir baru dan kenangan batin.

Menuju ke Kaliadem, melalui Kaliurang. Dari sini menuju Cangkringan. Selepas Kaliurang banyak rumah yang disewakan untuk menginap dan banyak pula home stay. Untuk sampai ke Cangkringan, tidak ada kendaraan umum. Kendaraan umumnya hanya sampai di Kaliurang. Cobalah ! (Rizal Bustami)






Lihat Peta Lebih Besar

Tuesday, August 24, 2010

FESITIVAL PETUALANG NUSANTARA



Warna Warni Petualang Muda

Sebuah perhelatan akbar para petualang Indonesia digelar, dengan nama Festival Petualang Nusantara di Kaliadem, DIY dari tanggal 6 sampai dengan 8 Agustus 2010. Acara ini digagas oleh Aji Rachmat, setelah sukses menggelar acara sejenis dengan nama Jambore Jejak Petualang atau Jambore Petualang.

Di Kaliadem, permukaan bumi masih terkelupas. Terkelupas oleh aliran lava Gunung Merapi yang meletus tahun 2005. Pada tahun 2005 kawasan ini pernah menjadi berita besar karena aliran lava menewaskan seorang relawan yang terjebak di bungker.

Kaliadem, di ketinggian 1130 dpl, bersisian dengan Kaliurang. Dari kawah Gunung Merapi, terdapat aliran lava yang dalam, menganga membelah kerucut bumi. Ini kawasan sudah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana Merapi, namun dari sisi ini pula aktivitas Gunung Merapi bagus dipandang. Bila cuaca terang, kawah pucuk Merapi yang merekah jelas kelihatan. Asap putih selalu keluar dari kawahnya. Kawasan ini kini dijadikan sebagai obyek wisata, yaitu wisata lava.

Lidah aliran lava Gunung Merapi sudah mencapai pemukiman masyarakat, termasuk ke kawasan rumah Mbah Marijan. Karena bersisian dengan pemukiman, maka dibuatkan bungker untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari resiko letusan Gunung Merapi.

Pada tanggal 6 sampai 7 Agustus, kawasan ini berubah penampilan, bersolek. Lalu lalang orang-orang, umbul-umbul dan pengeras suara. Kawasan Kaliadem diwarnai warna merah kaus anak muda yang lalu lalang.

Kurang lebih 400 peserta dan panitya meramaikan kawasan ini. Inilah perhelatan para petualang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri.

Berbagai aktivitas alam bebas disuguhkan. Peserta tinggal memilih. Ada Pengenalan Ular, Sepeda Gunung/Mountain Bike, SAR, Survival, Fotographi, Caving, Rafting, Pameran Foto SAR dan Bencana Alam, dll.

Ditampilkan sebagai Pembicara atau Nara Sumber, mereka-merka yang sudah terkenal dan mengabdikan diri di kegiatan alam bebas. Mereka itu adalah Herry Macan yang mengisi Materi SAR, Don Hasman untuk bidang Fotographi, Bongkeng dibidang survival dan Rizal Bustami untuk Sesi Mountain Bike dan Sesi Relawan. Rizal Bustami juga menyumbangkan foto-foto liputannya mengenai bencana alam dan SAR untuk dipamerkan.

Agar suasana hidup dan romantis, setiap malam disuguhkan musik hidup, dari group musik jalanan Yogyakarta. Disinilah para petualang muda mengekspresikan keriangannya, yang diimbuhi musik ragge.

Selain berisi materi petualangan, FPN memberikan pelayanan kesehatan gratis untuk masyarakat dan penanaman pohon.

“Sebagai wujud perhatian kaum muda terhadap masyarakat,” kata Aji Rachmad tentang agenda pengobatan gratis tersebut.

Herry Macan dalam materi yang disampaikan, mengatakan betapa pentingnya pemahaman organisasi SAR dan Struktur kerjanya. “Banyak yang tidak mengerti organisasi SAR. Datang aja ke lokasi, tapi nggak tau tata kerjanya,” terang Herry Macan.

