Tuesday, August 24, 2010

FESITIVAL PETUALANG NUSANTARA



Warna Warni Petualang Muda

Sebuah perhelatan akbar para petualang Indonesia digelar, dengan nama Festival Petualang Nusantara di Kaliadem, DIY dari tanggal 6 sampai dengan 8 Agustus 2010. Acara ini digagas oleh Aji Rachmat, setelah sukses menggelar acara sejenis dengan nama Jambore Jejak Petualang atau Jambore Petualang.

Di Kaliadem, permukaan bumi masih terkelupas. Terkelupas oleh aliran lava Gunung Merapi yang meletus tahun 2005. Pada tahun 2005 kawasan ini pernah menjadi berita besar karena aliran lava menewaskan seorang relawan yang terjebak di bungker.

Kaliadem, di ketinggian 1130 dpl, bersisian dengan Kaliurang. Dari kawah Gunung Merapi, terdapat aliran lava yang dalam, menganga membelah kerucut bumi. Ini kawasan sudah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana Merapi, namun dari sisi ini pula aktivitas Gunung Merapi bagus dipandang. Bila cuaca terang, kawah pucuk Merapi yang merekah jelas kelihatan. Asap putih selalu keluar dari kawahnya. Kawasan ini kini dijadikan sebagai obyek wisata, yaitu wisata lava.

Lidah aliran lava Gunung Merapi sudah mencapai pemukiman masyarakat, termasuk ke kawasan rumah Mbah Marijan. Karena bersisian dengan pemukiman, maka dibuatkan bungker untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari resiko letusan Gunung Merapi.

Pada tanggal 6 sampai 7 Agustus, kawasan ini berubah penampilan, bersolek. Lalu lalang orang-orang, umbul-umbul dan pengeras suara. Kawasan Kaliadem diwarnai warna merah kaus anak muda yang lalu lalang.

Kurang lebih 400 peserta dan panitya meramaikan kawasan ini. Inilah perhelatan para petualang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri.

Berbagai aktivitas alam bebas disuguhkan. Peserta tinggal memilih. Ada Pengenalan Ular, Sepeda Gunung/Mountain Bike, SAR, Survival, Fotographi, Caving, Rafting, Pameran Foto SAR dan Bencana Alam, dll.

Ditampilkan sebagai Pembicara atau Nara Sumber, mereka-merka yang sudah terkenal dan mengabdikan diri di kegiatan alam bebas. Mereka itu adalah Herry Macan yang mengisi Materi SAR, Don Hasman untuk bidang Fotographi, Bongkeng dibidang survival dan Rizal Bustami untuk Sesi Mountain Bike dan Sesi Relawan. Rizal Bustami juga menyumbangkan foto-foto liputannya mengenai bencana alam dan SAR untuk dipamerkan.

Agar suasana hidup dan romantis, setiap malam disuguhkan musik hidup, dari group musik jalanan Yogyakarta. Disinilah para petualang muda mengekspresikan keriangannya, yang diimbuhi musik ragge.

Selain berisi materi petualangan, FPN memberikan pelayanan kesehatan gratis untuk masyarakat dan penanaman pohon.

“Sebagai wujud perhatian kaum muda terhadap masyarakat,” kata Aji Rachmad tentang agenda pengobatan gratis tersebut.

Herry Macan dalam materi yang disampaikan, mengatakan betapa pentingnya pemahaman organisasi SAR dan Struktur kerjanya. “Banyak yang tidak mengerti organisasi SAR. Datang aja ke lokasi, tapi nggak tau tata kerjanya,” terang Herry Macan.

Kang Herry pada kesempatan itu, juga menghimbau khusus kepada kaum wanita untuk meningkatkan partisipasinya dalam SAR. “Dapur harus ada yang urus. Ini urusan lambung kiri,” dengan ungkapan khasnya.