Kang Herry pada kesempatan itu, juga menghimbau khusus kepada kaum wanita untuk meningkatkan partisipasinya dalam SAR. “Dapur harus ada yang urus. Ini urusan lambung kiri,” dengan ungkapan khasnya.

Kehadiran Sang Maestro Fotographi di Kaliadem mengundang minat yang besar bagi perserta. Don Hasman yang sudah berusia 70 tahun, masih gesit dan seperti tidak kehabisan energi. Don, tidak lelah-lelahnya memberikan pemahaman fotographi dan pengetahuannya tentang perjalanan. Dia tidak saja berbicara mengenai fotographi, tetapi juga sampai soal sepatu dan keril. “Keril yang baik seperti ini, penyusunan sisinya harus ada hitungannya agar tidak menciderai badan,” terang Don memperagakan.

“Jangan sepelekan sepatu. Sepatu yang menjadi tumpuan kita berjalan,” sambungnya.

Pada Sesi Rizal Bustami, ketika menyampaikan soal Relawan, ia mengatakan, betapa pentingnya mengembangkan kemampuan diri dalam keahlian khusus agar berguna di lapangan. Banyak relawan ditemui Rizal Bustami di lapangan, tidak memiliki keahlian khusus yang berguna dan dibutuhkan. “Jauh – jauh datang sebagai relawan hanya untuk membungkus beras dan gula, ya percuma dong,” Rizal Bustami menyampikan risalahnya.

Pada pelepasan Mountain Bike, Rizal Bustami memberikan pembekalan. Pembekalan yang disampaikan ialah tentang gizi. Gizi dalam kegiatan yang menguras tenaga, kurang diperhatikan. Apalagi bermain sepeda, memerlukan kalori  yang banyak. “Seringan apapun sepeda, bila manusia yang menggerakkannya, tidak memiliki kalori yang cukup, ya capek !,” kata Rizal Bustami.

Gizi yang dibutuhkan, setera dengan 2 potong daging dan 2 butir telor serta karbohidrad yang cukup. Asupan gizi ini, umumnya terabaikan. Padahal dari asupan untuk tubuh itulah tenaga muncul.

Peserta Mountain Bike mencapai 50 sepeda. Rizal Bustami bersama teamnya membawa 4 sepeda dari Jakarta.

Pembukaan acara diadakan di lava Tour Kaliadem. Dimeriahkan dengan suguhan kesenian setempat, yaitu Kuda Lumping. Dihadiri Kepala Desa, dan aparat kecamatan.

Aji Rachmat pada sambutanya mengatakan, “Acara ini, merupakan ajang pertemuan antara petualang muda dengan petualang tua. Dengan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Nusantara.”

Rizal Bustami yang diminta panitya menyampaikan sambutan mewakili Nara Sumber, menceritakan apa itu yang dimaksud dengan Nusantara. “Nusantara yaitu suatu kawasan kepulauan yang meliputi Indonesia, Fliphina, Malaysia, Thailand dan Pasific Barat. Fakta bahwa kawasan ini ada, bisa ditelusuri sampai ke zaman Mesotamia, dan Mesir Kuno dengan bukti – bukti sejarah berupa Kapur Barus, Kemenyan dan Gambir.”

“Indonesia adalah warisan kolonial, sedangkan Nusantara warisan Tuhan. Marilah kita jaga kawasan ini, semangat Nusantara dan Perdamaian kawasan,” Rizal Bustami, menutup sambutannya. (RB)


Saturday, August 21, 2010

Novel : Catatan Usang Seorang Juru Tulis (Bagian III)

KANCIA, BUKAN PELANDUK
  
Selesai belajar dan mengaji murid di surau sudah mencari posisi tidur. Anak-anak perempuan sudah memisahkan diri dari anak laki-laki ke balik tabir sekram tinggi. Tapi diantaranya masih ada juga yang bermain catur harimau, catur raja, dan catur sembilan, disamping berteka-teki dan mendongeng sebelum tertidur.