Kehadiran Sang Maestro Fotographi di Kaliadem mengundang minat yang besar bagi perserta. Don Hasman yang sudah berusia 70 tahun, masih gesit dan seperti tidak kehabisan energi. Don, tidak lelah-lelahnya memberikan pemahaman fotographi dan pengetahuannya tentang perjalanan. Dia tidak saja berbicara mengenai fotographi, tetapi juga sampai soal sepatu dan keril. “Keril yang baik seperti ini, penyusunan sisinya harus ada hitungannya agar tidak menciderai badan,” terang Don memperagakan.

“Jangan sepelekan sepatu. Sepatu yang menjadi tumpuan kita berjalan,” sambungnya.

Pada Sesi Rizal Bustami, ketika menyampaikan soal Relawan, ia mengatakan, betapa pentingnya mengembangkan kemampuan diri dalam keahlian khusus agar berguna di lapangan. Banyak relawan ditemui Rizal Bustami di lapangan, tidak memiliki keahlian khusus yang berguna dan dibutuhkan. “Jauh – jauh datang sebagai relawan hanya untuk membungkus beras dan gula, ya percuma dong,” Rizal Bustami menyampikan risalahnya.

Pada pelepasan Mountain Bike, Rizal Bustami memberikan pembekalan. Pembekalan yang disampaikan ialah tentang gizi. Gizi dalam kegiatan yang menguras tenaga, kurang diperhatikan. Apalagi bermain sepeda, memerlukan kalori  yang banyak. “Seringan apapun sepeda, bila manusia yang menggerakkannya, tidak memiliki kalori yang cukup, ya capek !,” kata Rizal Bustami.

Gizi yang dibutuhkan, setera dengan 2 potong daging dan 2 butir telor serta karbohidrad yang cukup. Asupan gizi ini, umumnya terabaikan. Padahal dari asupan untuk tubuh itulah tenaga muncul.

Peserta Mountain Bike mencapai 50 sepeda. Rizal Bustami bersama teamnya membawa 4 sepeda dari Jakarta.

Pembukaan acara diadakan di lava Tour Kaliadem. Dimeriahkan dengan suguhan kesenian setempat, yaitu Kuda Lumping. Dihadiri Kepala Desa, dan aparat kecamatan.

Aji Rachmat pada sambutanya mengatakan, “Acara ini, merupakan ajang pertemuan antara petualang muda dengan petualang tua. Dengan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Nusantara.”

Rizal Bustami yang diminta panitya menyampaikan sambutan mewakili Nara Sumber, menceritakan apa itu yang dimaksud dengan Nusantara. “Nusantara yaitu suatu kawasan kepulauan yang meliputi Indonesia, Fliphina, Malaysia, Thailand dan Pasific Barat. Fakta bahwa kawasan ini ada, bisa ditelusuri sampai ke zaman Mesotamia, dan Mesir Kuno dengan bukti – bukti sejarah berupa Kapur Barus, Kemenyan dan Gambir.”

“Indonesia adalah warisan kolonial, sedangkan Nusantara warisan Tuhan. Marilah kita jaga kawasan ini, semangat Nusantara dan Perdamaian kawasan,” Rizal Bustami, menutup sambutannya. (RB)


Saturday, August 21, 2010

Novel : Catatan Usang Seorang Juru Tulis (Bagian III)

KANCIA, BUKAN PELANDUK
  
Selesai belajar dan mengaji murid di surau sudah mencari posisi tidur. Anak-anak perempuan sudah memisahkan diri dari anak laki-laki ke balik tabir sekram tinggi. Tapi diantaranya masih ada juga yang bermain catur harimau, catur raja, dan catur sembilan, disamping berteka-teki dan mendongeng sebelum tertidur.

“Magek, kesinilah !,” ajak si Guru Tuo. Magek menghampiri Guru Tuo, dan Guru Tuo berbalik dan melangkah menuju sebuah bilik, kamar yang bersebelahan dengan ruang Inyiak Manan.

Sesampai di kamar yang agak sempit itu si Guru Tuo menanyakan teman-teman Magek yang serombongan permisi buang hajat sewaktu masih berlangsungnya pembelajaran mengaji tadi. Magek mulai terkaget, dengan terbata-bata menyebutkan kawan-kawannya tadi.
“Ayo, panggillah kawan-kawan kamu itu !,” perintah Guru Tuo.