“Magek, kesinilah !,” ajak si Guru Tuo. Magek menghampiri Guru Tuo, dan Guru Tuo berbalik dan melangkah menuju sebuah bilik, kamar yang bersebelahan dengan ruang Inyiak Manan.

Sesampai di kamar yang agak sempit itu si Guru Tuo menanyakan teman-teman Magek yang serombongan permisi buang hajat sewaktu masih berlangsungnya pembelajaran mengaji tadi. Magek mulai terkaget, dengan terbata-bata menyebutkan kawan-kawannya tadi.
“Ayo, panggillah kawan-kawan kamu itu !,” perintah Guru Tuo.

Magek pusing, cemas apa gerangan yang akan terjadi, apakah Guru Tuo sudah tau kelakuannya tadi, lalu bagaimana caranya mengatakan kepada kawan-kawan karena dia sendirilah yang punya ide. Hukumannya pasti berat. Kalau kawan dapat lecutan rotan satu kali, paling tidak dia menerima dua atau tiga kali. Magek menemui temannya satu persatu dan berbisik 



Friday, July 30, 2010

Catata Usang Seorang Juru Tulis (Bagain II)







"Maryam Chivalry"
Gadis Berkerudung


SURAU di Kamang dewasa itu tidak obahnya seperti suaru-surau lainnya di Minangkabau, sebagai centra pengalohan keagamaan, pemikiran dan sosial. Potensi perguruan di surau terletak pada hubungan organisasinya yang luas, melampaui batas-batas nagari, dan tidak terikat pada struktur pemerintahan nagari, laras dan pemerintah penjajahan. Murid muridnya memiliki mobilitas yang tinggi dan banyak berteman dengan anggota-anggota tarekat di seluruh daratan Minangkabau.


Bagi Inyiak Manan dan suraunya di kampung Budi, keberlangsungan dan merupakan keberlanjutan dari si’arnya tarekat Stariyyah dari pendahulunya yang bersuarau di kampung Bansa, yaitu Tuangku Nan Renceh. Tuanku Nan Renceh adalah jembatan untuk bangkitnya semangat anti penjajah yang dikhawatirkan ketika itu, karena sifat penjajah Belanda yang terkenal seperti “Belanda meminta tanah”. Kalau kekuasaannya semakin mengakar, maka persoalan pemurtadaan orang Minangkabau dengan upaya pengkristenannya akan berlangsung pula. Inilah akar kebangsaan yang berbasis agama.


Uniknya Surau Haji Abdul Manan itu termasyur bukan saja karena pendidikan Islam yang diajarkannya, melainkan juga karena di surau itu para murid dibekali dengan berbagai kepandaian duniawi, seperti keterampilan ilmu persilatan, permainan pedang, berkuda, ilmu meringankan tubuh, ilmu menghilang dan kebal senjata tajam pun ada. Jauh hari sebelum kepulangan Haji Abdul Manan dari rantaunya di Sungai Ujong Malaya, Haji Musa kakak Haji Abdul Manan merupakan ulama yang berpengaruh pula di Kamang. Dengan keberadaan Haji Abdul manan maka Haji Musa pun berperan aktif mendukung segala aktifitas adiknya itu.


Pada suatu hari datanglah seorang perempuan muda yang elok rupa, cerdas pembawaannya dan fasih bicaranya serta sopan tutur katanya ke surau di kampung Budi  menemui H. Abdul Manan. Gadis itu datang dari kampung Hanguih Bonjol.  




Tuesday, July 20, 2010

Catatan Usang Seorang Juru Tulis (Bagian I)

Maryam Chivalry


Larek


DALAM perjalananku ke  rantau Tanah Semenanjung, tepatnya aku mensunyikan diri di Saremban,  namun sebelumnya saya coba untuk bersembunyi di Sungai Ujong jua adanya, sebagaimana yang disarankan sang inspiratorku Haji Abdul Manan guna melengkapi tarikh yang aku susun setelah kemelut Kamang Berdarah 1908 itu.


Pada ‘larekku’, kepergian meninggalkan kampung ke negeri orang karena sesuatu hal yang tidak memungkinkan lagi hidup dikampung halaman. Di rantau inilah semua kisah Perang Kamang 1908 aku lengkapi dengan berbagai kejadian, termasuk beberapa kebijakan pemerintah Belanda dan pengaruhnya di Mianangkabau, baik sebelum dan sesudah perang Kamang tersebut. Dan sedikit pengetahuanku tentang kolonialisasi, imperealisasi ataupun imperium bangsa Barat di tanah leluhur kita telah turut pula mengisi relung-relung ‘larek’-ku.


Larek dari kampung halaman bermula seusai Kamang Berdarah pada tengah malam 15 Juni 1908 dan 16 Juni 1908 di Mangopoh yang telah menamatkan riwayat perjuangan para Srikandi. Seusai Kamang dan Mangopoh berkuah darah, selama lima hari aku bersembunyi di hutan Bukit Batu Bajak dipinggir kampungku dan bertepian dengan negeri Suliki dan Suayan Sungai Balantiak di Luhak Limo Puluah Koto. 






Catatan Usang Seorang Juru Tulis (Pengantar)



Maryam Chilvaldry


Pengantar Redaksi
Trides, anak dari seorang Legiun Veteran RI, lahir di Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat  tahun 1965. Trides seorang sarjana pendidikan, mantan Kepala Sekolah Dasar, dan peminat sejarah. Di Bukittinggi dia juga dikenal sebagai budayawan dan wartawan setempat yang produktif menulis. “Maryam Chilvaldry”, sebuah nama yang pemberian orangtuanya empat puluh tahun lalu, merupakan satu bagian “Trilogi Catatan Usang Sang Juru Tulis”. Cerita tentang Perang Kamang tahun 1926, menentang pemberlakuan Belasting oleh Pemerintah Belanda 1908

Novel sejarah ini terdiri dari 25 bab. Guna meringankan pembaca dari pembukaan halaman blog, Redaksi (Cantigi) akan membagi-baginya lagi secara porposional – dengan tidak mengurangi isinya. Novel karangan Trides ini akan dimuat secara bersambung.

Redaksi merasa perlu memuat Pengantar oleh Trides, sebab musabab dia mengarang novel ini dan usaha – usaha yang ia lakukan merangkai sejarah dalam bentuk fiksi. 

Selamat membaca,


Saturday, July 17, 2010

Catatan Zulfikar

Suara Suara Anak Rantau
“MEDAN BAPANEH” DAN PERLUASAN KOTA BUKIKTINGGI

Pengantar dari Redaksi
Zulfikar, seorang asal Bukittinggi, Sumatera Barat, sorang ahli Tata Ruang 
yang tinggal di rantau, mengajak semua pihak untuk duduk 
bersama memikirkan pembenahan kota Bukittinggi secara 
sungguh-sugguh. Bukan berdasarkan tujuan politik dan PAD. 

 Latar Belakang Masalah
Bukit Tinggi sebaiknya tidak ditulis demikian tapi Bukiktinggi karena itulah generik dari nama kota tersebut.  Ini merupakan langkah awal untuk 'Baliak Banagari' (bukan Baliak Ka Nagari).  Kota Bukiktinggi sejak dulu dikenal sebagai 'Koto Rang Agam'.  Substansi dari historis kalimat tersebut seyogyanya menjadi acuan bagi masyarakat yang berada dalam satu kesatuan geo-sosio-eko-kultural 'Agam' dalam membangun wilayah ini ke depan. Cukup banyak sejarah orang Agam yang dapat dijadikan titik ikat (benchmark) dalam membangun wilayah 'Agam' yang pusat pertumbuhan/ pelayanannya adalah Bukiktinggi.



Friday, July 09, 2010

Pemandangan...

Pondok Abah Ukat

“Bang, bang, ada pondok di atas. Ada asapnya. Kayaknya ada yang masak, tuh,” teriak Juned.

Saat itu saya berteduh di sebuah pondok, yang atapnya telah bolong. Kami sedang menelusuri track untuk sepeda yang melintasi Cibodas ke Puncak Pas.