Magek pusing, cemas apa gerangan yang akan terjadi, apakah Guru Tuo sudah tau kelakuannya tadi, lalu bagaimana caranya mengatakan kepada kawan-kawan karena dia sendirilah yang punya ide. Hukumannya pasti berat. Kalau kawan dapat lecutan rotan satu kali, paling tidak dia menerima dua atau tiga kali. Magek menemui temannya satu persatu dan berbisik 



Friday, July 30, 2010

Catata Usang Seorang Juru Tulis (Bagain II)







"Maryam Chivalry"
Gadis Berkerudung


SURAU di Kamang dewasa itu tidak obahnya seperti suaru-surau lainnya di Minangkabau, sebagai centra pengalohan keagamaan, pemikiran dan sosial. Potensi perguruan di surau terletak pada hubungan organisasinya yang luas, melampaui batas-batas nagari, dan tidak terikat pada struktur pemerintahan nagari, laras dan pemerintah penjajahan. Murid muridnya memiliki mobilitas yang tinggi dan banyak berteman dengan anggota-anggota tarekat di seluruh daratan Minangkabau.


Bagi Inyiak Manan dan suraunya di kampung Budi, keberlangsungan dan merupakan keberlanjutan dari si’arnya tarekat Stariyyah dari pendahulunya yang bersuarau di kampung Bansa, yaitu Tuangku Nan Renceh. Tuanku Nan Renceh adalah jembatan untuk bangkitnya semangat anti penjajah yang dikhawatirkan ketika itu, karena sifat penjajah Belanda yang terkenal seperti “Belanda meminta tanah”. Kalau kekuasaannya semakin mengakar, maka persoalan pemurtadaan orang Minangkabau dengan upaya pengkristenannya akan berlangsung pula. Inilah akar kebangsaan yang berbasis agama.


Uniknya Surau Haji Abdul Manan itu termasyur bukan saja karena pendidikan Islam yang diajarkannya, melainkan juga karena di surau itu para murid dibekali dengan berbagai kepandaian duniawi, seperti keterampilan ilmu persilatan, permainan pedang, berkuda, ilmu meringankan tubuh, ilmu menghilang dan kebal senjata tajam pun ada. Jauh hari sebelum kepulangan Haji Abdul Manan dari rantaunya di Sungai Ujong Malaya, Haji Musa kakak Haji Abdul Manan merupakan ulama yang berpengaruh pula di Kamang. Dengan keberadaan Haji Abdul manan maka Haji Musa pun berperan aktif mendukung segala aktifitas adiknya itu.


Pada suatu hari datanglah seorang perempuan muda yang elok rupa, cerdas pembawaannya dan fasih bicaranya serta sopan tutur katanya ke surau di kampung Budi  menemui H. Abdul Manan. Gadis itu datang dari kampung Hanguih Bonjol.  




Tuesday, July 20, 2010

Catatan Usang Seorang Juru Tulis (Bagian I)

Maryam Chivalry


Larek


DALAM perjalananku ke  rantau Tanah Semenanjung, tepatnya aku mensunyikan diri di Saremban,  namun sebelumnya saya coba untuk bersembunyi di Sungai Ujong jua adanya, sebagaimana yang disarankan sang inspiratorku Haji Abdul Manan guna melengkapi tarikh yang aku susun setelah kemelut Kamang Berdarah 1908 itu.


Pada ‘larekku’, kepergian meninggalkan kampung ke negeri orang karena sesuatu hal yang tidak memungkinkan lagi hidup dikampung halaman. Di rantau inilah semua kisah Perang Kamang 1908 aku lengkapi dengan berbagai kejadian, termasuk beberapa kebijakan pemerintah Belanda dan pengaruhnya di Mianangkabau, baik sebelum dan sesudah perang Kamang tersebut. Dan sedikit pengetahuanku tentang kolonialisasi, imperealisasi ataupun imperium bangsa Barat di tanah leluhur kita telah turut pula mengisi relung-relung ‘larek’-ku.


Larek dari kampung halaman bermula seusai Kamang Berdarah pada tengah malam 15 Juni 1908 dan 16 Juni 1908 di Mangopoh yang telah menamatkan riwayat perjuangan para Srikandi. Seusai Kamang dan Mangopoh berkuah darah, selama lima hari aku bersembunyi di hutan Bukit Batu Bajak dipinggir kampungku dan bertepian dengan negeri Suliki dan Suayan Sungai Balantiak di Luhak Limo Puluah Koto. 






Catatan Usang Seorang Juru Tulis (Pengantar)



Maryam Chilvaldry


Pengantar Redaksi
Trides, anak dari seorang Legiun Veteran RI, lahir di Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat  tahun 1965. Trides seorang sarjana pendidikan, mantan Kepala Sekolah Dasar, dan peminat sejarah. Di Bukittinggi dia juga dikenal sebagai budayawan dan wartawan setempat yang produktif menulis. “Maryam Chilvaldry”, sebuah nama yang pemberian orangtuanya empat puluh tahun lalu, merupakan satu bagian “Trilogi Catatan Usang Sang Juru Tulis”. Cerita tentang Perang Kamang tahun 1926, menentang pemberlakuan Belasting oleh Pemerintah Belanda 1908

Novel sejarah ini terdiri dari 25 bab. Guna meringankan pembaca dari pembukaan halaman blog, Redaksi (Cantigi) akan membagi-baginya lagi secara porposional – dengan tidak mengurangi isinya. Novel karangan Trides ini akan dimuat secara bersambung.

Redaksi merasa perlu memuat Pengantar oleh Trides, sebab musabab dia mengarang novel ini dan usaha – usaha yang ia lakukan merangkai sejarah dalam bentuk fiksi. 

Selamat membaca,


Saturday, July 17, 2010

Catatan Zulfikar

Suara Suara Anak Rantau
“MEDAN BAPANEH” DAN PERLUASAN KOTA BUKIKTINGGI

Pengantar dari Redaksi
Zulfikar, seorang asal Bukittinggi, Sumatera Barat, sorang ahli Tata Ruang 
yang tinggal di rantau, mengajak semua pihak untuk duduk 
bersama memikirkan pembenahan kota Bukittinggi secara 
sungguh-sugguh. Bukan berdasarkan tujuan politik dan PAD. 

 Latar Belakang Masalah
Bukit Tinggi sebaiknya tidak ditulis demikian tapi Bukiktinggi karena itulah generik dari nama kota tersebut.  Ini merupakan langkah awal untuk 'Baliak Banagari' (bukan Baliak Ka Nagari).  Kota Bukiktinggi sejak dulu dikenal sebagai 'Koto Rang Agam'.  Substansi dari historis kalimat tersebut seyogyanya menjadi acuan bagi masyarakat yang berada dalam satu kesatuan geo-sosio-eko-kultural 'Agam' dalam membangun wilayah ini ke depan. Cukup banyak sejarah orang Agam yang dapat dijadikan titik ikat (benchmark) dalam membangun wilayah 'Agam' yang pusat pertumbuhan/ pelayanannya adalah Bukiktinggi.



Friday, July 09, 2010

Pemandangan...

Pondok Abah Ukat

“Bang, bang, ada pondok di atas. Ada asapnya. Kayaknya ada yang masak, tuh,” teriak Juned.

Saat itu saya berteduh di sebuah pondok, yang atapnya telah bolong. Kami sedang menelusuri track untuk sepeda yang melintasi Cibodas ke Puncak Pas.

Cerek berwarna hitam sudah berkerak
Tergantung disebuah kawat
Kayu dibawahnya tengah membara
Asap putih melayang-layang pelan
Teh diseduh dari cerek yang menggegolak airnya
Siraman teh hangat-hangat kuku mengalir di kerongkongan
Di tungku Abah Ukat kami menghangatkan tubuh, di pinggir hutan TamanNasional Gede Pangrango
Pondok Abah Ukat....