Cerek berwarna hitam sudah berkerak
Tergantung disebuah kawat
Kayu dibawahnya tengah membara
Asap putih melayang-layang pelan
Teh diseduh dari cerek yang menggegolak airnya
Siraman teh hangat-hangat kuku mengalir di kerongkongan
Di tungku Abah Ukat kami menghangatkan tubuh, di pinggir hutan TamanNasional Gede Pangrango
Pondok Abah Ukat....


Abah ukat penduduk Dusun Geger Betang, Desa Cimacan, KecamatanPacet, Cianjur.
Di pinggir hutan Taman Nasioanl Gede Pangrango pasa ketinggain 1430 dpl ia membuka ladang. Disinilah ia menghabiskan hari-harinya. “Kecuali hari Jumat saya tidak ke ladang. Waktunya pendek,” ungkap Abah Ukat, 50 tahun, anak 4 putra ini.
(Rizal Bustami)









Sunday, July 04, 2010

Mountain Bike di Bogor

LATIHAN Mountain Bike (MTB) DI BOGOR

Villa Bali merupakan track latihan rutin Mountain Bike (sepeda gunung) yang bagus di kawasan Bogor. Jarak tidak terlalu panjang, namun cukup menguras tenaga di tanjakan Jalan Raya Gunung Geulis. Track ini lengkap. Perkampungan, jalan raya dan off road. Bahkan, track ini saya gunakan latihan malam hari untuk mempertajam motorik dan rasa gamang.

Salah satu track Sepeda Gunung di Bogor yang lazim dipakai sebagai latihan atau pemanasan yaitu apa dinamakan dengan Villa Bali. Villa Bali sebagai nama jenerik untuk track ini.

Untuk ke sana, tujuan pertama adalah sisi kiri atau sisi kanan jalan tol Ciawi. Ambil saja dimulai dari Tugu Kujang, arahkan sepeda ke Bogor Raya atau melalui Jalan Raya Tanah Baru. Kedua arah ini akan menyatu dala  satu jalan. Sampai di kolong jembatan tol, berbelok ke kiri. Ada dua jalan, sisi kiri tol atau sisi kanan tol. Kedua jalan mengarah ke satu tujuan yaitu Sungai Ciliung Katulampa.

Sampai di kolong jembatan Ciawi (Katulampa), berbelok ke kiri. Akan ditempuh jalan pekampungan yang teduh dan turun naik. Awal-awal jalan ini, akan ditemua persimpangan di sebelah kiri. Persimpangan ini akan menjadi jalan kelaur nantinya.

Tibalah di Pasir Angin, di ruas jalan Bukit Pelangi. Ke kiri Jalan Raya Puncak  atau ke Gadog. Menyeberang, jalan ke Curuk Panjang. Arahkan sepeda ke kiri.

Jalan Raya Bukit Pelangi beraspal mulus. Tak jauh akan dihadang oleh tanjakan SS yang tak memberi ampun. Sampai di persimpangan ke Bukit Pelangi – Gunung Geulis, istirahatlah disini, di sebuah warung dengan nama jenerik, Warung Bembeng. Titik ini merupakan  peak dari perjalanan.

Selanjutnya ambil arah ke Gunung Geulis Golf. Jalan berkelok-kelok, sepeda bisa meluncur semaunya. Tiba di gerbang Bukit Pelangi Golf, berbelok ke kiri. Susuri saja jalan ini, sampai menemukan persimpangan. Ambil jalan lurus, melewati villa di kiri kanan jalan.

Selanjutnya nikmati perjalan off road sampai menemukan persimpangan pertama tadi. Belok ke kanan, sampailah di kolong jembatan tol Katulampa. Dari sini, terserah mau kemana. Hendak ke Pintu Air Katu Lampa, lurus saja. Mau ke Gadog, seberangi jembatan besi. Hendak pulang, pilih salah satu jalan di sisi jalan tol.

Cobalah, selamat latihan.... (Rizal Bustami)

Panjang Track 30 KM
Lama Tempuh 2 jam
Elevasi Awal 220 dpl
Elevasi Tertinggi 585 dpl



HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023