Abah ukat penduduk Dusun Geger Betang, Desa Cimacan, KecamatanPacet, Cianjur.
Di pinggir hutan Taman Nasioanl Gede Pangrango pasa ketinggain 1430 dpl ia membuka ladang. Disinilah ia menghabiskan hari-harinya. “Kecuali hari Jumat saya tidak ke ladang. Waktunya pendek,” ungkap Abah Ukat, 50 tahun, anak 4 putra ini.
(Rizal Bustami)









Sunday, July 04, 2010

Mountain Bike di Bogor

LATIHAN Mountain Bike (MTB) DI BOGOR

Villa Bali merupakan track latihan rutin Mountain Bike (sepeda gunung) yang bagus di kawasan Bogor. Jarak tidak terlalu panjang, namun cukup menguras tenaga di tanjakan Jalan Raya Gunung Geulis. Track ini lengkap. Perkampungan, jalan raya dan off road. Bahkan, track ini saya gunakan latihan malam hari untuk mempertajam motorik dan rasa gamang.

Salah satu track Sepeda Gunung di Bogor yang lazim dipakai sebagai latihan atau pemanasan yaitu apa dinamakan dengan Villa Bali. Villa Bali sebagai nama jenerik untuk track ini.

Untuk ke sana, tujuan pertama adalah sisi kiri atau sisi kanan jalan tol Ciawi. Ambil saja dimulai dari Tugu Kujang, arahkan sepeda ke Bogor Raya atau melalui Jalan Raya Tanah Baru. Kedua arah ini akan menyatu dala  satu jalan. Sampai di kolong jembatan tol, berbelok ke kiri. Ada dua jalan, sisi kiri tol atau sisi kanan tol. Kedua jalan mengarah ke satu tujuan yaitu Sungai Ciliung Katulampa.

Sampai di kolong jembatan Ciawi (Katulampa), berbelok ke kiri. Akan ditempuh jalan pekampungan yang teduh dan turun naik. Awal-awal jalan ini, akan ditemua persimpangan di sebelah kiri. Persimpangan ini akan menjadi jalan kelaur nantinya.

Tibalah di Pasir Angin, di ruas jalan Bukit Pelangi. Ke kiri Jalan Raya Puncak  atau ke Gadog. Menyeberang, jalan ke Curuk Panjang. Arahkan sepeda ke kiri.

Jalan Raya Bukit Pelangi beraspal mulus. Tak jauh akan dihadang oleh tanjakan SS yang tak memberi ampun. Sampai di persimpangan ke Bukit Pelangi – Gunung Geulis, istirahatlah disini, di sebuah warung dengan nama jenerik, Warung Bembeng. Titik ini merupakan  peak dari perjalanan.

Selanjutnya ambil arah ke Gunung Geulis Golf. Jalan berkelok-kelok, sepeda bisa meluncur semaunya. Tiba di gerbang Bukit Pelangi Golf, berbelok ke kiri. Susuri saja jalan ini, sampai menemukan persimpangan. Ambil jalan lurus, melewati villa di kiri kanan jalan.

Selanjutnya nikmati perjalan off road sampai menemukan persimpangan pertama tadi. Belok ke kanan, sampailah di kolong jembatan tol Katulampa. Dari sini, terserah mau kemana. Hendak ke Pintu Air Katu Lampa, lurus saja. Mau ke Gadog, seberangi jembatan besi. Hendak pulang, pilih salah satu jalan di sisi jalan tol.

Cobalah, selamat latihan.... (Rizal Bustami)

Panjang Track 30 KM
Lama Tempuh 2 jam
Elevasi Awal 220 dpl
Elevasi Tertinggi 585 dpl



Thursday, June 10, 2010

Bersepeda di Sumatera Barat



Jajaki Gunung Marapi, Sumatera Barat
Mountain Bike di Lasi


Sumatera Barat, boleh dikatakan sebagai arena mengayuh sepeda yang ideal di Indonesia, bahkan di Asia. Baik mengayuh di jalan raya, maupun off road. Jalan raya dan jalan pedesaan beraspal hotmix, melewati ruang terbuka selalu dengan latar belakang Gunung Marapi – Singgalang dan Bukit Barisan. Sedangkan untuk off road, tinggal pilih saja. Tidak salah lagi Sumatara Barat mendapat sambutan oleh atlet sepeda dunia untuk menguji kemampuannya, dengan mengikuti Tour de Singkarak. Udaranya yang sejuk, menambah kenikmatan.

Wednesday, May 26, 2010

Catatan Zulfikar


BUKIKTINGGI YANG CARUT MARUT, 
RATAP SEORANG RERANTAU

Oleh : Zulfikar*

Pengantar
Siapapun di Nusantara ini bila melihat gonjong Jam Gadang di televisi, maka semua pemirsa pasti akan menangkap pesan yang sangat jelas, itu adalah Sumatera Barat.  Jadi Jam Gadang bukanlah sekedar land mark dari kota Bukiktinggi (kami tidak menggunakan kata “Bukittinggi”) tapi merupakan ciri khas Sumatera Barat, ciri visual yang menjadi milik dan kebanggaan khalayak Minang
.

Kekaguman pemirsa atau masyarakat di luar Sumatera Barat tidak saja hanya karena Jam Gadang tapi juga karena lansekap Kota Bukiktinggi yang begitu memikat, Ngarai Sianok yang spektakuler dan tiga gunung yang  indah, Marapi, Sago dan Singgalang. Hampir semua pendatang mengatakan, bila belum ke Bukiktinggi itu artinya belum ke Sumatera Barat.  Disinilah orang bisa menikmati lansekap kota yang cantik sambil mencicipi berbagai penganan dan nasi kapau yang lezat ditingkah semilir angin berhawa pegunungan.  Tentunya kita tidak mengabaikan keindahan Lembah Anai, danau Maninjau dan Singkarak, Lembah Arau, kelezatan Sate Mak Syukur ataupun keagungan Istana Pagaruyuang.

Tuesday, May 18, 2010

Sejarah Islam di Tiongkok (Bagian V,Tamat)


Islam di China, Bagian V (Selesai)
TURKISTAN TIMUR DAN TIONGKOK
Oleh : Rizal Bustami
Pengantar :
Pertengahan tahun 2009 terjadi kekacauan di Sinkiang (Xinkiang), sebuah perovinsi di China bagian utara. Meliter China harus melepaskan tembakan, sehingga korban nyawa berjatuhan dipihak warga Sinkiang. Tapi ini cerita lama yang terulang, karena perseteruan yang sudah berlangsung berabad-abad. Artikel dengan title “Islam di China” ini, akan dimuat secara bersambung dengan tujuan agar kaum Muslim Indonesia dan masyarakat Tionghoa mendapatkan suatu asupan sejarah, bahwa Muslim di China berperan penting dalam tata kehidupan sosial, kebudayaan, keagamaan, ilmu pengetahuan, melitar dan politik. Artikel ini merupakan saduran dari buku “Islam di Tiongkok”, karangan M.Rafiq Khan, diterbitkan oleh Nasional Academy New Delhi. Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Sulaimnsjah dengan Penerbit Tinta Mas tahun 1967. Buku ini disusun ditengah-tengah pergolakan di China, masa awal Komunis mengambil kekuasaan dari Kaum Nasionalis. Dan, sumber-sumber yang dipakai, naskah aktual pada masa itu. 
 
Provinsi Sinkiang juga dikenal sebagai Turkistan Tiongkok, akan tetapi penduduk daerah ini bahkan sampai sekarang memilih nama yang sangat mereka sukai “Turkistan Timur”. Ini yang membedakan dengan Turkistan Rusia, yang terletak disebelah barat. Sinkiang adalah nama yang diberikan oleh orang-orang China, dan unsur Nasionals.


HARGA BENELLI MOTOBI 152 TH 2023